Adikku, yang tinggalnya dari Denpasar harus ditempuh dengan naik mobil terus naik pesawat yang pakai acara transitnya juga, dan kemudian harus naik mobil lagi, memelihara dua ekor kura-kura sejak beberapa tahun yang lalu. Saat kura-kura itu masih sebesar koin Rp 100 hingga kira-kira sudah selebar permukaan kaleng minuman ringan.Beberapa saat yang lalu, pada suatu malam, salah satu dari kura-kura ini terlepas dari kandang dan kolamnya. Maka merambahlah kura-kura ini dalam dunia baru di hadapannya.
Keesokkan pagi, sudah tentu, terjadi huru-hara di rumah adikku, semua berusaha mencari kura-kura itu. Hasilnya, nihil.
Tak tahunya, ada dua anak tetangga usia taman-kanak-kanak menemukan kura-kura ini di halaman rumah mereka. Ya namanya juga anak-anak, pikir mereka menemukan kura-kura mungil seperti menemukan kupu-kupu atau jangkrik di halaman rumah. Tidak terpikirkan bahwa itu mungkin adalah hewan peliharaan orang lain.
Beda kalau menemukan anjing misalnya, langsung terpikir anjingnya siapa nih?
Eh... ntar dulu... itu pikiran orang dewasa.
Mungkin kalau pikiran anak-anak, "eh anjingnya lucu, aku mau punya anjing ini, mama".
Kali ya???
Balik lagi ke urusan si kura-kura tadi.
Maka bermain-mainlah kedua anak itu sepanjang siang dan sore dengan kura-kura temuan mereka itu. Hingga menjelang malam, sebelum kedua anak ini harus masuk ke dalam rumah dan tidak boleh bermain di halaman lagi, kedua anak-anak itu melepaskan kura-kura tersebut di halaman mereka. "Nah, kura-kura, kamu pulang ke rumahmu juga ya. Besok kita main bersama lagi."
Nah, si kura-kura itu bebas lagi untuk melanjutkan pengembaraannya di dunia yang luas ini.
Hari berikutnya, pagi-pagi, terjadi kegemparan di rumah seorang dokter, tetangga kedua anak-anak tadi. Mereka menemukan seekor kura-kura di teras rumah.
Bukannya berpikir, "Eehhh ada kura-kura di teras", atau, "Kura-kuranya siapa ya yang terlepas?" Tapi malah berpikir:
"Astaga!!!! Ini artinya jelek!!! Pasti black magic!!! Pasti ada yang berniat jahat pada kita dan mengirimkan guna-guna dalam bentuk kura-kura ini pada kita!!!"
Alamak!!! Yang bener saja seh bu dokter!!! Secara bu dokter gitu lho, yang pola pikirnya, mestinya, rada lebih ngembang. Tapi, ya itu yang pikiran mereka pada saat itu!!! Tanpa diselidiki dengan logis, langsung saja ambil kesimpulan black magic. Ampun deh!!!
Dan apa yang terjadi??? Sempat lho pakai acara sembayangan segala yang dipimpin oleh seorang pemimpin agama pula dan kemudian.... kura-kura itu pun dibakar!!! DIBAKAR!!!!

Yep, kura-kura tak bersalah itu pun dibakar sampai hangus dan dibuang!!!
Ya kalau dimakan namanya sate bulus donk. Tapi.. kalo disate'in juga paling seupil doank dagingnya tuh. Hussss!!!
Demikianlah ujung pengembaraan kura-kura yang berakhir tragis.
Kemudian, siang itu ada dua anak yang sibuk mencari teman baru mereka di halaman rumahnya. Begitu mereka dengar bu dokter membakar seekor kura-kura, proteslah kedua anak itu. "Itu pasti kura-kura kami! Kami kehilangan kura-kura kami. Kura-kura yang kami temukan kemarin di halaman rumah kami!!!"
Kira-kira, gimana ya reaksi keluarga bu dokter itu kalau dia tahu itu kura-kura milik adikku yang kabur dari kandangnya?
Kira-kira ada rasa malu pada dirinya sendiri 'gak sih kalau menyadari kura-kura itu bukan jelmaan guna-guna?
Atau sama sekali 'gak punya perasaan apa-apa?
Apa bu dokter itu punya banyak musuh ya, sampai segitu paranoidnya?
Kalau misalnya yang ditemukan di teras rumahnya tuh anjing, apa dibakar juga ya?
Mending dibikin erwe tuh, bu.
Aiiiih... kura-kura yang malang....
Ya udaahhh... kumpul-kumpul, meluncur di atas es sambil ngegosip aja.
Hoooiii temans... di sini masih ada air yang belom beku lho!!!
Yuppiieee... lumayaaaan bisa mbasah-basa'in pantat!!! Pfeeuuuhhh senenknya bisa renang lagi!! Tapi 'gak lama-lama aah. Dingiiiinnn!!!

