Friday, December 12, 2008

KEMBALIIIII....

Pfeeeuuuuhhhhh... Phew
Akhirnya....
Kelar juga satu per satu tugas yang ada.
Semuanya tepat waktu, sesuai jadwal yang sudah tersusun.
Sekarang masih tersisa 2 tugas lagi.
Lega... lega...

Begitulah.
Lagi sibuk-sibuknya dengan beberapa tugas akhir dari sekolah yang jalannya serba pararel, plus sibuk menggarap 2 proyek pribadi, ehhhh tiba-tiba dapet sekaligus 3 order dari sebuah perusahaan!!! Waaahhh.. rejeki pantang ditolak dong, apalagi semua angka-angka yang saya ajukan disetujui.
Termasuk juga, salah satu dari order itu adalah tantangan banget. Jadi fotografer para model yang sedang melenggang-lenggok di atas catwalk untuk sebuah perusahaan textil Belanda yang memegang pasar Afrika. Pengalaman baru, sekaligus awal melanglang buana sebagai seorang profesional di negeri orang, di dunia yang tadinya hanya sekedar hobi.

Nah dengan setumpuk kerjaan itu yang deadlinenya berurut-urut, disambi dengan pekerjaan harian, pontang-panting deh garapnya. Sampai-sampai buat sutriis saja tidak sempat bow.
Mana saya ini tipe kalong lagi, aktif justru saat di malam hari. Kalau siang ini otak jadi rada-rada seret, beda kalo malam, langsung zeeeenngggg... liciiinnn...
Saat masih di bangku kuliah dan masa-masa single sih 'gak ada masalah, begadang ngerjain tugas sampai pagi sudah biasa. Nah, sekarang... dengan Reinier di samping, mana bisa saya begadang lama-lama?

Apalagi untuk tugas dari sekolah yang menuntut kreativitas. Bah kalau moodnya belum muncul gimana donk.

Mana ada satu dari tugas sekolah adalah tugas kelompok. Doh paling sebel deh urusan tugas kelompok begini, semuanya jadi serba tergantung. Belum lagi kalau ada dari anggota team yang nyebelin. Doh, tahan lidah, bekukan lidah, jangan sampai keluarkan kata-kata ajaib nan judes kalau sudah kesel, yang penting fokus untuk hasil akhir. Dan.. tralalala... selesai itu tugas, sebuah brosure mode untuk sebuah merk produk, dengan nilai dan komplimen bagi hasil kerja kami dari dosen. Pfeeeuuuhhh....

Dan, semua orderan selesai tepat pada saatnya dan pelanggan juga puas. Termasuk satu proyek pribadi juga selesai memuaskan tepat waktunya. Roll

Sekarang tinggal satu tugas akhir dari sekolah yang sudah hampir kelar dan menyelesaikan sisa proyek pribadi yang terkesampingkan sejenak, kalah prioritas dengan tugas yang lain.

Makasih banget buat teman-teman yang kemaren-kemaren sudah sempat mampir dan juga meninggalkan pesan di sini. Maaf ya sudah capek-capek ke sini tapi belum ada apdetan.
But now, I'm back!!! Bounce

Monday, November 10, 2008

SIBUUUUKKK!!!

Maap.. maap... para pengunjung, belom sempat apdet. Juga belom sempat jalan-jalan mengintip blog para tetangga baik dekat maupun jauh nih.
Mohon maklum, yang punya blog lagi kelabakan dengan kerjaannya yang terus menumpuk, mana deadline berderet-deret mengalir menjemput.

Permisiiii.....

Sunday, October 26, 2008

Een Boswandeling

Jalan-jalan di hutan, apalagi pada musim gugur begini, memang mengasyikan. Walaupun suhu udara yang mulai bikin gemetar, namun alam menyajikan warna-warna yang memukau. Daun-daun yang memerah, kuning dan coklat, kering, berguguran, menyelimuti permukaan tanah. Indah. Sayang sekali, keindahan ini hanya sebentar. Apalagi jika ditambah turun hujan.. wah.. boro-boro indah, daun-daunnya menjadi cepat lapuk, yang ada hanya kesan kotor.

Ah, untung juga keindahan seperti ini hanya bertahan sebentar saja. Bayangkan, jika keindahan seperti ini bertahan lama, maka kita akan lupa menikmatinya. Dan keindahan ini hanya menjadi biasa-biasa saja, bahkan terabaikan.

Mumpung cuaca sedang bersahabat, tapi berhubung kedua-duanya sedang malas untuk keluar jauh-jauh dari rumah, maka selesai makan siang Sabtu kemarin, segera kami berdua meluncur ke Oirschotse heide yang terletak tidak seberapa jauh dari rumah.

Jalan-jalan berdua, menikmati udara segar namun dingin, memanjakan mata dengan warna-warna indah, sambil sesekali bidik sana bidik sini. Apalagi musim begini adalah waktu munculnya beragam jamur.

Hanya empat jenis yang sempat kami temukan. Jangan tanya ini jamur apa, saya tidak mengenal jenis jamur, yang saya tahu hanya jamur kering, jamur kuping, jamur kancing, jamur kalengan, sup jamur, otak-otak jamur, mie ayam jamur dan keputihan (hussh!!!:P)


Saat membidik jamur-jamur ini, angan saya melayang, membayangkan cerita tentang kabouters, bangsa liliput, yang rupanya seperti orang kerdil dalam cerita Putri Salju, yang oleh beberapa orang di Eropa ini dipercaya sungguh keberadaannya.

Ah, menjelma menjadi gadis kecil sebentar, bermain dengan fantasi, membayangkan aktifitas mahluk mungil itu di antara jamur-jamur ini. Tapi.. lama-lama yang terbayang malah smurf... hihihi
'gak melenceng jauh, smurf kan kabouters juga.

Pengunjung lain yang juga menikmati jalan-jalan di hutan sambil menunggang kuda-kudanya.

Lama-lama udara mulai terasa menggigil, dan secangkir cokelat panas dengan rhum dengan whipped cream pun mulai menggoda di benak. Ah... waktunya untuk menyudahi acara jalan-jalan di hutan sore itu...

Monday, October 20, 2008

Gulung yuk gulung...

Nasib tinggal jauh dari kampung halaman, mau apa-apa harus dikerjakan sendiri. Ah...
Misalnya, lagi kebelet roll cake, terpaksa buletin mental, maju tak gentar, dengan semangat biar patah nanti toh tetap cake. Nekad bikin sendiri. Maklum saja, seumur-umur saya belum pernah membuat roll cake.

Sebenarnya oleh seorang tante, saya pernah diberikan resep roll cake andalannya. Tapi sayang, resepnya hilang. Cari-cari via internet, dapat beberapa resep, timbang sana timbang sini, beranilah saya coba salah satu dari resep itu.

Dan, tararam..... sukses!!!! Hula Dancer Hula Dancer Hula Dancer
Ini dia roll cake pertama saya!!!


Wahhh... senang banget!!! Jadi semangat bikin roll cake lagi, mumpung selei nanas dari mama masih ada di kulkas (saya beri olesan selei nanas di bagian tengahnya itu). Apalagi untuk membuat roll cake tidak membutuhkan waktu yang lama. Karena ternyata mulai dari menimbang bahan-bahannya sampai selesai menggulung cake tidak membutuhkan waktu sampai satu jam!!!

Semangat.... semangat!!!! Bikin lagi aaahhh....
He-eh... ingat timbangan dan jeans yang mulai sesak lagi ya!!! Smiles

Tuesday, October 14, 2008

10 Hal...

Yaitzz... kena lemparan tugas lagi. Daripada yang lempar tugas ini ke sini cemberut, padahal pasti lucu tuh, pipinya melembung kayak ikan mas koki gitu Big Smile, dan sebelum terlupa, ya sudah, saya kerjakan sekarang.

Ini dia, 10 hal tentang yang punya blog ini selain diving dan motret.

Saya itu,
1. susah percaya pada orang lain, berdasarkan beberapa kali pengalaman buruk.
2. the last minute person. Suka menunda-nunda, bahkan biar kata sudah disiapkan dari jauh-jauh hari, bisa saja menjelang saat-saat terakhir ide saya berubah total. Kerja kejar tayang lagi.
3. suka adventure tapi selalu menolak jika diajak mendaki gunung. Ogah, ngos-ngosan, pegel, untung-untungan kalo sampai di puncak masih hidup.
4. berlidah tajam dan 'gak segan-segan menyengat jika dibutuhkan.
5. 'gak bisa tertawa dengan anggun. Kata seorang teman, setan pun kabur kalau saya ngakak. Komentar seorang tamu, komodo pun pasti terbirit-birit lari mendengar kikikan saya. Doh, separah itu kah?
6. tidak suka kucing.
7. jika ada yang diinginkan, pasti bakalan dikejar. Misalnya lagi ingin bakso, pasti rombong tukang bakso tuh saya kejar-kejar Teethy
8. senang bereksperimen di dapur tapi 'gak suka beres-beres dapur. Padahal paling sebel kalau melihat dapur berantakan. Kesimpulan, membereskan dapur adalah kegiatan yang terpaksa!!
9. benci berada di tengah keramaian, misalnya di tengah sebuah konser terbuka.
10. bermimpi suatu saat punya body sepadat J-Lo.
Hahahaha... mimpi, boleh dong.

Demikian.
Selesai sudah pe-er-nya.

Friday, October 10, 2008

Ketika ku butuh sangat sentuhanMU...


Allah Perduli - Feby Febiola

Banyak perkara
Yang tak dapat ku mengerti
Mengapakah harus terjadi
Di dalam kehidupan ini
Satu perkara
Yang kusimpan dalam hati
Tiada sesuatu 'kan terjadi
Tanpa Allah perduli

Allah mengerti, Allah perduli
Segala persoalan yang kita hadapi
Tak akan pernah dibiarkanNya
Ku bergumul sendiri
S'bab Allah mengerti



........

Monday, October 06, 2008

Ayam goreng Sambal matah

Hmmmm... nikmatnya... menyantap ayam goreng, dengan nasi panas yang masih ngepul, sambal matah yang menggigit, dan lalapan, yang kemudian disantap langsung dengan menggunakan jari-jari tangan tanpa sendok garpu, walaupun sambil meringis kepanasan.


Yup, ayam goreng dan sambal khas Bali ini adalah salah satu menu kegemaran kami. Apalagi cara buat dan bahan-bahannya simpel. Tinggal cemplungin potongan paha ayam yang sudah dibalur, selama sejam, dengan bubuk kunyit dan garam ke dalam minyak yang panas dan banyak. Goreng sampai matang dan kecoklatan.

Sementara ayam dalam proses penggorengan, sambal matah disiapkan. Berhubung kami sangat menyukai sambal ini, sekalian saja saya buat dalam takaran yang cukup banyak untuk ukuran makan berdua. Cincang kasar 10 butir bawang merah (shallot) ukuran sedang. Males ngirisnya, perih bow. Makanya saya cincang kasar saja dengan hakker.
1 butir bawang putih ukuran besar dikeprek alias dipenyetkan dan iris halus, 6-8 buah cabe diiris tipis, kira-kira 3cm sereh, iris tipis-tipis, sepotong kecil terasi bakar/goreng, hancurkan.
Semua bahan-bahan ini kemudian di campur dalam sebuah mangkok, tambahkan 2-3 sendok makan minyak goreng panas. Beri garam secukupnya dan sedikit penyedap rasa (kurang dari 1/5 sendok teh. Pernah dulu agak kebanyakan, wih rasanya malah pahit). Jika mau, boleh ditambah dengan sedikit perasan jeruk.

Ditambah lalapan yang berupa irisan tomat, ketimun, dan daun selada segar, siap dah hidangannya.
Dan kami pun harus berhati-hati saat menikmati hidangan ini, bisa tanpa terasa nambah terus Smiles
Hmmm... siap-siap bau bawang aja nih mulut.

Monday, September 29, 2008

Mainan Baru

Di samping itu tuh mainan baru di kelas saat ini.
Yup, lengkap dengan kain hitam penutup kepalanya juga. (Foto di samping itu dipinjam dari wikipedia).

Melihat gambar di samping itu, orang pasti langsung membayangkan kamera jaman dahulu kala alias kamera antik. Padahal kamera tipe ini, dikenal sebagai view camera atau technisch camera kata orang Belanda, masih dipakai sampai saat ini, bahkan ada yang sudah digital mode punya. Kamera ini masih digunakan karena kemampuannya yang tidak bisa digantikan oleh kamera digital biasa atau oleh penggunaan software yang digunakan untuk mengolah foto.

Misalnya saja 2 foto di atas ini. (Koleksi pribadi).
Foto yang pertama diambil dengan kamera digital. Karena pengaruh lensa maka bangunan yang terlihat miring. Pada foto yang kedua, kemiringan yang ada pada foto pertama sudah dikoreksi lewat photoshop. Tapi, ada banyak pixel yang terbuang lewat prosedur koreksi tersebut.
Dengan menggunakan View camera, koreksi perspektif langsung dilakukan pada saat pengambilan gambar. Jadi hasil fotonya adalah gambar dengan perspektif serupa dengan kenyataan apa yang ditangkap langsung oleh mata kita.

Belum lagi kemampuan lainnya seperti mengatur garis fokus yang tidak mungkin bisa dilakukan oleh kamera biasa, walaupun dibantu dengan lensa tilt-shift.
Plus hasil foto yang super padat.

Hanya saja njelimet banget prosedur pengambilan gambarnya. Mencari komposisi, fokus, bahkan pakai acara hitung rumus matematikanya lagi untuk menentukan shutter speed. Sudah gitu rumus matematikanya pake hitung pembagian kwadrat segala. Ampun dah, untung hape punya program kalkulator, jadi bisa menghitung cepat.
Belum lagi acara membayangkan kira-kira di mana sudut maya titik temu antara kemiringan obyek dan kemiringan lensa. Aiiihhh...
(Foto di samping dipinjam dari bigcameraworkshops.com).

Tapi, menarik sekali. Asyik punya. Thumbs Up
Sayangnya, view camera yang tersedia di sekolah masih belum digital punya, jadi hasil fotonya tidak bisa langsung dilihat dan dibahas di mana salah dan kelirunya. Masih harus tunggu proses cuci cetak film lagi. Ah...

Tapi ya, beruntung bisa "bermain" dengan mainan mahal ini. Bayangkan saja, satu kamera, bodynya saja ya, belum termasuk perlengkapan lain-lain, harganya bisa mencapai di atas 4000USD. Sementara view camera yang digital, yang kata orang oke punya (body only) mencapai di atas 6700USD. Belum lagi ini itu... ditotalin... Waaaahhh....

Tapi selain dari mahalnya, alasan saya untuk tetap memilih bermain dengan digital SLR adalah kamera SLR lebih simpel, ringan dan praktis. View camera ditambah tripodnya mah berat bow!!
Well, bisa saja satu saat nanti saya akan berubah pikiran. Tergantung, dari berapa mahal orang mau membayar hasil foto saya, kan? Smile

Monday, September 22, 2008

Tuna steak ala Since

Sabtu ke pasar, tiba-tiba girang sendiri nyaris tak percaya apa yang dilihat di meja jualan tukang ikan. Tuna!!! Kayaknya sih dari jenis blackfin, tapi kecil, 'gak sampe 2 kg per ekor. Komplit dari kepala sampai ekor, bukan fillet seperti biasanya. Kelihatannya segar lagi!!! Begitu dicek warna insang, kejernihan mata dan kekenyalan tubuhnya, ternyata memang segar!! Murah lagi!!! Bayangkan, hanya 7 euro per kilo!!! Waahh.... tidak bisa dilewatkan begitu saja nih, langsung beli seekor.

Di rumah, segera ikan saya bersihkan, dan langsung berkolaborasi dengan Reinier, menyiapkan makan malam.
Ikan saya rendam dengan bumbu perendam hasil racikan sendiri selama kira-kira sejam, sebelum Reinier memanggangnya di atas grill pan.
Sementara saya menyiapkan kentang goreng dan saus pelengkap untuk steak ikan tuna itu, Reinier menyiapkan sayur pelengkap yang berupa baby courgette dengan bumbu racikannya sendiri.

Dan... tarararaaammmm....

Tuna steak sebagai sajian makan malam kami!!! Hmmm.. Roll

Tuesday, September 16, 2008

Menyusuri Sungai Moezel

Bangun pagi pukul 7, gara-gara alarm hape dan godaan rembesan sinar matahari pagi yang mengintip dan merembes dari balik gordin. Uhh.. masih ingin bergelung hangat di bawah selimut, nyaman.. Tapi sayang juga kalau detik detik hari cerah itu kami habiskan hanya bergelung di balik selimut. Mata masih sepet saat tubuh ini diajak ke kamar mandi. Pakai acara nyenggol wastafel lagi. Auuu...

Tiba di ruang makan yang khas banget sentuhan Jermannya, sarapan sudah tersedia di meja makan mungil. Bukan nasi goreng yang komplit dengan telur ceplok, acar dan krupuk, tapi hanya roti, keju, ham dan telur setengah matang serta kopi panas. Ahh.. kangen nasi goreng..

Sempat nengok keluar jendela sebelum sarapan, ah.. segarnya pemandangan pagi di tepi sungai.

Jam 8 tepat kami sudah duduk manis kembali di atas motor, siap untuk merambah perjalanan kami kembali. Menulusuri sungai Moezel (atau Moselle dalam bahasa Inggrisnya) adalah judul motor trip hari itu. Kami menyusuri mungkin sekitar 150km dari sungai yang kira-kira sepanjang 545km itu, bersumber di Perancis dan melintasi Perancis, Luxemburg dan Jerman dan kemudian bermuara di sungai Rhine, Jerman.

Daerah sepanjang lembah sungai Moezel terkenal karena keindahan alamnya dan juga terkenal sebagai daerah penghasil white wine. maka, sepanjang perjalanan yang tersaji selain desa-desa kecil yang tua dan indah, adalah kebun-kebun anggur yang terhampar luas di sekitar desa, di tepi sungai, di badan-badan bukit.

Tidak heran jika toko-toko penjual wine tersebar di mana-mana, baik itu toko biasa atau yang langsung merupakan etalase pembuat wine itu sendiri. Dan yang asiknya, berbeda dengan di supermarket, di sini para pengunjung boleh mencicipi wine yang ada sebelum memutuskan mau membeli yang mana. Dan tentu saja tidak ada keharusan untuk membeli.

Mengingat hari itu hari Minggu, kami memutuskan untuk segera mencari bakery di sekitar desa yang kami lewati untuk membeli roti bekal makan siang, karena hari Minggu bakery hanya buka sampai jam 10 pagi.
Ujung-ujungnya kami malah singgah di sebuah toko wine setempat. Doh, isenk banget sih nih orang dua, baru juga jam 9 pagi kami sudah mencicipi wine!!!!

Saya mencoba sweet white wine, sementara Reinier mencoba dry white wine. Hmmm.. enak. Sementara Reinier tidak terlalu puas dengan rasa dry white wine-nya.
Ah, saya bukan seorang penyuka dry white wine, saya lebih menyukai white wine yang manis, lembut dan fruity. Akhirnya kami membeli sebotol sweet white wine.

Perjalanan kami lanjutkan kembali, walaupun beberapa kali kami harus mengambil rute yang berbeda dari yang kami rencanakan. Ah.. tidak tepat, seharusnya dari rute yang Reinier rencanakan, karena biasanya kalau itu rute untuk bermotor, saya mah nunut saja.
Perubahan rute ini dikarenakan beberapa ruas jalan yang ditutup untuk entah acara apa, yang pasti acaranya cukup ramai, karena ruas jalan yang ditutup cukup banyak dan luas dan juga melihat perlengkapan kesiapan yang ada. Helikopter, boat dari barisan pemadam kebakaran, ambulans, dan juga penonton yang membanjiri daerah sekitar sana.

Piknik? Sudah tentu. Roti yang tadinya dibeli untuk makan siang, malah kami habiskan saat piknik jam 10 di tepi sungai. Bukan karena kelaparan, tapi karena rotinya yang enak, takabur, lupa deh kalau itu bekal makan siang. :

Caravan-caravan ini bukan caravan bangsa gipsy, tapi caravan para turis, entah itu turis lokal atau turis dari negara tetangga. Berlibur dengan caravan merupakan salah satu alternatif untuk berlibur yang cukup populer di Eropa. Karena gaya berlibur seperti ini memberikan keleluasaan bergerak, ya iyalah, jalan-jalan sambil bawa kamar sendiri kayak keong. Apalagi ada banyak Caravan parks yang tersebar di negara-negara di Eropa ini. Bahkan sampai di Maroko kemarin kami juga melihat rombongan caravan dari Belanda dan Perancis. Jadi pengen nyoba juga, tapi.... bermotor rasanya lebih asyik ah...

Nah di salah satu desa yang kami lewati, entah desa apa namanya tidak saya cek lagi, ada pameran traktor. Ramai sekali traktor-traktor yang dipamerkan di tepi sungai. maulai dari yang jaman bauleha sampai traktor modern. Bahkan kebanyakan peserta datang dengan caravannya yang ditarik traktor. Ampun dah kalau pas ketemu yang model ini di jalan. Bayangkan sendiri bagaimana kecepatannya.. klutuk... klutuk.. klutuk... Untung kami bermotor sehingga tidak sukar untuk melewatinya.

Sempat lihat yang ini juga nih, mobil antik dengan caravan antik juga. Mini semua. Astaga, itu caravan kayaknya untuk tidur saja sesak-sesakkan deh.

Jangan tanya ini kastil di mana, saya tidak ingat lagi persisnya di mana. Yang penting ada obyek bagus, ya langsung klik tanpa berhenti apalagi turun dari motor. Maklum saja, judul jalan-jalan kali ini adalah motor trip, bukan foto trip, jadi sebisa mungkin saya tidak ingin mengganggu kesenangan Reinier di atas motor, walaupun doi sendiri sudah mengatakan untuk memberi kode berhenti jika ada obyek yang menarik yang ingin saya foto.

Sementara di beberapa bagian lain dari sungai ini juga terdapat aktifitas pasar. Entah itu pasar desa mingguan atau pasar bulanan atau pasar tahunan. Pokoknya pasar. Mungkin semacam rommelmarkt di Belanda, karena selain barang-barang baru, saya sempat melihat meja-meja dengan barang-barang bekas.
Banyak juga ternyata kegiatan di hari Minggu di sana. Hanya saja saya tidak tahu apakah setiap hari Minggu begitu ramai.

Saat melintasi Traben-Trarbach, kami berhenti untuk berjalan-jalan sejenak karena terpikat pada kecantikan kota kecil ini, yang diawali dengan kecantikan Art Nouveau dari gerbangnya.

Dan... ternyata di dekat gerbang yang sudah berdiri sejak 1898 itu (jadi ingat nyonya Meneer :P) juga ada penjual roti isi, lumayan untuk makan siang, mengingat roti kami sudah kami habiskan saat coffee break pagi tadi, dan... di ujung jembatan yang membentang di atas sungai Moezel ternyata ada penjual es krim yang sulit untuk kami abaikan Smiles Yang ternyata memang yummy banget.

Bagian dari bangunan kantor pos. Keren banget kantor posnya.

Jam matahari. Nah masalahnya kalau matahari terhalang awan mendung yang tebal seperti hari itu, jamnya jadi tidak jelas deh.

Belum puas merambah kota itu, kami sudah harus kembali melanjutkan perjalanan. Apa boleh buat, kami tidak ingin kemalaman tiba di rumah dan juga tidak ingin melanjutkan perjalanan yang sekitar 300km itu hanya di jalan tol.

Kembali di perjalanan kami melewati toko-toko wine yang menggoda untuk di singgahi, maka kembali kami mengunjungi salah satu toko wine yang kami temui di perjalanan.
Kali ini Reinier mencoba Off-dry white wine, dan saya tetap mencoba sweet white wine yang ada. Hmm.. tidak, saya tidak terlalu menyukai rasanya, tapi off-dry-nya oke juga, dan Reinier juga sependapat, maka kami itu yang kami beli, sebotol off-dry white wine. Off-dry white wine ada rasa manis yang ringan, tidak sepekat rasa manis pada sweet white wine.

Ah seharusnya kami ke sini di bulan Oktober, karena Oktober adalah bulan panen anggur di lembah sungai Moezel. Sudah tentu akan ada banyak acara dan perayaan yang diselenggarakan saat itu.

Tadinya kami ingin singgah sebentar di Cochem, salah satu kota yang sangat turistik di lembah sungai Moezel, tapi begitu tiba di sana dan melihat lalu lalang pengunjung yang membanjiri tempat itu, wah... malas juga jadinya. Sudahlah kapan-kapan saja nanti kami kembali mengunjungi kota itu.
Dari Cochem kami berpisah dengan lembah sungai Moezel, karena kami harus mengambil rute ke utara, arah balik ke Belanda.

Namun kami tidak langsung menuju jalan tol, kami masih mengambil jalan pedesaan dan menikmati pemandangan desa-desa yang ada.

Melihat aktifitas petani yang juga bekerja di hari Minggu dan... kembali menikmati pemandangan ladang gandum dengan gulungan-gulungan batang gandum kering yang khas yang tersebar di sana.

Dan, sebelum masuk ke jalan tol, kami singgah sebentar ke sebuah cafe untuk ngopi dan tralala... ada tart yang menggoda iman. Ah sudahlah.. tak usah pikir lama dan panjang, dietnya besok saja, sayang tart seenak itu dilewatkan begitu saja. Di Belanda sudah 'gak dapat lagi tart yang menggoda begitu.

Dan, jam 7 malam kami tiba kembali di rumah. Capek, tapi menyenangkan.