"Ke Komodo yuk. Saya ingin ke Komodo lagi." kata Reinier saat kami sedang menyusun rencana mau ke mana lagi selain ke Bali sebelum vakansi kemarin. Ke Komodo... tentu saja saya tidak akan menolak.
Taman Nasional Komodo meliputi pulau-pulau yang berada di antara pulau Sumbawa dan pulau Flores. Daerah Komodo bukanlah sebuah daerah yang asing bagi saya. Selama 5 tahun terakhir, sebelum saya pindah ke sini, pekerjaan saya adalah bolak-balik antara Bali-Komodo-Bali. Reinier sendiri sudah pernah mengunjungi daerah Komodo ini beberapa tahun yang lalu. Sehingga perjalanan kami ke Komodo kemarin bisa disebut perjalanan nostalgia

Awalnya saya ingin bergabung dengan divetrip-nya Ambasi, kapal dimana saya bekerja dulu, ke Komodo. Sayangnya, jadwal kami tidak sejalan. Untung ada teman saya di Labuanbajo, pak Condo, yang jadwal tripnya sejalan dengan waktu liburan kami dan masih ada ruangan untuk kami. Jadilah kami bergabung dengan kapal pak Condo ini, selama 7 hari.

Penerbangan dari Denpasar ke Labuanbajo kami tempuh sekitar 1,5 jam dengan memakai pesawat propeler dari GTAir.
Kami tiba di Labuanbajo kira-kira pukul 12.30 siang, dijemput oleh pak Condo dan langsung diantar ke pelabuhan. Di sana kami bergabung dengan 6 peserta lainnya dari Perancis. Semuanya divers. Kami bertolak dari pelabuhan kira-kira 3 jam kemudian.
Ada rasa aneh juga bagi saya. Biasanya saya yang menjadi "tuan rumah". Kali ini saya yang menjadi tamu. Ada rasa yang hilang di sini....
Loh Buaya,
Keesokan paginya, kami tiba di Loh Buaya, base ranger di pulau Rinca. Di sini kami membeli tiket masuk ke taman nasional (termasuk diving), yang berlaku untuk 3 hari, dan juga membayar tiket untuk kamera dan camcorder. Sekaligus juga di Loh Buaya kami bisa melihat Komodo di alamnya.
Selain Loh Buaya di pulau Rinca, ada juga ranger base di Loh Liang, pulau Komodo. Di Loh Liang juga pengunjung bisa berjalan mengelilingi rute-rute tertentu untuk melihat komodo di alam bebas.
Saya lebih sering mengunjungi Loh Liang, base di pulau Komodo dari pada di Loh Buaya. Terakhir kali saya mengunjungi Loh Buaya sudah 5 tahun yang lalu.

Kami dipandu oleh seorang ranger menyusuri rute pendek (kira-kira 5km) di sekitar Loh Buaya. Ada juga rute 8km. Kami sempat melihat 3 ekor komodo di sekitar pondok-pondok di base. Kami juga beruntung, di perjalanan sempat menemukan seekor komodo yang sedang berjemur matahari dan seekor komodo muda di savana.
Jarang sekali bisa menemukan komodo muda di darat/tanah, biasanya mereka bersembunyi di dahan-dahan pohon yang cukup lebat dan tinggi. Komodo adalah hewan kanibal. Mereka juga memangsa komodo yang masih muda. Itu sebabnya komodo muda cenderung bersembunyi di atas pohon.

Komodo
Komodo kelihatan berat, malas dan lambat. Namun mereka juga bisa sangat gesit, berlari dengan cepat dan menjadi sangat agresif. Selain dari gigitan dari rahang yang berat itu, air liur komodo juga merupakan senjata pembunuh. Pada air liur itu ditemukan lebih dari 50 bakteri yang berbahaya. Jika ada hewan yang terlepas dari sergapan komodo namun sempat tergigit, maka dapat dipastikan hewan tersebut akan mati perlahan-lahan karena infeksi yang parah.
Menurut ranger yang memandu kami, ada sekitar 1200 ekor komodo di pulau Rinca, berdasarkan sensus terakhir beberapa tahun yang lalu.
Ah ya, saya belum pernah melihat komodo berenang secara langsung. Tapi saya pernah melihat foto komodo yang sedang berenang.

Komodo muda dan kerbau hutan
Selain komodo, kami juga melihat kerbau hutan dan monyet. Jika dibandingkan dengan pulau Komodo, walaupun sama-sama kering, ragam hewan-hewan selain komodo berbeda.
Menurut pengalaman saya, kami termasuk pengunjung yang beruntung sekali.
Bagaimanapun, tidak ada garansi bahwa pengunjung pasti akan melihat komodo. Sebab kadang-kadang hewan ini bersembunyi di tempat-tempat teduh yang sulit dijangkau. Kadang-kadang tidak satu komodo pun yang dilihat pengunjung selama perjalanan.
Landscape yang terbentang di sekeliling area ini, walaupun kering dan panas, sangat indah. Musim hujan hanya sebentar menyentuh area Komodo. Di sisi bagian tinggi dari salah satu bukit di rute yang kami lewati, kami bisa menyaksikan birunya air teluk tempat kapal berlabuh di kejauhan. Waah.. kombinasi yang indah sekali dari biru air laut dan coklat keemasan rumput kering.

Landscape di Rinca
Dalam perjalanan kembali ke boat, kami juga bertemu dengan sekelompok mahasiswa UGM yang sedang sibuk merentangkan kwadran. Rupanya mereka sedang mengerjakan penelitian mereka tentang pengaruh aktifitas manusia (termasuk kami-kami yang sedang berjalan ini) terhadap penyebaran komodo. (Mudah-mudahan saya 'gak salah tangkap ya mas.)


2 comments:
pak condo tuh kalo ndak salah sohibnya mas boen deh. ntar deh mau ngerumpi ama mas boen.
aku kapan yah, ke komodo. huhuhu...pengen banget deh :(
dear mbak sin, kapan hari si marco mau ke komodo dan baca2 di lonely planet. katanya sekarang jadi mahal krn prau harus sewa or charter dan lain2 sebab yg kl ke komodo jadi mahal. padahal marco saat itu dah puengen banget sampe gak jadi jg selain karena si nienek yang gak isok ditinggal, jadi batal deh kesana. kl boleh tau, perjalanan mbak sin ke komodo incl. hotel, transport, diving itu brapa ya untuk 3 malam itu ? ini untuk kira2 biaya gitu mbak sin. eh kl ini gak keberatan yach. eh ini email adresku : traa04@zonnet.nl tapi perasaanku kok pasti mahalnya.. hehhehehe... thanks sebelumnya..
Post a Comment