Showing posts with label Catatan Liburan. Show all posts
Showing posts with label Catatan Liburan. Show all posts

Wednesday, July 01, 2009

Jalan-jalan ke Luxor

Catatan perjalanan 2.

Sphinx Hanya secuil dari lembah sungai Nil yang kami kunjungi, Luxor. Namun walaupun secuil, kota tua ini terkenal sebagai museum terbuka -open air- yang terbesar di dunia. Bagaimana tidak, di sana terbentang kompleks kuil Karnak yang luas itu, belum lagi padang Necropolis, yang termasuk lembah para raja -Valley of the Kings- dan lembah para ratu-Valley of the Queens-.

Perjalanan dari Hurghada ke Luxor memakan waktu sekitar 5 jam. Kami dijemput di hotel pukul 3.45 pagi. Astaga, keluar dari kamar dan duduk di mobil tuh masih setengah mimpi! Tapi mimpi itu hancur berantakan, gara-gara tempat duduk mobil yang sangat tidak nyaman bagi ukuran tubuh saya, walaupun kondisi bus sendiri cukup nyaman.

Cerita kemudian berlanjut, si sopir yang ceroboh itu bukannya mengambil rute normal dari kota, namun sengaja mengambil jalan ringkas melewati daerah padang pasir yang sama sekali belum beraspal. Kalau mobil yang kami tumpangi itu adalah jeep 4WD sih tidak mengapa, tapi mobil kami itu adalah Toyota Hiace!! Alhasilnya mobil kami dengan sukses tertanam bannya dalam pasir. Pinter sekali ini sopir!!! Thumbs Down

Ujung-ujungnya semua penumpang harus keluar dari mobil dan para lelaki menolong untuk mendorong mobil tersebut keluar dari kubangannya. Ugh!!

Sementara para lelaki mendorong mobil, saya jadi punya kesempatan untuk menangkap suasana padang pasir di saat subuh ke dalam digital card. Teethy

Menurut beberapa cerita yang pernah saya dengar, kira-kira 10 tahun yang lalu, para pengunjung ke Luxor dari Hurghada dan sekitarnya akan dikumpulkan pada sebuah point kemudian iring-iringan bus-bus pariwisata itu akan konvoi menuju Luxor dengan dikawal tentara. Hal ini disebabkan aksi terorisme yang menyerang para turis.
Untung saja kami tidak perlu dikawal demikian lagi walaupun harus melewati pos penjagaan setiap beberapa kilometer di perjalanan.

Tiba di Luxor, tepatnya tiba di kuil Karnak, sekitar pukul 9 pagi, langsung ditemui dan diiring oleh guide kami untuk melihat-lihat reruntuhan kuil, yang masih bisa dibilang berdiri megah itu. Gede banget, luas banget, panas banget!!! Suhu udara di Luxor hari itu mencapai 42°C. Pokoknya berebutan daerah teduh dengan pengunjung lain deh.

Jika melihat bangunan-bangunan megah begini, yang langsung terlintas dalam benak saya adalah berapa banyak nyawa yang telah dikorbankan untuk semua itu?

Belum puas kami melihat-lihat kuil itu, kami sudah diarahkan kembali ke bus untuk menuju ke toko parfum.

Toko parfum? Ya, toko parfum! Mau ngapain kami berdua ke sana? Kesel banget sudah tampang saya. Masih belum puas melihat detail-detail di Karnak sudah harus ke toko parfum. Bah!!! Dan, jangan berpikir itu toko parfum seperti Douglas yang berisi serie parfum yang oke punya. Toko parfum ini berisi minyak essence dari parfum itu, katanya sih minyak essence A dipakai oleh Kenzo untuk parfum bla bla bla... minyak essence B dipakai oleh Dior untuk parfum bla bla bla.. minyak essence C dipakai oleh... Duh... tukang jual obat abis.

Sungguh tidak ada yang menarik di sana. Kami datang, dipersilahkan duduk, mendengarkan presentasi "tukang obat", menghirup beberapa sampel, kemudian sepi, saling pandang memandang antara kami. Setidaknya, botol-botol parfum yang unik, berwarna-warni yang berdiri manis di rak menjadi perhatian saya untuk sesaat, setelah itu, mending langsung angkat kaki keluar dan menunggu di bus saja, setidaknya bebas dari bebauan di dalam sana. Mungkin menurut mereka saya sama sekali tidak sopan. Sa'bodo, kami membayar trip ini bukan untuk ke toko parfum!!

Setelah makan siang, perjalanan dilanjutkan ke dua patung kembar yang super besar, yang berumur lebih dari 3400 tahun, Amenhotep III (Colossi of Memnon).

Perjalanan dilanjutkan mengunjungi pengrajin alabaster, sejenis batu mineral. Kalau yang ini menarik, karena kami bisa melihat bagaimana mereka bekerja, melihat perbedaan antara hasil tangan dan hasil pabrik, dan bagaimana mengetahui bahwa barang yang kami beli adalah asli alabaster.

Baru beberapa menit berkeliling di bagian toko pengrajin itu dan sedang mengamati sebuah vas yang menarik minat kami, si guide sudah menarik kami dengan tergesa-gesa, hanya empat dari kami, untuk segera mengunjungi lembah para raja, sementara para peserta yang lain masih asyik di dalam toko tersebut. Terakhir kami tahu hanya empat dari kami yang mengunjungi lembah para raja, sementara yang lain mengunjungi lembah para ratu. Padahal menurut kami lembah ratu juga termasuk dalam program kunjungan hari itu. Ternyata bukan hanya kami yang komplein, banyak juga yang komplein karena pembagian ini. Entah dimana komunikasi yang kacau, antara pihak biro travel dengan kami atau biro travel dengan tour guide.

Berjalan di padang Necropolis untuk mengunjungi beberapa makam raja benar-benar menguji kesabaran. Padang pasir yang kering dengan sinar matahari yang menusuk dan membakar. Seumur hidup, itu adalah pengalaman pertama saya berjalan di tengah suhu 42°C! Pfeeeuuhh...
Setidaknya keteduhan di dalam makam dan gambar-gambar yang menghiasi setiap inci dari dinding dan langit-langit makam cukup menghibur perjalanan di tengah panas itu.

Saking panasnya, entah sudah berapa botol air mineral dan minuman ringan yang kami telan, tapi tidak sedetikpun keinginan untuk ke wc menggelitik kami. Pori-pori kulit ini seperti bocor mengalirkan semua yang kami minum kembali ke luar.

Selesai dari makam para raja, program selanjutnya dan juga merupakan program terakhir adalah berperahu menyusuri sungai Nil menuju ke Banana island. Di sebut pulang pisang karena banyak sekali pohon pisang di sana. Dan ternyata masih banyak orang yang belum pernah melihat pohon pisang secara nyata sepanjang hidupnya.

Jadi geli kalau ingat lagi tampang anak2 di sana, yang begitu semangat menerangkan tentang pohon pisang pada saya, ketika saya mengatakan di belakang rumah saya adalah hutan kebun pisang. Hahahaha... mata-mata itu seolah mengatakan bagaimana mungkin??

Saya menikmati perjalanan menyusuri sungai Nil di atas perahu, namun pulau pisang... tidak ada istimewanya, mungkin karena saya datang dari Indonesia ya?

Sunset saat perjalanan pulang, kemewahan yang disajikan alam untuk sedikit mengobati kepenatan kami di mobil.

Tiba di hotel kembali sudah pukul 9.30 malam. Senangnya karena kami tiba dengan nyawa yang masih melekat di badan dan senang segera terbebas dari itu bus dengan sopirnya yang nyetir gila-gilaan dan tidak terlalu sopan. Pfeeuuhhh... what a day!!!

Keping-keping fakta lain.

Hurghada adalah salah satu kota yang terletak di pesisir laut Merah. Sebuah kota padang pasir, yang sudah tentu dikelilingi oleh padang pasir. Berurusan dengan padang pasir, pada hari ketiga angin berhembus kencang sekali sepanjang hari, dan apa yang terjadi, pasir dan debu di mana-mana, bergantung di udara, bahkan jarak pandang di darat pun kurang dari 500 meter. Seperti dalam kabut kuning kemerahan selama sehari penuh di kota itu.

Hotel tempat kami menginap hanya sebuah hotel bintang tiga. Hotel dengan gerbang yang memukau namun dengan kamar dan perabotnya yang tua. Padahal foto di websitenya lumayan lho. Jarak kamar kami ke lobby dan bar cukup bikin malas kalau ada yang terlupa, apalagi jika harus berjalan dalam kepanasan. Dan juga dilengkapi dengan kolam renang tidak jauh dari kamar kami, yang tidak sekali pun kami sentuh. Laut dan pantai jauh lebih menarik perhatian kami.

Kamar kami memiliki pemandangan yang indah ke pantai dengan laut biru dan bayangan pegunungan padang pasir di kejauhan. Romantis banget, sore-sore balik dari dive trip, duduk-duduk di balkon, menikmati pemandangan sambil menghirup kopi kami.

Dan hal yang membuat saya selalu tersenyum dan menebak-nebak "apa lagi hari ini?" saat kembali ke hotel setelah divetrip adalah kejutan kecil yang dibuat oleh para room boy yang membersihkan kamar kami.
Biasanya handuk hanya ditumpuk rapi di kamar mandi, namun oleh para room boy ini handuk-handuk itu dibentuk manis seperti bunga, atau angsa, hati, bahkan buaya di atas tempat tidur kami!! Kreatif!

Abo Aya, demikian nama restaurant yang kami dapatkan dari seorang crew di dive center ketika kami bertanya tentang restaurant yang menghidangkan makanan khas Mesir.
Kami pikir Abo Aya adalah sebuah restauran, ternyata Abo Aya itu lebih mirip depot lokal, rumah makan kecil, dan cara penyajian mirip dengan di rumah makan padang. Tinggal tunjuk mau pesan yang mana saja, kemudian pelayan akan membawa pesanan-pesanan tersebut dalam piring-piring kecil dan disantap dengan roti pita, roti pipih yang berlubang di tengahnya.

Kebanyakan makanan tersebut terdiri dari sayur dan rasanya... hmmm... mantap!! Maka yang vegie boleh berpesta di sini karena keragaman salad dan masakan lainnya.

Taxi. Kelakuan supir taxi di sini benar-benar cocok dengan peribahasa, karena nila setitik rusak susu sebelanga! Maka sudah jelas, saya tidak mengatakan kalau semua supir taxi di sini jelek, namun dua kali kami mengalami kejadian yang sangat menyebalkan dengan supir taxi.
Terlepas dari pengalaman tidak enak kami, yang pasti setiap kali hendak menggunakan jasa taxi kami harus tawar menawar dulu, walaupun di dalam taxi itu jelas terdapat argometer. Menjelang hari-hari terakhir berdasarkan pengalaman harga dan pengamatan argo hari-hari sebelumnya, kami memiliki trik untuk menawar taxi yang tidak perlu berlama-lama dalam tawar menawar harga.

Turis Rusia banyak sekali di sini sampai-sampai di bandara terdapat petunjuk dalam bahasa Inggris dan bahasa -tulisan- Rusia, di kamar kami beberapa petunjuk pun tertera dalam bahasa Inggris, Jerman dan komplet tulisan Rusia. Bahkan orang Belanda pun dituduh lancar berbahasa Rusia. Ah hahaha... ada-ada saja.

Para pedagang sudah tentu selalu berusaha menarik minat dan mengajak wisatawan untuk mengunjungi tokonya. Walaupun menurut saya, mereka sama sekali tidak menyebalkan, kadang-kadang kami malas juga jika dicegat oleh pemilik/pelayan toko souvenir ini, ditanya ini-itu, diajak bercakap-cakap. Dicuekin rasanya tidak sopan, tapi jika dijawab, pasti kepanjangan, sementara kami hanya ingin berkeliling menikmati dan mengamati suasana di daerah itu. Berhubung beberapa kali saya mendengar bahasa Inggris, Jerman, Rusia, Cina, Jepang, Belanda di sekitar saya, maka, jangan menjawab dalam bahasa itu, jawablah langsung dengan ramah dalam bahasa Indonesia. Ampuh!! Orang itu akan memandang saya dengan tertegun dan.. eee... eee... tersenyum.. dan itu saatnya saya tersenyum manis dan dengan halus mengucapkan bye-bye. Untung 'ga ada TKI di sekeliling saya!! Teethy

Liburan berakhir sudah, lengkap dengan cerita yang penuh warna, menyenangkan dan juga menyebalkan. Liburan yang menarik!

Friday, June 19, 2009

Laut Merah, Padang Biru.

Catatan Perjalanan 1.

Saat melangkah keluar dari pintu pesawat malam itu, saat udara hangat yang kering menyentuh kulit ini, saya menyapa negeri itu.
Hello Mesir.

Saat tiba di gerbang kedatangan, kami langsung disambut oleh para petugas yang mengarahkan para penumpang pesawat membentuk barisan untuk melalui sebuah scanner infrared. Yup, setiap orang di-scan bagian wajah dengan kamera infrared sebagai langkah pencegah masuknya pembawa flu, pasti urusan flu babi nih.

Saat pasport kami diperiksa ketika melalui loket imigrasi, kami harus dilemparkan ke loket imigrasi lain dengan petugas yang lebih senior karena kekeliruan yang dilakukan oleh petugas kedutaan Mesir di Belanda pada lembaran visa di pasport kami. Untunglah petugas yang lebih senior di loket kedua langsung menyadari kekeliruan yang ada dan.. plak... stempel boleh masuk ke negri itu pun dicap di halaman pasport kami.
Hello Hurghada.

Saat duduk di dive boat, pagi berikutnya, menikmati sinar mentari yang kalah panasnya oleh terpaan angin yang membuat rambut saya awut-awutan, semua kelelahan dalam perjalanan sirna. Laut Merah, padang biru. Laut yang biru membentang dengan garis turquoise sepanjang pesisir itu menyejukkan jiwa ini.

Ah.. senangnya berada dekat laut lagi, di atas laut lagi, di dalam laut lagi...

Namun jangan berpikir bisa "nyepi" di sini, karena Red sea terkenal sekali sebagai daerah tujuan wisata selam bagi pasar wisata selam di Eropa. Maka sudah pasti di semua dive spot selalu berkumpul beberapa boat dengan kapasitas sekitar 20 penyelam per boat, dan di dalam air kadang ramai seperti pasar.
Untung saja, walaupun sering berpapasan dengan group penyelam lain, kami tidak sampai mengalami situasi hiruk pikuk di dalam sana, dan tidak terganggu oleh penyelam lain.

Dingin air laut segera menyentuh saya ketika meloncat saat penyelaman pertama. Tidak menjadi sebuah kejutan. 25°C sebenarnya lebih hangat dari yang kami perkirakan sebelumnya. Dan dengan wetsuit setebal 7mm, saya terbungkus nyaman di dalamnya. Hanya saja, 10kg harus saya gunakan sebagai pemberat. 2kg lebih berat dari yang saya gunakan di Belanda. Tidak heran, air laut di laut Merah ini lebih padat densitasnya.
Bahkan ketika saya isenk terjun ke air dengan hanya baju renang, tanpa harus mengeluarkan tenaga untuk mengapung, dengan entengnya saya terapung.

Bagi yang bukan penyelam, tentunya asing dengan istilah pemberat ini. Sederhananya, pemberat dibutuhkan oleh seorang penyelam sebagai alat bantu untuk tenggelam dan melayang bebas di dalam air, bahkan pada saat proses seorang penyelam menuju ke permukaan laut pun tidak lepas dari peranan pemberat. Pemberat ini biasanya adalah potongan timah dengan berat persatuannya 1kg dan 2 kg. Dipakai bersama-sama dengan weight belt atau dimasukkan dalam kantong khusus pada jaket BCD. Untuk jelasnya lagi, silahkan di googling saja ya.

Kejernihan air di sana tidak usah ditanyakan lagi. Jernih banget, padahal saat itu termasuk musim angin. Hanya saja, sekali kami sempat menyelam di wreck, kapal tenggelam, dekat dengan dataran besar, kira-kira 2km dari pantai, visibility tidak begitu bagus.

Kebanyakan dive spot di sana landai ke kedalaman. Berpasir dengan bongkahan-bongkahan karang, kadang pinacles yang lumayan besar. Hanya sekali kami menyelam menyulusuri dinding karang, wall dive. Dan itu kali satu-satunya di sana kami menyelam lebih dari 35m. Sisanya, penyelaman kami hanya berkisar 18-20 meter.

Yang mendominasi kehidupan dalam laut yang tertangkap mata saya adalah karang, keduanya, yang keras dan yang lunak. Sponges, tunicates, dan lain-lain hampir tidak kami lihat. Walaupun sering sekali kami menjumpai penyu dan juga ikan-ikan yang berseliweran, kehidupan di dalam sana terasa sepi. Padahal komentar teman-teman saya yang pernah menyelam di sana, dunia dalam laut di sana 10 tahun yang lalu lebih ramai. Ahh.. alam lelah, jenuh dengan kunjungan rombongan penyelam yang tak putus-putusnya.

Walaupun sepi menurut saya, tetap ada banyak bentuk kehidupan di sana. Satu hal yang membuat saya tergangga dan berdecak adalah ukuran hewan yang kami temui. Jenis yang sama yang pernah saya temui di laut tropis jadi terasa seperti liliput.

Misalnya octopus ini. Octopus terbesar yang pernah saya lihat. Kepalanya kira-kira seukuran bola basket dan lengan-lengannya sebesar lengan saya!!! Jangan lupa efek pembesaran di dalam air, tentu saja ukuran sebenarnya 25% lebih kecil. Walaupun menyadari itu, tetap saja ini merupakan octopus terbesar yang pernah saya lihat langsung dengan mata saya sendiri, tetap saja saya tidak berani mengusik octopus itu. Weleeh.. 'ga lucu abis kalo sampai dibelit octopus.
She is so gorgeous!!!

Ada beberapa species ikan yang baru pernah saya lihat, dan ini membuat saya sangat antusias di dalam air. Misalnya ikan kupu-kupu di samping ini (Chaetodon similarvatus) yang merupakan salah satu ciri khas Red sea. Sayang, tidak terdapat buku-buku identifikasi biota laut di kapal.

Macro alias mahluk-mahluk kecil, jarang sekali saja jumpai. Dan para divemasternya pun lebih antusias pada hewan-hewan yang besar. Penyu misalnya. Astaga, penyu lagi penyu lagi yang ditunjuk. Yang lain doooong!!!

Dan begini ini nih, model interaksi antara penyelam dengan penyu. Satu penyu dikerebutin beramai-ramai. Hehe.. si penyunya sudah terbiasa menjadi model, cuek beibe... tetap anggun dan angkuh melewati para fansnya itu Hysterical

Pernah saya bertanya tentang macro, namun pertanyaan saya hanya melayang di udara dan menguap. Sepertinya mereka memang tidak tertarik pada macro, atau... tidak memiliki taste untuk itu? Ya sudah, cari sendiri saja.

Hanya satu kali kesempatan untuk melakukan wreck dive, menyelam pada bangkai kapal tenggelam. Itupun karena desakan kami dan satu group yang lain.
El Mina wreck, demikian nama bangkai kapal sepanjang 58m yang tergeletak di kedalaman 30m. Walaupun sudah sekitar 40 tahun terbenam dalam laut, namun miskin penutupan coral. Sepi dan buram. Satu-satunya bentuk kehidupan yang ramai yang saya temukan di sekitar bangkai kapal ini adalah lion fish.

Dan juga hanya sekali kami melakukan nightdive, penyelaman malam. Ini disebabkan pihak dive center harus mengumpulkan minimun 6 penyelam yang berminat untuk melakukan night dive. Sampai malam terakhir, itupun yang terkumpul cuma 5 penyelam. Ih, napa sih ni divers, kok kurang peminat night dive. Padahal nyelam malam tuh asik abis!!

Ada hal lucu yang terjadi saat penyelaman malam, yang membuat saya bingung, siaga, terpingkal-pingkal, namun jengkel, sekaligus curious.
Kira-kira 5 menit setelah di dalam air, saat saya sedang sibuk dengan objek foto, saya merasa gerakan di dekat lengan, begitu saya senter, astaga ada tiga ekor lionfish yang gede-gede sedang berenang di sekitar lengan saya. Uiiihh... ngalah deh, pindahlah saya ke tempat lain, tapi perasaan ada yang ngikutin, disenter ke belakang, beneran tiga ekor lionfish itu dengan garang mengikuti saya. Nah lho!!! Apa saya sempat membuat mereka marah? Uih ngeri berhadapan dengan lion fish yang marah. Apalagi terbayang duri-duri mereka yang beracun itu. Setelah beberapa detik kemudian, saya menyadari, bukan saya yang mereka targetkan, tapi arah dari sinar senter kami yang mereka gunakan untuk berburu. Aiiih... pintar bener ini Lionfish!!! Jadi tenang setelah menyadari kenyataan itu, tapi jadi jengkel karena mereka menyulitkan saya terutama saat hendak membuat foto. Untung buddy saya yang tercinta ini tanpa perlu kata-kata menyadari menyadari kesulitan saya, dan membantu dengan mengarahkan ikan-ikan itu ke arah lain dengan sinar senternya setiap kali saya hendak bermain dengan kamera.
Baru pernah saya mengalami pengalaman dengan lionfish seperti ini. Apa yang membentuk tingkah ikan itu? Kebiasaan? Instink? Atau..?

Aquarius dive center adalah dive center yang kami gunakan pelayanannya. Tidak ada keluhan tentang pelayanan mereka. Kapalnya luas dan bersih. Kualitas udara di tabung juga oke. Para kru ramah dan membantu sekali, walaupun bahasa Inggris mereka terbatas sekali. Makanan di kapal, tipikal makanan Mesir, berminyak tapi jenis-jenis salad yang terhidang di meja menggoyang lidah.

Dan yang paling asyik adalah para dive master/guide di kapal ini memberikan kami kebebasan dalam waktu, walaupun secara lisan mereka meminta 60 menit lama penyelaman kami karena itu peraturan di taman nasional sana. Dan mereka juga memberikan kami kebebasan untuk menyelam di luar kelompok. Thank God, karena saya paling sebal jika harus menyelam dalam kelompok, karena ritme kelompok selalu berbeda dengan ritme kami.
Dan yang paling penting adalah kemampuan mereka memberikan briefing tentang keadaan dan peta lokasi penyelaman. Sangat membantu.

Sekali waktu saya sempat ngakak di permukaan air. Gara-gara si dive guide dengan sangat serius datang dan memberikan briefing pada kami dan menjelaskan bahwa kami akan melakukan drift dive, penyelaman arus. Gayanya dalam memberikan briefing meyakinkan banget kalau itu bakal menjadi penyelaman beradrenalin. Uh... saya sudah senang, lumayan sudah lama tidak melakukan penyelaman adrenalin. Begitu mau loncat, kok perasaan arus sepoi-sepoi doank deh, setelah meloncat ke air... Bener... Saya berbisik pada buddy, mana arusnya?? Airnya nyaris setenang permukaan danau, apanya yang drift???
Akhirnya kesimpulan kami adalah jika kami harus meloncat saat kapal belum ditambatkan dan menyelam ke arah di mana kapal akan ditambatkan, maka itu adalah drift dive!!! Lol

Saat-saat dalam perjalanan, menuju lokasi penyelaman atau kembali ke dermaga hotel, sering kami jumpai rombongan Lumba-lumba, dan tak jarang mereka bermain mengikuti kapal. Kalau sudah demikian tumpahlah semua penumpang kapal ke sisi-sisi kapal. Kadang menyebalkan juga, karena saru rombongan lumba-lumba dikejar oleh beberapa kapal, ribut dengan tuter dan para kru yang bersikap seperti supporter bola. Malas sudah kalau ribut begini.
Tidak ada foto aksi dolfin di sini karena saya hanya ingin hanyut dalam atraksi mereka tanpa sibuk untuk menunggu dan klak-klik.

Ah.. laut biru, langit yang cerah, hangat mentari, menari lagi di alam dalam laut, my best buddy... dan.. sudah tentu, dive center yang oke punya.
Liburan yang menyenangkan!!



Bersambung...

Thursday, January 29, 2009

Dua Minggu Kabur Mudik

Basah, basah dan basah.

Udara tropis yang lembab dan hangat yang menyambut kami saat kami tiba di Jakarta tidak bertahan lama. Segera hujan deras mengguyur Jakarta saat kami sedang bercengkeram dengan Moudy dan Emma di bandara.

Dan hujan ini juga menghiasi sepanjang minggu pertama kami di Bali. Sampai-sampai terjadi tragedi karpet basah, alias banjir di mana-mana. Termasuk, pada suatu malam, di halaman belakang rumah, hampir menyentuh lantai dapur. Ujung masalahnya, ada got di sekitar yang tersumbat. Oalah, ini-nih cerita basi yang selalu terulang di mana-mana dari masa ke masa. Maap, maap itu karpet milik tetangga pake disebut di sini segala Smiles

Alhasilnya kami jadi males ke mana-mana. Ya, basah di mana-mana. Kebanyakan waktu kami hanya ngedon di rumah doank. Paling-paling ke supermarket nyari keperluan harian atau isenk ke mal dan berburu buku di toko buku. Sisanya ya menghabiskan bacaan kami di rumah.

Tapi ada asyiknya juga, tidur sambil menikmati suara hujan. Saya kangen banget dengan suara khas air yang menetes menghantam atap-atap rumah. Dan juga menikmati pemandangan air cucuran dari atap-atap rumah yang bebas menetes ke permukaan bumi tanpa harus memakai bantuan talang.

Menjelang minggu kedua, wajah hujan tiba-tiba menghilang diganti dengan terik mentari yang 'gak kira-kira. Basah lagi di mana-mana. Kali ini basah karena guyuran keringetan!!! Menurut laporannya sih temperatur udara hanya berkisar 31°C, tapi kok perasaannya lebih panas ya. Apa karena efek rumah kaca itu? Sweating 2

Ujung-ujungnya, kami jadi males lagi ke mana-mana. Ngedooooon lagi di rumah.
Sempet sih sepupu-sepupu, om dan tante yang dari luar Bali yang kebetulan nyamperin Bali untuk menghadiri acara pernikahan adik ngajak keliling, ke Nusa Dua, Uluwatu, dan sekitarnya. Tapi gara-gara sumuh itu, kami jadinya nolak ke mana-mana.
Paling banter ke Bali bakery, ngadem, nikmati ice coffee latte sambil surfing internet dengan laptop mini yang kami bawa. Rencana mau bermain di waterboom juga buyar, saking males keluar panas-panas gitu.

Tapi, walaupun demikian, berbasah-basah di laut tetap wajib hukumnya. 'gak ada cerita dan 'gak ada alasan untuk tidak ke laut! Walaupun kami juga tidak melupakan kondisi laut dengan gelombangnya yang sedang tidak terlalu bersahabat. Pokoknya ke lokasi diving dulu, masuk apa tidaknya keputusan nanti.

Dan seperti yang sudah diperhitungkan, visibility, jarak pandang, dalam air tidak terlalu bagus karena kondisi hujan di darat dan pergerakan air laut akibat gelombang itu sendiri. Keterlaluan!!! Hanya 8 kali penyelaman yang kami lakukan trip kemarin itu. Benar-benar tidak puas. Untung juga kami bisa ke gili Selang di ujung sudut Timur Laut pulau Bali. Arus yang sedang bersahabat dan visibility yang terbaik yang kami temui selama penyelaman-penyelaman kemarin, walaupun tidak berada pada kondisi topnya. Dan walau tidak banyak obyek macro di sini, sea gardennya selalu memukau dan sempat pula ketemu penyu dan white tip shark.

Penyelaman malam yang kedua, visibility benar-benar hancur!!! Perasaan seperti diving di Oosterschelde, Belanda sini saja. Hanya temperatur air yang masih membedakannya. Bagaimanapun, 'gak jelek-jelek amat penyelaman itu, karena walaupun visibility kurang dari 2 meter, saya masih menemukan hal-hal yang menarik di bawah sana.

Wajah gunung Agung yang bersih tanpa kabut walau di bawah langit kelabu tampak dari pesisir Tulamben. Yep, dua penyelaman akhir kami lakukan di Tulamben. Penyelaman pertama membutuhkan perahu untuk mencapai lokasi favorite saya. Dan untuk mengeluarkan perahu dari daerah pantai membutuhkan perjuangan sendiri karena kondisi gelombang. Penyelaman terakhir kami lakukan dengan metode beach entry, masuk langsung dari pantai, yang juga membutuhkan perhitungan yang tepat supaya tidak digulung ombak, terlebihi saat keluar dari air, saat berjalan ke arah pantai.

Meskipun permukaan laut bergelombang, namun alam di bawah sana tetap tenang. Tapi, kondisi yang tenang ini, pada saat itu, hanya berlaku pada kedalaman yang lebih dari 10 meter, di atas 10 meter apalagi di daerah yang lebih dangkal tetap terpengaruh gerakan air di permukaan itu.

Ah, berhubung waktu yang singkat, walaupun belum puas bermain dalam laut, kami putuskan untuk kembali ke Denpasar, supaya saya juga memiliki waktu untuk melepaskan kangen pada keluarga di sana.

Kalau diingat-ingat kembali saat masih kerja di Bali dulu, emang, bulan Januari adalah bulan sepi pengunjung, bulan yang banyak nganggurnya, bulan yang banyak tidur siangnya!!! Teethy

Singkat kata, judul liburan kemaren yang tepat adalah antara Basah dan Malas.

Sunday, January 25, 2009

Dua Minggu Kabur Mudik

Hanya 2 minggu mudik???? He-eh. Tanggung banget!!! Pengen lebih lama, tapi ya itu... kadang manusia dihadapkan pada beberapa pilihan, pertimbangan dan keputusan yang harus diambil. Ujung-ujungnya... mudik yang nanggung. Tak apalah, yang penting tujuan mudik tercapai, menghadiri pernikahan adik.

Pengalaman dengan Emirate Air.

Keputusan untuk menggunakan Emirate air ini berdasarkan penawaran harga yang kami temukan lewat sebuah situs travel. Setengah dari harga tiket penerbangan lain yang menuju ke Indonesia pada saat itu. Dan setengah itu berarti sekitar 600 Euro per orang, dikalikan 2 artinya kami bisa berhemat sekitar 1200 Euro!!! Setelah melihat-lihat pada situs resmi Emirate air, kelihatannya pelayanan yang diberikan cukup nyaman. Jadilah penerbangan ini yang kami pilih, walaupun lama perjalanan menjadi beberapa jam lebih panjang, dengan rute Düsseldorf (kota di Jerman, dekat dengan perbatasan dengan Belanda) - Dubai - Jakarta, dan dari Jakarta kami harus mengambil salah satu penerbangan domestik menuju Denpasar.

Karena kondisi cuaca di musim dingin, sebelum take off, pesawat harus melewati prosedur penyemprotan cairan de-icing/anti-icing di bagian sayap.

Inilah wajah Düsseldorf, dan juga Belanda, saat kami menginggalkan benua ini menuju Indonesia. Putih tertutup salju.

Yang langsung menarik perhatian saya saat masuk ke kabin pesawat adalah para crew pesawat yang beragam. Ada wajah timur tengah, ada wajah eropah, ada wajah melayu, ada wajah oriental, ada wajah eksotis Latin. Benar-benar berbeda dengan penerbangan lain yang terkesan homogen. Dan mereka memiliki keramahan penerbangan Asia.

Hanya saja ada perbedaan kwalitas hiburan dan makanan antara penerbangan Düsseldorf - Dubai dan Dubai - Jakarta. Hiburan dalam penerbangan dari dan ke Jakarta lebih okey daripada penerbangan dari/ke Düsseldorf. Video on demand, dengan daftar jenis film yang lebih panjang dari amir. Ups.. maksudnya panjang dan komplit.
Sementara urusan sajian makanan, penerbangan dari dan ke Düsseldorf jauh lebih baik. Malah makanan dari Jakarta pada penerbangan pulang, yaks banget.

Saat transit di bandara internasional Dubai, mata saya juga langsung menangkap bermacam ragam manusia di sana. Bukan hanya para pengunjung/penumpang pesawat yang transit, tetapi juga para kru bandara tersebut, entah itu security crew, para pelayan toko sampai tukang bersih-bersih. Ada banyak wajah Asia menghiasi setiap sudut bandara itu.

Bandara Internasional Dubai ini merupakan bandara yang teramai yang pernah saya lihat. Saat tengah malam dan dini hari saja penuh dengan aliran manusia yang berseliweran yang tak putus-putus, dan toko-toko yang padat pengunjung. Dan saat ini juga belum musim liburan.

Yang lain dari airport ini adalah orang-orang yang tidur bebas di lantai di sepanjang beberapa ruang tunggu. Bukan satu dua orang, tapi... mungkin bisa seratusan kali ya kalau mau dihitung. Perasaan, jadi mirip tempat penampungan orang-orang terlantar. Tadinya sih pengen difoto, tapi kok 'gak tega juga... 'gak jadi deh.

Nah, warna lain pada penerbangan dari Dubai ke Jakarta adalah pesawat yang penuh dengan mbak-mbak dan mas TKI dan juga rombongan umroh yang balik ke Indonesia.
Waduh itu tas-tas bawaan mereka yang masuk ke kabin, aujubile. Sampai-sampai para crew pesawat harus adu ngotot dengan sebagian dari mereka karena barang bawaannya itu ikut memenuhi ruang untuk kaki mereka. Ah... demi oleh-oleh...

Karena tidak bisa tidur dan males mlototin layar tv, jadilah mata ini berkeliaran ke mana-mana... dan.... tanpa bisa ditahan... ngakak abis langsung...
Gimana eng'gak, ada seorang bapak yang sibuk banget mondar-mandir nganterin beberapa teman/kerabatnya ke toilet. Kemudian itu bapak kembali lagi ke toilet dengan seorang ibu. Saya pikir, ooohhhh giliran ni ibu nih yang mo pipis. Eh... salah... ternyata mereka hanya sampai di depan toilet, si bapak membuka pintu toilet dan mempersilahkan si ibu nengok ke sana ke mari ke dalam toilet, trus ngobrol rame di depan toilet, trus balik lagi ke tempat duduknya. Astagaaa.. pak... bu... judulnya toilet tour toch!!!! Too Funny

Nah, ngomong soal toilet, yang bikin jengkel adalah kondisi kebersihan toilet dalam penerbangan dari dan ke Jakarta ini. Ampun dah, itu toilet bisa basah di mana-mana, bahkan lantainya bisa lengket-lengket gitu.
Bahkan sempat saya temui dua gadis yang keluar bersama-sama dari dalam toilet. Lha, ngapain toch mbak? 'gak kejepit tuh be'dua dalam toilet gitu? Doofus

Bebauan dalam pesawat pun berubah abis, gara-gara pemakaian minyak-minyakan. Ada yang make minyak angin, minyak telon, minyak wangi yang entah apa mereknya yang pasti baunya tajem banget, minyak si nyong-nyong, minyak duyung, minyak goreng... husss keterusan deh... Intinya, bebauan dalam pesawat jadi mirip bebauan dalam bis kota antar propinsi dah. Hoooaaa.... bisa mabok gara-gara bebauan!!!

Dan satu lagi yang bikin saya tersenyum adalah saat menyaksikan kelakuan sebagian dari mbak-mbak dan mas-mas itu, yang begitu duduk di pesawat, langsung membungkus dirinya seperti kepompong dengan selimut yang disediakan pada setiap tempat duduk pesawat. Jadi inget di kampung, pagi-pagi atau malam-malam orang pada membungkus tubuhnya dengan sarung gitu. Khas banget. Happy


Bersambung.....