Pembaca dimohon jangan kabur yaa

4. Selatan ke Utara
Setelah black out sekitar 8 jam, rencananya sih hanya untuk pipis, eeehhh begitu lewat jendela dekat kamar mandi langsung pantulan warna subuh merebak menggoda mata. Arwah yang masih menggantung langsung kumpul menyatu, bangun beneran deh jadinya, ambil kamera klak klik klak klik. Maaf ya sayang, kamu jadi terbangun karena kesibukanku dengan tas kamera.Awalnya kami berencana akan terus ke selatan sampai perbatasan dengan padang pasir hari itu. Meyusuri padang pasir dengan menunggang onta, dan bermalam di tenda ala para musafir di padang pasir. Saya sendiri sudah membayangkan kesempatan untuk mengabadikan pemandangan padang pasir yang berbukit dan berlekuk-lekuk indah, yang disinari cahaya mentari senja atau saat terbit. Tapi rencana tersebut terpaksa harus kami batalkan. Panas yang menyengat membuat kami berdua menjadi cepat capek dan terus sakit kepala sejak sehari sebelumnya. Yup, harus realistis dengan antara kondisi alam dan tubuh. Bisa saja kami berdua ngotot terus ke sana, tapi untuk apa jika kami tidak bisa menikmati perjalanan itu.
Jadi kami putuskan untuk melaju sedikit ke arah selatan, menuju dunes Tinfou, kira-kira 20km dari Zagora, kota di mana kami menginap saat itu.
Dalam perjalanan ke bukit pasir Tinfou, di tengah jalan, kami tiba-tiba diberhentikan lagi oleh seseorang di tengah jalan di kota kecil Zaouïa, Tamegroute. Weit... apa lagi nih??? Mau tidak mau kami harus berhenti juga karena jalanan yang ramai dengan orang-orang. Tapi kami berdua segera setuju tanpa basa-basi, tidak ada lagi urusan menumpang mobil. Ternyata orang yang memberhentikan kami itu hanya bertanya jika kami ingin berjalan-jalan sebentar melihat-lihat sekitar situ, yang terkenal karena perpustakaan Koran (al-Quran) tertua, kerajinan tembikar dan kasbah "bawah tanah".
Hmmm.... menarik juga, mengapa tidak? Segera kami parkirkan mobil dan... sudah pasti orang yang memberhentikan kami itu otomatis menjelma menjadi guide kami.
Perjalanan dimulai dengan menyusuri kasbah "bawah tanah", yang pada kenyataannya bukan asli bawah tanah. Tapi merupakan kasbah, komplek tempat tinggal, yang tertutup rapat oleh tembok dan langit-langit dari tanah liat yang tebal. Hanya ada beberapa lubang di langit-langit kasbah untuk ventilasi dan juga untuk cahaya remang-remang yang menerangi dalam kasbah tersebut. Hal ini dimaksudkan untuk menjaga kesejukan udara di dalam kasbah. Wajar saja, katanya, di musim panas suhu udara di daerah selatan itu bisa mencapai lebih dari 40°C.Orang-orang yang tinggal di dalam kasbah ini berasal dari bangsa-bangsa lain di Afrika, seperti, Somalia dan lain-lain. Aduh, yang saya ingat kok hanya Somalia, yang lain saya lupa.
Tempatnya sendiri bisa dibilang kumuh, tapi tetap merupakan warna tersendiri bagi kami selama perjalanan tersebut, iya lah berjalan di tengah "perkampungan" lokal nan kumuh.
Perpustakaan Koran tertua juga menarik isinya. Tidak melulu hanya isi al-Quran dan kaligrafi-kaligrafi yang ada, tapi juga tentang ilmu pengetahuan lain, seperti biologi, astronomi, ekonomi dan matematika. Semuanya tertulis dalam aksara Arab dan dalam tulisan tangan tentunya. Ada lembaran-lembaran buku yang terlihat jelas sangat tua dan rapuh yang membuat saya berdecak, wow.
Sementara di pusat kerajinan tembikar, bisa ditebak, yang kami saksikan adalah proses pembuatan tembikar.
Prosesnya sih sama saja dengan proses pembuatan tembikar di mana-mana, hanya suasana sekelilingnya saja yang berbeda. Dan, gara-gara membuat foto di sana, saya tiba-tiba dihampiri oleh seorang pekerja dan dimintai duit karena saya membuat foto mereka. Ya sudahlah, rangoh sana-sini nyari duit kecil.. wah... benar-benar tidak banyak. Segera semua duit kecil itu berpindah tangan, walaupun dengan tatapan galak orang itu karena sudah tentu merasa tidak puas dengan jumlah yang saya berikan. Maap ya pak ya, emang cuman segitu yang kami punya, beneran, liat nih.. celoteh saya dalam bahasa ibu dengan tatapan tanpa dosa sambil mengibas-ngibas dompet saya yang kosong karena isinya memang sengaja dibatasi sampai seminim yang diperlukan saja.Hihihi... walaupun sambil ngedumel, berlalu juga orang itu dari hadapan saya.
Yang bikin kesel ujung-ujung acara jalan-jalan, saat kami memberi tip pada si guide, eh... dia minta juga uang masuk ke kasbah. Lha.. mana karcisnya, enak saja. Itu kan hanya kasbah biasa saja, bukan kasbah seperti di Aït Benhaddou yang lengkap dengan karcis tanda masuknya. Kalau sekedar sumbangan, kami tidak keberatan, tapi ini jelas-jelas duit itu bakalan masuk ke kantong orang itu sendiri. Doh, pak, tip untuk anda itu kan sebenarnya sudah cukup gede.
Dari acara jalan-jalan kecil itu, kami langsung ke Tinfou. Pemandangan kiri-kanan jalan benar-benar datar, kering, coklat, dan hampir tidak ada tanda-tanda kehidupan.Tinfou sendiri adalah bukit pasir yang digerakkan dan dikumpulkan oleh angin. Bukit pasir ini bisa saja bergeser agak ke kiri atau ke kanan tergantung bagaimana kekuatan dan arah angin.
Kami hanya memandang tinfou dari kaki bukit pasir itu saja. Ada sih para penunggang unta yang menawarkan para wisatawan untuk menulusuri dunes itu di punggung unta. Tapi saya yang benar-benar kepanasan. Ini kepala langsung nyut-nyutan saat keluar dari mobil.Kata orang sana sih, kalau mau ke padang pasir, mending datangnya di bulan April, saat temperatur masih sejuk.
Dalam perjalanan balik ke Zagora, di tengah jalan yang panas sampai terlihat perbedaan aliran temperatur di udara, kami berjumpa dengan beberapa orang Eropa yang "kurang waras", menurut pendapat saya, yang sedang bersepeda dengan wajah yang memelas karena kepanasan.Saat berjumpa dengan grup sepedaan begitu di Bedugul Bali saja saya sudah geleng-geleng kepala, kurang kerjaan orang-orang ini. Tapi ini, di tengah panasnya daerah pinggiran padang pasir di tengah hari??? Kurang waras kan??
Isenk, kami mencoba rute off-road yang pendek, tapi belum juga 5km, kami memilih balik, mengendarai mobil di jalan aspal yang mulus. Rute off-roadnya terlalu berat untuk mobil sewaan kami yang mungil itu. Memang rute untuk mobil 4WD. Kalau diteruskan bisa runtuh satu per satu badan mobil sewaan kami tuh.
Berhenti di sebuah restauran yang terlihat adem dengan pohon dan tenda di halamannya untuk melepaskan dahaga. Panas-panas paling asyik kan Coca cola super dingin!!
Saat sedang menikmati minuman kami, datang pelayan restaurant dan berbincang-bincang dengan kami. Sungguh, itu saat yang pertama kali kami berbincang asyik dengan orang "lokal". Pengetahuannya cukup luas untuk informasi-informasi yang kami perlukan.
Tapi di ujung percakapan yang membuat kami berdua berpandangan, berdecak jengkel tapi kemudian tertawa di mobil adalah kami berdua digiring ke toko souvenirnya di depan restaurant itu.
Ah, apakah semua keramahan yang ada hanyalah kedok? Mengecewakan.
Hari itu juga termasuk hari yang sangat aneh bagi saya. Entah kenapa dua kali saya "ditusuk" pada hari itu.
Ceritanya bermula dari saat saya hendak keluar dari mobil yang diparkirkan di depan sebuah rumah makan untuk makan siang. Tiba-tiba, saya merasa perih dan sensasi terbakar, panas di ketiak bagian belakang. OOUUUCCHHH!!! Takutnya tuh ada semut merah gede yang mungkin jatuh dari pohon di kaos saya dan merayap ke dalam. Ngeri kan?
Tapi ternyata, yang menyengat saya itu adalah tawon!!! Lha?? Gimana tuh tawon nyasar ke dalam baju saya ya??? Kesimpulan yang ditarik dengan sangat pede adalah ketek saya harum semerbak!!!
Lega juga sih, karena saya tidak memiliki alergi terhadap sengatan tawon. Paling juga hanya perih sebentar kemudian hilang diganti gatal sesekali selama beberapa hari.
Nah, tusukan kedua terjadi pada malamnya saat kami sedang makan malam. kali ini bukan tawon, tapi orang kurang waras!!!Saat kami sedang menunggu pesanan kami di teras sebuah restaurant, saya sempat melihat ada orang gila di jalan yang berteriak-teriak dengan suara gede dan berusaha membuat percakapan dengan orang-orang yang ditemuinya. Tidak menakutkan jadi ya biar saja, toh dia di jalan.
Nah saat makanan kami tersaji dan saya sedang asyik menikmati hidangan itu, tiba-tiba saya mendengar ada orang berteriak-teriak di samping saya, ya yang namanya saya kalau sudah asyik dengan makanan, super cueknya muncul. Mungkin orang gila itu sedang berusaha bercakap-cakap dengan orang di meja sebelah, pikir saya. Belum juga semenit ribut, tiba-tiba ada hantaman tusukan di punggung saya!!! Duh!!
Apa-apaan ini!!! Tapi ketika saya tengok, itu orang gila jauh di jalan sibuk dengan orang lain, ya bukan dia. Siapa dong?? Kata yayank yang juga masih setengah terkejut, ada perempuan setengah baya yang datang tiba-tiba, menggonggong kencang, langsung menghantam punggung saya dan terus lari menghilang!! Lha??? Kenapa?? Apa yang membuat orang itu kesal pada saya? Baju yang saya kenakan juga sopan kok.
Untung juga dia nusuknya pakai ranting pohon kering yang rapuh, jadi langsung patah rantingnya, tanpa melukai saya. Tapi lumayan perih boo.
Ah... lihat bulan naik, pantesan, purnama, banyak orang gila kambuh. Apa hubungannya ya?? Asal!!
Puji Tuhan tidak ada hal-hal yang sampai membahayakan keselamatan kami berdua.
Oh ya, kali ini kami mendapat hotel yang sederhana di tengah hamparan pohon-pohon kurma. Baru hari itu, dan hanya hari itu, kami menikmati berada di tengah hamparan padang pohon kurma.
Keesokan pagi, bangun pagi dan menyaksikan burung-burung yang sibuk meloncat dan bekicau dari ranting ke ranting pohon yang ada di dekat jendela kamar dan sarapan pagi di bawah pohon kurma.Agak menjengkelkan karena hari itu saya kena diare dan perut yang perih seharian gara-gara sehari sebelumnya saya minum terlalu banyak minuman bersoda.
Yayank rada-rada kuatir juga untuk melanjutkan perjalanan dengan kondisi diare saya, tapi saya yang ngotot untuk melanjutkan perjalanan. Walaupun daerah sekitar hotelnya indah tetap saja malas saya berlama-lama di sana.
Sengaja kami ambil rute lain untuk kembali ke Marrakech. Awal perjalanan sama sekali tidak termasuk dalam rute turistik. Tapi harus kami akui, jalan-jalan di Maroko termasuk lebar dan mulus!! Walaupun tidak banyak dilewati oleh kendaraan. Misalnya pada hari kelima ini, ada sekitar 200km yang kami tempuh dan hanya pada daerah-daerah perkotaan yang kami temui banyak kendaraan. Sisanya di daerah luar kota berpapasan dengan kendaraan lain bisa dihitung dengan jari tangan. Bahkan ada rute yang sama sekali kosong!!! Kami adalah satu-satunya pengguna jalan itu. Saat cek sinyal hape, kosong boo!!! Astaga, benar-benar jangan sampai ada masalah dengan mobil di rute itu deh. Menakutkan!! Bisa-bisa kami sudah menjadi dendeng saat orang menemukan kami. Hihihi... hiperboliknya keluar dah.Untung selama perjalanan diare saya tidak kambuh, hanya perih yang sering menggigit. Uh amit-amit deh, wc umum atau wc di restaurant yang bersih di Maroko tuh barang SUPER LANGKAH!!! Beberapa kali saya kebelet pipis, tapi membayangkan kondisi wc-nya... ditahan deh sampai daerah luar kota yang tidak kelihatan kehidupan, buka pintu mobil, cek kiri-kanan, muka-belakang, atas-bawah dan... meluncuuuuuuuuuuuurrrr.... uhhhhh legaaaa!!!
Anak-anak di rute ini juga jauh lebih ramah dan bersahabat, selayaknya sifat anak-anak. Jika kami berhenti untuk sekedar meluruskan kaki atau untuk memotret, kadang mereka menghampiri, menyapa, tersenyum, mengamati kegiatan kami dan gembira jika kami menawarkan permen. Kadang kami disapa dan mereka langsung berlalu. Kadang kami bahkan dicuekin. Rasanya lega seperti berada di alam yang normal. Apa mungkin karena daerah ini tidak termasuk daerah turistik atau karena alam lebih ramah di sini?Satu lagi yang sempat saya perhatikan, penampakan orang-orang di jalur ini sangat berbeda dengan di jalur saat kami ke Selatan. Padahal masih satu garis pararel di High Atlas.
Orang-orang di rute ini berkulit lebih terang dan rata-rata berwajah agak bulat dibandingkan dengan di rute sebelumnya yang berkulit lebih gelap dan berwajah lonjong meruncing.
Makan siang, saya inginkan sesuatu yang tidak terlalu berminyak mengingat kondisi perut saya. Tapi ternyata yang ada hanyalah TAJIIIIIIIIIIN lagi.
Heran, padahal ada lebih dari 200 jenis resep yang ada di buku kumpulan resep masakan Moroko. Tapi selalu tersaji di restaurant selain bakar-bakaran, adalah tajin. Itupun hanya dua macam, tajin kefta dan tajin sayuran. Menu yang sama di hampir semua restaurant/rumah makan di sana terutama yang di kota-kota kecil.
Pernah kami melihat daftar menu yang super panjang. Tapi pesan ini, 'gak ada, pesan itu, 'gak ada. Apa dong yang ada? Tajin kefta dan tajin sayur. Doh, lu lagi lu lagi!!

Tajin dengan bumbunya yang pekat memang enak, tapi kalau 5 hari berturut-turut makan tajin?? Ampun dah!!!
Menjelang sore, saat hari makin dingin dengan mendung tebal dan hujan, kami tiba di puncak pass, tizi n'Test. Jalan yang berliku, curam dan sempit. Bikin deg-deg'an juga, terutama jika harus berpapasan dengan mobil lain. Kadang saking sempitnya jalan, salah satu mobil harus berhenti, menepi mepet di dinding gunung. Sisi sebelahnya langsung jurang yang dalam.
Yang bikin tambah deg-deg'an lagi saat hampir mencapai puncak, kabut yang tebal turun dengan cepat. Jarak pandang langsung tinggal beberapa meter di depan mobil. Walaupun saya terbiasa dengan kabut tebal Bedugul, tapi dengan jurang di satu sisi jalan.. wiiiihhh....
Dan begitu tiba di balik puncak, keluar dari kabut, kami langsung disambut cahaya mentari yang hangat dan hijau pepohonan. Benar-benar berbeda dari sisi di balik puncak itu.Perubahan alam ini selalu membuat saya berdecak kagum.
Menjelang malam, kami menemukan sebuah hotel mungil yang lengkap dengan restaurant yang mungil dan hangat dan kolam renang. Uh, saat kami begitu keukeuh untuk berenang karena kepanasan, kami tidak menemukan kolam renang yang "pantas". Dan ini, kolam renang yang begitu menggoda, tapi udara sekitar cukup bikin menggigil tanpa sweater. Baru menyentuh air kolam dengan kaki saja sudah... brrrrrr...
Makan malam yang romantis, walaupun tanpa gaun yang manis dan rasa makanan yang hanya so-so, dan malam itu adalah pertama kalinya kami mencicipi wine selama perjalanan kami dari hari pertama. Moroccan wine. Hmmm... lekker.Bersambung..


23 comments:
wah kalo gitu mental orang2 di sana uda bener2 mental 'mau duit sebanyak2nya' yah, uda kaya di Bali, hmmm... . Cuma dikit yg ramah bener2 ramah itu aja di daerah non turis, wah... . Kayanya pada menyebalkan yah, LOL
baidewei, foto pohon2 kurma di tengah gurunnya keren bgt tuh!! hahaha... :)
Dimaapkan..dimaapkan, tenang saya ndak kabur kok. Hehehehe :P
Apa kesamaan orang² Maroko ma orang Indo? Sama² mengidap paham ada udang dibalik rempeyek, ituuu...yg nawarin nganter ketempat ini lah ketempat itu, dan ujung²nya tangan menadah minta pembayaran. Parahnya, masa minta bayar cuma karena qta abis ngabadiin dia dalam bentuk gambar?? Narsis nian ya, ekekekekek
Eniwei,
tawon maroko yg aneh ya, doyannya nyium bau ketek *snif..sniff*
wakakakakakak :D
Iya Sin, aku jadi datang tanggal 23 May kemarin tapi lansung jalan mumpung punya multiple enrty, narsis banget ya....capek juga, boyongan 2 jagoanku muter-muter. Kemarin baru beres catatan sipilnya sepupu, besok kita lanjut jalan lagi trus balik netherland tgl 12.
wuih, masih bersambung lagi critanya ke maroko?! lama2 mirip cerbung sin? :D
kaget aku mbak kamu ditusuk, kirain piso. tetep aja aneh yak. apa coba maksudnya. penasaran sama rasa tajin. di sana banyak makan daging biri2/lamb ya?
++retno
gileeee...gw kalo liat padang gurunnya yak, berasa panas dan gersang aja.... tuh orang2 pada nekat amat sepedaan gitu... ck..ck..
gile..dimana2 duit yak? cara marketingnya bole juga yak.. :)
dan gileee lage... tuh perempuan kok bisa nubruk loe gitu... tetep aja sakit kali meski cuman ranting rapuh...
btw, gw baru kali ini loh liat yayank loe... hehehehe :)
abis ini liburan kemana lage yak?
Sin, petualangan ke marokonya bener2 seru banget yah? waktu dikerubutin orang2 ga serem lo?
ternyata ada orgil jugak yah di maroko? hehehe...
gw penasaran sama ibu2 yang nusuk elo. ada masalah apa si? ono ono wae..
seneng baca postingan lo, berasa gw yang berpetualang ke maroko. hehehe..
ih kabut tebal gitu ngeri bgt ya.. aku pernah ngalamin (gerben yg nyetir)..duhh serem bgt, kayak org buta aja, gak keliatan apa-apa. takut bgt, pdhl sebelahnya gak ada jurang, hehe..
di foto yg terakhir lagi makan malam itu..liat deh bapak yg di blkg..memandang dg sinis ke kamera..? hihihi..
akhirnya diteruskan lg ceritanya. Seru banget perjalanannya.
Sin , di bandingkan dengan orang marokko yg tinggal di belanda , apa mereka memang aslinya kalau ngomong terkesan ngoto gitu ?? penasaran ajah ..
wah ceritanya super lengkap Sin , juga foto2nya yg bagus bikin komplit .. top deh
ngoto = Ngotot , maksudku :)
masih bersambung??? :-o
ditunggu deh ceritanya, drpd mesti ke maroko hehe ...
btw, tajin tuh bahasa maroko juga? (dr bhs arab gitu???)
terakhir: iya tuh di potret yg paling bawah ada bapak yg ikutan nglirik ---> jangan2 minta dibayar tuh soalnya ikut dipotret hihi ...
since..
pernah ikut kursus fotografi atau sejenisnya?
karena jujur itu pic bagus dan komposisinya pas banget.
ngiri deh
sha
hwhahahha itu pak haji paling bawah ikutan mezenk. ntar dia tau dipajang di blog, minta duit pulak hahhaha
wuahaha tawon aja demen ama loe apalagi orang sableng haaaahahah
jadii pengen banget ke marocco nih, tapi sebelumnya gue mao ke israel dulu hehehehehe....asik yah kayaknya di marocco :D
wuihhh dunes....jadi kebayang antara Yuma dan San Diego.....ada dunes juga tuh.
Klo dikau ke Canada Sin, banyak hi way yg sepi juga...he he
Nice posting, kayanya "petualangan" mu membuatku melongo......dikau tangguh....dan cerita dikau melebihi "lonely planet"....nulis guide book dunk Sin...
yg naek sepeda asli gila, cuma liat gambarnya aja udah kerasa crocohan keringatku (berasa panas, hueheheheh).
hihihihi, baunya laen daripada yg laen makanya si tawon penasaran :D
dooh orang2 disitu kog dikit dikit duit dikit dikit duitt, amsiong dah wkwkwkwk.. yang pasti kudu sedia banyak recehan and permen kali ya biar selamet
emang pake minyak nyong2 apaan Sin sampe tawon aja main tusuk hehehehe...
btw, UUD di mana2 yach...ujung2nya duwit!
waduh ci, kayaknya sdg around the world in 80 days bener ya..
emang kudu banyak modal tuh biar aman..
thank's dah mampir ke blog saya ya..
salam kenal
aduh senengnya bisa keliling keliling...
wah itu tembikarnya cakep sekali yah....kalo cuman liat sekejap, pengen gue makan :P
Post a Comment