Friday, September 01, 2006

Surabaya oh Surabaya. (3)

Catatan perjalanan 3.

Setelah mempertimbangkan ini-itu, akhirnya kami memilih untuk menghabiskan 4 hari dalam minggu ketiga di Surabaya, satu dari beberapa lokasi tujuan "jalan-jalan" yang ada dalam daftar kami.
Awalnya kami ingin menggunakan bus dari Denpasar ke Surabaya, dengan gaya backpacker, karena Reinier ingin sekaligus melihat-lihat pemandangan sepanjang perjalanan. Ternyata setelah dicari-cari, dari informasi yang kami peroleh bisa dikatakan tidak ada bis eksekutif pagi yang melayani trayek Denpasar-Surabaya, karena satu-satunya bus eksekutif pagi yang melayani trayek ini juga memiliki jadwal yang tidak jelas. Yang tersedia hanya bus patas. Uh... 'gak janji deh pakai patas lagi setelah pengalaman terakhirku dengan patas enam tahun silam.
Sisanya adalah bis/travel malam.
Wah.. kalau malam, bakalan tidak banyak yang bisa dilihat dari balik jendela.
Akhirnya kami putuskan untuk menggunakan pesawat ke Surabaya.

Di pesawat, dari tempat dudukku bisa aku lihat sayap pesawat yang ternyata ada sekrupnya yang bolong. Wahh...
Sebenarnya sadar 'gak ya teknisi pesawat yang memeriksa kelayakan pesawat sebelum terbang, atau para awak pesawat yang ikut terbang ini?
Atau, bolong satu sekrup sebenarnya tidak ada masalah? Hmm Entahlah..

Tiba di Surabaya kami dijemput oleh Febby, sepupuku. Malamnya kami lewatkan di Kya Kya. Ternyata ada dua Kya Kya sekarang. Sepengetahuanku Kya Kya adalah daerah orang berjualan makanan dengan gerobak sepanjang jalan Kembang Jepun di malam hari. Jalannya sendiri bebas kendaraan kalau sudah malam, dan atas jalan tersebut digelar kursi dan meja untuk para pengunjung. Kya Kya ini juga pekat dengan nuansa oriental.
Aku, dan juga Reinier, lebih menyukai suasana Kya Kya yang lama, yang terletak di jalan Kembang Jepun. Lebih gezellig.

Keesokan paginya setelah brunch, berDim-Sum ria di Tang Palace, JW Marriott Hotel, kami mengunjungi monumen kapal selam. Jadi teringat lagi, kakek guru pada masa mudanya pernah bertugas dalam KRI Pasopati 410 ini. Ah... jadi kangen kakek guru...
Psssst.. jangan tanya ya, apa yang sedang diintip Reinier lewat periskop itu Thinking

Dengan membawa perut yang masih penuh terisi dim-sum, kami melanjutkan acara jalan-jalan hari itu. Febby mengarahkan mobilnya menuju ke House of Sampoerna.
Rasanya setiap orang di Indonesia pasti mengenal Sampoerna, atau setidaknya Dji Sam Soe. Ya, apalagi kalau bukan rokok?

Aroma cengkeh dan tembakau langsung menyambut kami saat memasuki ruangan depan dari bangunan ini. Setelah menghabiskan beberapa menit dalam museumnya yang mungil, adem dan terawat rapi, kami menuju ke lantai dua. Di sana bisa kami lihat dari jendela kaca yang besar kegiatan para pekerja pabrik rokok yang sibuk melinting rokok.
Astaga!!! Sampai terpaku aku melihat kecepatan tangan mereka bekerja. Sampai-sampai pangling. Mereka lebih terlihat seperti mesin yang berbentuk manusia.


Di lantai 2 juga terdapat kamar khusus dimana pengunjung juga bisa langsung mencoba melinting rokok. Lihat saja foto di atas, bagaimana sibuknya Reinier mencoba menggulung rokok.

Hari kedua, setelah selesai brunch dengan nasi kuning Avon, kami bertolak ke Prigen. Taman Safari adalah tujuan kami hari ini. Tentu saja sempat terjebak macet yang panjang di ujung tol gara-gara urusan lumpur panas.


Foto di atas adalah potongan koran yang sempat aku beli saat di Indonesia, yang memuat gambar bagaimana kondisi desa yang terendam lumpur panas di daerah Sidoarjo. Gambar itu hanyalah satu dari sekian korban material dan mental yang dialami oleh penduduk di sana.
Ahh.. kesalahan yang berakibat sangat fatal!
Hingga saat ini, sudah beberapa bulan, lumpur itu masih terus mengalir menggenangi daerah sekitarnya.


Rumah-rumah tua yang masih terlihat sepanjang jalan, merupakan nuansa tersendiri selama perjalanan. Sayangnya kebanyakan rumah-rumah tua ini tidak terpelihara dengan baik.


Memasuki kawasan Prigen, atmosfir yang tadinya panas berangsur-angsur menjadi sejuk, lebih-lebih karena cuaca yang mulai mendung. Pemandangan kiri dan kanan jalan juga mulai berubah, lebih didominasi oleh hijaunya sawah.


Ada untungnya kami ke taman safari tidak pada hari libur. Suasana yang sepi memberikan keleluasaan untuk berhenti mengamati dan mengambil foto-foto satwa di sana, selama kami mau.

Tidak terasa sudah jam 5 sore saat taman safari kami tinggalkan dan bertolak ke Malang.
Di Malang, setelah menjemput Tasya, sepupuku yang lain, sasaran berikutnya adalah toko Oen.
Toko Oen adalah rumah makan yang ada sejak jaman penjajahan Belanda dulu. Suasana tempoe doeloe juga masih dipertahankan di dalamnya. Seragam para pelayannya juga putih-putih dengan model tempoe doeloe. Hanya satu yang kurang, kurang dikanji'in, jadi 'gak kaku mirip seragam jaman kolonial. Sayang, makanannya sendiri tidak istimewa.
Hartono, yang sebentar lagi menjadi suami Febby ikut bergabung dengan kelompok kami beberapa saat kemudian. Ramai jadinya.

Setelah bermalam di villa salah seorang famili Hartono di Batu, kami mengisi jalan-jalan pagi ke wilayah air terjun Coban Rondo. Sudah tentu harus berhenti beberapa kali sepanjang perjalanan gara-gara Since dengan kameranya Smiles
Eiitt... jangan salahkan aku, pemandangan serta hawa yang begitu sejuk dan segar terlalu indah dilewatkan begitu saja.

Kami beruntung, karena suasana di area Coban Rondo sendiri bisa dikatakan sepi. Hanya ada beberapa pengunjung yang bisa dihitung dengan jari-jari tangan. Suasana yang pas untuk menikmati sajian alam.
Gemuruh suara air terjun yang menghantam batu, yang di seling oleh sayup-sayup gemericik air dari celah-celah batu yang mengaliri sungai kecil di sana..
Membiarkan hangat sinar mentari mengelus kulit tubuh. Merasakan semilir angin yang membawa percikan-percikan air menyentuh dingin. Hmmm....

Lapar juga setelah berjalan-jalan, langsung saja kami menyerbu warung Bethania di Batu. Lesehan dengan ayam penyet dan tempe penyet, gurami goreng, kangkung cah dan lalapan serta sambal. Wahhh... kelaparan.. sampai tandas-das seluruh isi piring-piring itu.

Walaupun begitu, Reinier masih menagih janji Febby dan Hartono, makan sate kelinci! Batu kan terkenal juga dengan sate kelincinya. Jadilah mereka makan sate kelinci sebelum balik ke Malang.

Kangen, sudah lama tidak naik becak. Mana ada becak di Bali?
Ujung-ujungnya kami memilih untuk naik becak sebentar di Malang sebelum kembali ke Surabaya. Setidaknya udara Malang masih lebih bersih dan adem untuk berbecak ketimbang di Surabaya.

Sebelum balik ke Surabaya kami juga sempat mendengar bahwa terjadi macet yang parah di daerah Mojokerjo akibat tanggul penahan yang jebol lagi karena tidak bisa menahan resapan air dan lumpur, dan ditutupnya jalan tol. Bahkan ada pengemudi yang sudah terjebak dalam macet tersebut selama 5 jam!!! Wadauooo..!! Bisa-bisa tidak kembali ke Surabaya nih.

Berbekal peta untuk siap-siap mengambil jalan tikus, setikus-tikusnya, jika dibutuhkan, terus memantau laporan setiap perkembangan yang terjadi lewat radio Suara Surabaya, tidak lupa roti, air, dan camilan lainnya, kami membulatkan tekad untuk maju terus.
Puji Tuhan, macet yang kami alami hanya sekitar 30 menit dan jalan tol yang tadinya ditutup kembali dibuka tidak lama setelah kami berada di daerah sekitar sana.
Malamnya, sebelum kembali ke rumah Febby, kami bahkan masih sempat ber-ice cream ria di Sangrandi.

Hari terakhir, berhubung penerbangan kami kembali ke Denpasar jam 7 malam, kami masih memiliki waktu sepanjang pagi, siang dan sore untuk merambah kota Surabaya.
Kali ini Felicia, adik Febby, yang baru saja menyelesaikan masa ujiannya sepanjang minggu, ikut bergabung dengan kami.

Mobil diarahkan ke kawasan wisata Kenjeran, ah rupanya kami diajak melihat vihara Sanggar Agung. Febby yang bertindak sebagai guide kami selama di Surabaya dan sekitarnya ini menjelaskan, kalau patung dewi Kwang Im yang besar itu terbuat dari emas. Tadinya masih berwarna kuning emas sebelum kemudan dilapisi dengan adonan putih itu.

Febby, Hartono, Reinier, aku, dan Felicia, dengan latar belakang Budha berwajah empat.

Dari kawasan Kenjeran kami bertolak ke, tentu saja, pasar Atom. Surabaya belum komplit tanpa pasar Atom bukan?
Setelah berkeliling, makan dan membeli pernak-pernik ini itu, sekaligus memburu beberapa perlengkapan kamera, tiba saatnya kami harus menuju ke bandara.

Empat hari, memang terlalu singkat.

Thanks berat buat Febby, Felicia dan Hartono. Thanks berat buat waktu yang sudah kalian luangkan dan juga fasilitas-fasilitas yang sudah disediakan untuk kami.
Thanks untuk keramahan dan kehangatan ini.

Thumbs Up Kisses

Bersambung..

19 comments:

Anonymous said...

Wah... kali ini ceritanya beda ya......maksudnya nggak dari dunia laut, asyik, foto2nya juga oke seperti biasanya, cakep, terus terang foto2nya membuatku pingin liburan ke sana....bagaimana tidak....foto becak, Since ma reiner di depan meja penuh makanan (glek) , pameran pantatnya kijang, hi..hi...ada juga foto tempo doeloe yg item putih itu, klasik sekali, blom air terjunnya, kapal selam, sayap kapal terbang komplit!.... makasih Since ceritanya!

Di kota kecamatanku ada toko asia, tapi kalo mau yg komplit harus ke Hannover, atau ke Hamburg ke Toko Indonesia, tapi ya itu jauh. 1 1/2 - 3 jam an . Kalau aku sendiri sih bisa dikatakan jarang ke toko Asia, bisa 2 ato 3 bulan sekali, jadi nggak terlalu tergantung banget sama toko asia. Kalau benar2 kepepet, itu karena mo beli tahu..ha..ha... kenapa bertanya Since? , kalau di tempatmu pasti toko2 nya lebih komplit ya.

Ria said...

waduh since kamu jalan2 naik becak di kampoeng-ku ... aku kan jadi rindu! makan di bethania batu lengkap dengan poto lesehan *hiks*.
itu lumpur panas gimana? haduh jd mrinding ya ... kabarnya 5 meter diatas jalan tol tinggi lumpurnya skrg? dibendung gitu ...

nie said...

weee... enaknya makan es krim sangrandi n sate kelinciiiiiii!!! huhuhuhu... jadi ngiler :P
jadi inget dulu ke kenjeran deh, tp sudah lamaa banget huhuhu....
tp surabaya skrg tambah panas aja >.<
pasar atom... jadi inget sama kue dolarnya, enak banget hihih isampe yg lalu balik sini bawa seplastik :D

Zilko said...

Wah, kayanya asik yah, dah 2 tahun nih ga ke Surabaya, klo ke Batu udah lebih lama lagi aku terakhir kesana.... :)

Emang Kya Kya skarang ada 2 ya?? Aku juga taunya yang di Kembang Jepun itu...

Btw, pesawatnya apa sih?? Koq serem banget sekrupnya bisa bolong satu gitu?? Bahaya....

Ira said...

ach gileeee.... lengkap bener kunjungan... hikssss jadi nostalgia... warung bethania... duh lekker temen....

eh, aku malah belom pernah ke museum kapal selam lho hihihih malu-malu.com
abis.. tiap hari lewat jadi malah terasa nggak istimewa sama sekali...
museum sampoerna juga gitu.... wong aku dulu kerja di perush. trading tembakau.... kita supply tembakau ke sampoerna, djarum, GG dll hihihih... jadi bosen banget liat tembakau...
tapi abis baca cerita kamu, jadi pengin kesana... next time kalo kita mudik deh ..... thanks ya Since

Diva said...

jd kangen pgn pulang lagi hiks,apalagi ke sby,ga tau apa masih hapal jalan2 disana haha udah 7 thn ga mampir sby kangen makanan2 disana.

poto2ne mesra banget/bahagia Since..seneng liatnya.

Anonymous said...

Hi Since,

seru bgt nih acara jalan2nya:)waduh jadi kangen nih ama surabaya, ama makan dikembang jepun, dan bethania dibatu dan juga kekenjeran:)

Anonymous said...

Bis dari Bali ke sby emang berangkatnya sore dari bali jadi kalo sampe sby subuh gitu:) mending naik pesawat lebih cepet;)jadi rindu nih ama surabaya:)

Yulia said...

Asiiikkk..foto2xnya banyaaakkk..:D
Apalagi si Reinier ma elo romantis beneerrrr..pelukaaann teruuzzz..wakakakakkk..yg di deket aer terjun tuuuhh..mang dasar gak bisa jauh dr aeerrr...wakakakakkk..

Sin, Surabaya puanas banged yak..enam taun lalu gw kesono..duileee kalah Jakarta eui panasnya..cm 4 hr kita mabur ke Bali..kekekekkk..

Nambah dunk ceritanya..;)

Teng kyu loh dah bagi2x pengalaman indahh..cieeee..;)

Theresia Maria said...

wah seru banget liburannya...muter2 terus. fotonya bagus2 Sin, apalagi yang mesra berduaan ama suamimu.

si inot said...

wah guidenya boleh juga tuh. kl kami pulang ke sub, gak ada tuh mbak sin yg nganter2.semua sibuk sendiri2. kerja dr pagi sampe malam. jadi kita banaykan di rumah sampe sebel, abis gak tau jalan lagi dan gak ada yg anter2. kerja kerja dan kerja aja orang rumah. dus, bener2 baik2 dah sodara2mu itu. jadi ngiri.

Innuendo said...

sinceeeee.....satu persatu donk say huhuhu...dari pesawat bolong sampe air terjun hehhe...

dari bandung ke jogja, pesawat yg aku tumpangi juga bolong hahha

eh padahl aku pengen ke coban rondo...jadilah liat picnya doank. thanks ya

SinceYen said...

@Ash
Emang paling asyik naik becak, Ash.
Tapi kadang suka kasian juga kalo yg narik becaknya udah tua.
Ayam, tempe ato telor penyet yg penting sambelnya boo..

@Ely
Hihi.. boleh ni Ely, dijadiin referensi ya kalo balik ke tanah air lagi nanti :)

@Ria
Sengaja fotonya di kampungmu Ria. Biar ada yg mau mlototin foto2ku :D
Lumpur panas itu... kasian banget ama penduduk yg kehilangan harta benda plus tanahnya itu. Penyelesaian ganti ruginya?? Haha.. belum ada kejutan.

@Nie
Surabaya mah dari dulu juga panas. Nusuk kulit lagi panasnya :(
Kalo kamus dalam kepalaku sih; pasar atom = jajanan enak!!! Hehe..

@Zilko
Itu dia Ko, aku juga taunya cuman satu.

@Ira
Kalo ke Monkasel sih aku udah pernah sebelumnya, gara2 kakek guru. Tapi kalo ke Sampoerna, jujurnya sih kalo aku datang sendiri ke Sby, belum tentu aku ke sana. Gara2 bareng si Reinier nih.
Tapi jujur nih masih ada beberapa tempat yg pengen aku kunjungi di Sby. Next time..

@Biru
Aku malah 'gak pernah hapal jalan di Surabaya, padahal udah beberapa kali ke sana.

@Leni
Ada bis pagi, kalo 'ga salah sih Jawa Indah, apa..? Masalahnya, jadwal datang 'gak jelas. Suka2nya aja. Kadang datang, kadang kagak. Sama aja bo'ong kan??

@Yulia
Pssst.. romantisnya cuman buat di foto doank kok. Kan 'gak lucu kalo foto jauh2an. :)) Hahahaha...
Emang Surabaya panas Yul. Tapi tetep asyik kok.

@Tiwi
Mumpung masih bisa en masih punya waktu buat mesra2an Wi :)

@Ina
Iya, thanks banget nih buat mereka. Sibuk-sibuk juga tetep ngeluangkan waktu buat kami.

@Dian
Lagi trend kali ya, mur bolong di sayap pesawat :P

Anonymous said...

benar2 liburan yg mengasyik kan ya Since...cah kangkung...slurupp,gw paling doyan tuh :)
hayuuuuk...bersambungnya jangan lama2 ya since.

Anonymous said...

Indaaahhh nyaaa... skali terjang, Denpasar Surabaya-pun di sergap :)...Asyik banget itu Si abang Reiner duduk di Becak..menikmati pemandangan kota Malang ya Mas ??? he he ;)...

XXX Shierly
http://www.freewebs.com/shierlynet/homepage.html

B-a-r-r-y said...

Wah serius nih liburan nya. Jadi mau pesan makanan indo. Memang tidak ada duanya. yum..

Anonymous said...

waaah jgn naik jawa indah deh, mending naik yg jelas juntrungannya:) aku dah lama bgt ndak pernah naik bis lagi la wong hrg tiket pesawat en bis ampir sama hehehehe yg samporna itu juga aku ndak pernah kesono:)

Xty said...

alamaaaaaaaaaaaak tuh becak, mao naik becak mak mao becak :P

Anonymous said...

Saya yang udah 7 tahun ada di Surabaya aja belum pernah keliling2 ke Monumen Kapal selam ma yg lain2 :-P