Wednesday, July 01, 2009

Jalan-jalan ke Luxor

Catatan perjalanan 2.

Sphinx Hanya secuil dari lembah sungai Nil yang kami kunjungi, Luxor. Namun walaupun secuil, kota tua ini terkenal sebagai museum terbuka -open air- yang terbesar di dunia. Bagaimana tidak, di sana terbentang kompleks kuil Karnak yang luas itu, belum lagi padang Necropolis, yang termasuk lembah para raja -Valley of the Kings- dan lembah para ratu-Valley of the Queens-.

Perjalanan dari Hurghada ke Luxor memakan waktu sekitar 5 jam. Kami dijemput di hotel pukul 3.45 pagi. Astaga, keluar dari kamar dan duduk di mobil tuh masih setengah mimpi! Tapi mimpi itu hancur berantakan, gara-gara tempat duduk mobil yang sangat tidak nyaman bagi ukuran tubuh saya, walaupun kondisi bus sendiri cukup nyaman.

Cerita kemudian berlanjut, si sopir yang ceroboh itu bukannya mengambil rute normal dari kota, namun sengaja mengambil jalan ringkas melewati daerah padang pasir yang sama sekali belum beraspal. Kalau mobil yang kami tumpangi itu adalah jeep 4WD sih tidak mengapa, tapi mobil kami itu adalah Toyota Hiace!! Alhasilnya mobil kami dengan sukses tertanam bannya dalam pasir. Pinter sekali ini sopir!!! Thumbs Down

Ujung-ujungnya semua penumpang harus keluar dari mobil dan para lelaki menolong untuk mendorong mobil tersebut keluar dari kubangannya. Ugh!!

Sementara para lelaki mendorong mobil, saya jadi punya kesempatan untuk menangkap suasana padang pasir di saat subuh ke dalam digital card. Teethy

Menurut beberapa cerita yang pernah saya dengar, kira-kira 10 tahun yang lalu, para pengunjung ke Luxor dari Hurghada dan sekitarnya akan dikumpulkan pada sebuah point kemudian iring-iringan bus-bus pariwisata itu akan konvoi menuju Luxor dengan dikawal tentara. Hal ini disebabkan aksi terorisme yang menyerang para turis.
Untung saja kami tidak perlu dikawal demikian lagi walaupun harus melewati pos penjagaan setiap beberapa kilometer di perjalanan.

Tiba di Luxor, tepatnya tiba di kuil Karnak, sekitar pukul 9 pagi, langsung ditemui dan diiring oleh guide kami untuk melihat-lihat reruntuhan kuil, yang masih bisa dibilang berdiri megah itu. Gede banget, luas banget, panas banget!!! Suhu udara di Luxor hari itu mencapai 42°C. Pokoknya berebutan daerah teduh dengan pengunjung lain deh.

Jika melihat bangunan-bangunan megah begini, yang langsung terlintas dalam benak saya adalah berapa banyak nyawa yang telah dikorbankan untuk semua itu?

Belum puas kami melihat-lihat kuil itu, kami sudah diarahkan kembali ke bus untuk menuju ke toko parfum.

Toko parfum? Ya, toko parfum! Mau ngapain kami berdua ke sana? Kesel banget sudah tampang saya. Masih belum puas melihat detail-detail di Karnak sudah harus ke toko parfum. Bah!!! Dan, jangan berpikir itu toko parfum seperti Douglas yang berisi serie parfum yang oke punya. Toko parfum ini berisi minyak essence dari parfum itu, katanya sih minyak essence A dipakai oleh Kenzo untuk parfum bla bla bla... minyak essence B dipakai oleh Dior untuk parfum bla bla bla.. minyak essence C dipakai oleh... Duh... tukang jual obat abis.

Sungguh tidak ada yang menarik di sana. Kami datang, dipersilahkan duduk, mendengarkan presentasi "tukang obat", menghirup beberapa sampel, kemudian sepi, saling pandang memandang antara kami. Setidaknya, botol-botol parfum yang unik, berwarna-warni yang berdiri manis di rak menjadi perhatian saya untuk sesaat, setelah itu, mending langsung angkat kaki keluar dan menunggu di bus saja, setidaknya bebas dari bebauan di dalam sana. Mungkin menurut mereka saya sama sekali tidak sopan. Sa'bodo, kami membayar trip ini bukan untuk ke toko parfum!!

Setelah makan siang, perjalanan dilanjutkan ke dua patung kembar yang super besar, yang berumur lebih dari 3400 tahun, Amenhotep III (Colossi of Memnon).

Perjalanan dilanjutkan mengunjungi pengrajin alabaster, sejenis batu mineral. Kalau yang ini menarik, karena kami bisa melihat bagaimana mereka bekerja, melihat perbedaan antara hasil tangan dan hasil pabrik, dan bagaimana mengetahui bahwa barang yang kami beli adalah asli alabaster.

Baru beberapa menit berkeliling di bagian toko pengrajin itu dan sedang mengamati sebuah vas yang menarik minat kami, si guide sudah menarik kami dengan tergesa-gesa, hanya empat dari kami, untuk segera mengunjungi lembah para raja, sementara para peserta yang lain masih asyik di dalam toko tersebut. Terakhir kami tahu hanya empat dari kami yang mengunjungi lembah para raja, sementara yang lain mengunjungi lembah para ratu. Padahal menurut kami lembah ratu juga termasuk dalam program kunjungan hari itu. Ternyata bukan hanya kami yang komplein, banyak juga yang komplein karena pembagian ini. Entah dimana komunikasi yang kacau, antara pihak biro travel dengan kami atau biro travel dengan tour guide.

Berjalan di padang Necropolis untuk mengunjungi beberapa makam raja benar-benar menguji kesabaran. Padang pasir yang kering dengan sinar matahari yang menusuk dan membakar. Seumur hidup, itu adalah pengalaman pertama saya berjalan di tengah suhu 42°C! Pfeeeuuhh...
Setidaknya keteduhan di dalam makam dan gambar-gambar yang menghiasi setiap inci dari dinding dan langit-langit makam cukup menghibur perjalanan di tengah panas itu.

Saking panasnya, entah sudah berapa botol air mineral dan minuman ringan yang kami telan, tapi tidak sedetikpun keinginan untuk ke wc menggelitik kami. Pori-pori kulit ini seperti bocor mengalirkan semua yang kami minum kembali ke luar.

Selesai dari makam para raja, program selanjutnya dan juga merupakan program terakhir adalah berperahu menyusuri sungai Nil menuju ke Banana island. Di sebut pulang pisang karena banyak sekali pohon pisang di sana. Dan ternyata masih banyak orang yang belum pernah melihat pohon pisang secara nyata sepanjang hidupnya.

Jadi geli kalau ingat lagi tampang anak2 di sana, yang begitu semangat menerangkan tentang pohon pisang pada saya, ketika saya mengatakan di belakang rumah saya adalah hutan kebun pisang. Hahahaha... mata-mata itu seolah mengatakan bagaimana mungkin??

Saya menikmati perjalanan menyusuri sungai Nil di atas perahu, namun pulau pisang... tidak ada istimewanya, mungkin karena saya datang dari Indonesia ya?

Sunset saat perjalanan pulang, kemewahan yang disajikan alam untuk sedikit mengobati kepenatan kami di mobil.

Tiba di hotel kembali sudah pukul 9.30 malam. Senangnya karena kami tiba dengan nyawa yang masih melekat di badan dan senang segera terbebas dari itu bus dengan sopirnya yang nyetir gila-gilaan dan tidak terlalu sopan. Pfeeuuhhh... what a day!!!

Keping-keping fakta lain.

Hurghada adalah salah satu kota yang terletak di pesisir laut Merah. Sebuah kota padang pasir, yang sudah tentu dikelilingi oleh padang pasir. Berurusan dengan padang pasir, pada hari ketiga angin berhembus kencang sekali sepanjang hari, dan apa yang terjadi, pasir dan debu di mana-mana, bergantung di udara, bahkan jarak pandang di darat pun kurang dari 500 meter. Seperti dalam kabut kuning kemerahan selama sehari penuh di kota itu.

Hotel tempat kami menginap hanya sebuah hotel bintang tiga. Hotel dengan gerbang yang memukau namun dengan kamar dan perabotnya yang tua. Padahal foto di websitenya lumayan lho. Jarak kamar kami ke lobby dan bar cukup bikin malas kalau ada yang terlupa, apalagi jika harus berjalan dalam kepanasan. Dan juga dilengkapi dengan kolam renang tidak jauh dari kamar kami, yang tidak sekali pun kami sentuh. Laut dan pantai jauh lebih menarik perhatian kami.

Kamar kami memiliki pemandangan yang indah ke pantai dengan laut biru dan bayangan pegunungan padang pasir di kejauhan. Romantis banget, sore-sore balik dari dive trip, duduk-duduk di balkon, menikmati pemandangan sambil menghirup kopi kami.

Dan hal yang membuat saya selalu tersenyum dan menebak-nebak "apa lagi hari ini?" saat kembali ke hotel setelah divetrip adalah kejutan kecil yang dibuat oleh para room boy yang membersihkan kamar kami.
Biasanya handuk hanya ditumpuk rapi di kamar mandi, namun oleh para room boy ini handuk-handuk itu dibentuk manis seperti bunga, atau angsa, hati, bahkan buaya di atas tempat tidur kami!! Kreatif!

Abo Aya, demikian nama restaurant yang kami dapatkan dari seorang crew di dive center ketika kami bertanya tentang restaurant yang menghidangkan makanan khas Mesir.
Kami pikir Abo Aya adalah sebuah restauran, ternyata Abo Aya itu lebih mirip depot lokal, rumah makan kecil, dan cara penyajian mirip dengan di rumah makan padang. Tinggal tunjuk mau pesan yang mana saja, kemudian pelayan akan membawa pesanan-pesanan tersebut dalam piring-piring kecil dan disantap dengan roti pita, roti pipih yang berlubang di tengahnya.

Kebanyakan makanan tersebut terdiri dari sayur dan rasanya... hmmm... mantap!! Maka yang vegie boleh berpesta di sini karena keragaman salad dan masakan lainnya.

Taxi. Kelakuan supir taxi di sini benar-benar cocok dengan peribahasa, karena nila setitik rusak susu sebelanga! Maka sudah jelas, saya tidak mengatakan kalau semua supir taxi di sini jelek, namun dua kali kami mengalami kejadian yang sangat menyebalkan dengan supir taxi.
Terlepas dari pengalaman tidak enak kami, yang pasti setiap kali hendak menggunakan jasa taxi kami harus tawar menawar dulu, walaupun di dalam taxi itu jelas terdapat argometer. Menjelang hari-hari terakhir berdasarkan pengalaman harga dan pengamatan argo hari-hari sebelumnya, kami memiliki trik untuk menawar taxi yang tidak perlu berlama-lama dalam tawar menawar harga.

Turis Rusia banyak sekali di sini sampai-sampai di bandara terdapat petunjuk dalam bahasa Inggris dan bahasa -tulisan- Rusia, di kamar kami beberapa petunjuk pun tertera dalam bahasa Inggris, Jerman dan komplet tulisan Rusia. Bahkan orang Belanda pun dituduh lancar berbahasa Rusia. Ah hahaha... ada-ada saja.

Para pedagang sudah tentu selalu berusaha menarik minat dan mengajak wisatawan untuk mengunjungi tokonya. Walaupun menurut saya, mereka sama sekali tidak menyebalkan, kadang-kadang kami malas juga jika dicegat oleh pemilik/pelayan toko souvenir ini, ditanya ini-itu, diajak bercakap-cakap. Dicuekin rasanya tidak sopan, tapi jika dijawab, pasti kepanjangan, sementara kami hanya ingin berkeliling menikmati dan mengamati suasana di daerah itu. Berhubung beberapa kali saya mendengar bahasa Inggris, Jerman, Rusia, Cina, Jepang, Belanda di sekitar saya, maka, jangan menjawab dalam bahasa itu, jawablah langsung dengan ramah dalam bahasa Indonesia. Ampuh!! Orang itu akan memandang saya dengan tertegun dan.. eee... eee... tersenyum.. dan itu saatnya saya tersenyum manis dan dengan halus mengucapkan bye-bye. Untung 'ga ada TKI di sekeliling saya!! Teethy

Liburan berakhir sudah, lengkap dengan cerita yang penuh warna, menyenangkan dan juga menyebalkan. Liburan yang menarik!

12 comments:

nie said...

wahhhhhh... jadi orang indonesia ada keampuhannya yah ternyata hahahah!!
Aku menikmati mbaca ceritamu, rasanya asyik sekali... cuma panasnya itu sama seperti panas yg kita rasakan saat ini di sini, untungnya ada kipas angin yg muter2 mendinginkan hehehehe...

Susan Harsono said...

tiap kali baca ceritamu.. komennya cuman satu...
serasa ikutan berpetualang hahahaha
thx sharingnya Since..
foto2nya luaaar biasaaaaaa...

Reth said...

Hixssss...wwwhuuuaaaaaaaa...

*smakin nangis kenceng ngebaca ceritanya*

Sirikkkk bin pengen...
hixs :(

Btw,
aku taunya luxor itu games computer sejenis tetris, ternyata ada yg beneran xixixixixix

Anonymous said...

lol pohon pisang :D

merinding eh rasnaya kalo ngeliat peninggalan sejarah

Theresia Maria said...

Cukup ngeliat poto2 ini aja deh gak usah kesana hehehe....panas ampe 42 bisa puyeng2 tuh!

amethys said...

sin...wah bener2 detail melebihi "lonely planet".....thx banget...aku ke luxor ya di Las Vegas...kekekekeke

tapi critamu bener2 menarik, palagi baca gimana menarik perhatian tourist untuk mampir ke tokonya...persis di Bali yah?

ditunggu crita selanjutnya

Anonymous said...

wah blom liat pisang indonesia sih, banyak macamnyaaa. kalah paling mesir :))

nice story mbak!

++retno

yenni 'yendoel' said...

wah, since, ajaib semua patung atau bangunannya yah! tapi 42celcius bok..gila...gak kebayang panasnya kayak apa!!!! kalo aku langsung tepar kali yah.. di antara reruntuhan patung2 itu. wakakakakakk! *psst.. banyak minum kali juga gak pengen pipis yah..soalnya semua langsung ngucur keluar jadi keringant*

kalo aku masuk toko parfum, langsung kliyengan kali yah... di china ada biro2 yg 'hitam' banget lho, sial kalo sampai ketemu. kalo gak beli, dikurung dalam toko, gak dikasih keluar. terus kalo misal tau tournya dari propinsi mana, terus ntar keluar orang yg ngaku bos, dari propinsi yang sama, kasih diskon gede dll. padahal ngibul aja sih.

itu room boy nya asli kreatif. gak pernah ketemu handuk yg dilipet2 dg berbagai ragam motif. boleh juga yah!

Hani said...

bener kata retno...itu bule bisa menganga liat pisang indo...hahaha

kreatif banget tuh handuk diuprek2 :D

foto2nya bikin ngiler pengen kesono...egypt...we are coming...very soon ;)

Zilko said...

Kalo pergi ikut tur sih emang gitu, banyak diarahin ke toko2 ato pasar2nya, haha. Tapi enaknya kita jadi ga usah repot2 ngurus hotel, transport, dll sih, hehehe... :)

Mesir memang eksotis yah, jadi tambah pengen kesana nih :D (Buset neh koq jadi pingin pergi kemana2 yah? LOL)

Veny said...

wahh Sin ... lo jalan2 mulu ye ..
g lom smepet baca2 crt full nya , td br nyampe dari spore , skrg dah mau bobo cape .tapi liat Mesirr g pgn bgt someday kesana ..
emang paling kesel kalo tour digiring ke toko2 ... sebelll !
g maren digiring ke Toko Teh , Tk Obat , Toko apa lagi yah atu lagi sebelll bgt !

Anonymous said...

duh...sin....enak banget sih jln2 melulu.....*ngiler*
itulah enaknya kl masih bulan madu berdua. ngiri.com.