Wednesday, August 31, 2005

Bali

Catatan Perjalanan 1

Udara malam tropis yang hangat dan terasa akrab segera menyergapku saat aku menuruni tangga pesawat. Gejolak kerinduan yang begitu menggigit pecah dalam keharuan. Bali, aku kembali. Walaupun hanya dalam hitungan hari keberadaanku bersamamu kali ini.

Bali, 6 tahun saya lewatkan di pulau ini. 6 tahun terakhir sebelum saya pindah ke Belanda. Walaupun hanya 6 tahun, pulau ini menyimpan banyak cerita untukku. Di pulau ini saya ditempa menjadi pribadi yang lebih matang dan kuat.
Dan, di pulau ini saya juga pernah turut terjebak saat ledakan bom 2002 yang lalu.

Segera setelah keluar dari gerbang bandara Ngurah Rai, kami disambut oleh lalu lintas khas negriku Smile Terutama pengendara motor yang sering seenak mau mereka. Saya tersenyum sendiri, ah ternyata saya kangen juga pada suasana jalan yang semrawut begini.

Kembali mengendarai mobil di Bali memberikan sensasi baru, terutama setelah terbiasa dengan aturan main lalu lintas di Belanda. Saya menjadi lebih banyak perhitungan dari sebelumnya dan menjadi lebih galak pada pengemudi lain yang seenaknya. Tapi lama-lama ya capek sendiri. Lebih banyak pengemudi yang seenaknya daripada yang "waras". Tapi... yang namanya ngomel, tetap lancaaar Hysterical
Jelas sekali tipisnya toleransi antara pengguna jalan. Seolah-olah, suka-suka saya dong bagaimana mengemudi kendaraan saya dan memakai jalan ini. Kalau tindakan saya mengganggu kamu, itu urusanmu. Wah...

Reinier sempat bertanya padaku, apakah semua jenis pengemudi ini juga lulus ujian teori? Wah... jadi malu juga sih. Secara teori dan peraturan, ujian teori itu ada. Tapi dalam pelaksanaannya...? Sejujurnya, saya tidak pernah mengikuti ujian teori itu. Buku saku teorinya sendiri saya peroleh bersama dengan kartu SIM saya. Kartu SIMnya masuk ke dompet, buku teorinya masuk ke tong sampah. O-ow... Blushy



Instruktur mengemudi saya di Belanda sini, pernah menegur saya dengan galak saat saya menggunakan klakson di sini. Wah... bagaimana reaksinya ya kalau harus mengemudi di Bali? Goofy hehehe..
Bagaimana pun, saya sungguh menikmati saat-saat nyetir mobil di negriku ini. Lebih "hidup". Seperti sebuah petualangan.

Kami tidak banyak menghabiskan waktu pada objek wisata di Bali. Selain diving, kami lebih banyak menghabiskan waktu bersama keluarga. Melakukan kegiatan-kegiatan yang lebih akrab di rumah. Reinier bahkan sempat juga belajar masak dari papa.
Sempat juga kami menikmati sunset di Kuta.



Seperti kesepakatan kami, tidak ada diet selama liburan. So, selain membiarkan diri kami dimanja dengan masakan papa-mama di rumah, sudah pasti kami juga menyempatkan diri untuk menjelajah tempat-tempat enak. Hmmmm...Yowza


Jimbaran: seafood dan romantis

4 comments:

Anonymous said...

Aduh Sin, itu sunset..ckckckck..so beautiful!! Kami pernah lho nunggu sunset berhari2 di Kuta, nggak dapat mendung terus! habis Desember sih..he...he..he. Sin, makasih ya ceritanya ttg Bali, kami rindu juga lho kesana, aku nggak sabar nih nunggu cerita selanjutnya, cerita yg diatas khan baru pembuka ya, belum cerita utama, dsb..dsb..wah nggak bisa membayangkan, apalagi foto2nya nanti pasti hebat!!

Anonymous said...

wah aku malah blom pernah liat buku teori nyetir di indonesia mbak, aku sim tembak sih:P

kamu sempet terjebak peristiwa bom kmrn? wah, serem yak. cerita dong.

fotonya bagus ei, *sigh*

++retno

Hani said...

hoaaa jadi inget waktu kita ber-sms-an ria tengah malem abis kejadian bom itu...merinding ah :(

oom reinier, klompennya pas. cuma ma'apin ane ye, ane susye banget neh nyari kamera pinjeman, jadi si klompen belon ane pajang di blog...ma'apin ye (sin, si oom kira2 ngerti ndak...hihihi)

si inot said...

huwaaaaaaaa pengen pulang jugaaa.... biarin deh ada bom apaan juga, daku pengen pulang mbak sin...itu jimbaran sea foodnya romantis banget... kalau pacaran disitu seru yach.. kl dah kawin gini kali rasanya laen lagi dah gak dug dug syuuur kayak dulu zaman pacaran..kapan yach bisa pulkam lagi..