Rute perjalanan hari itu adalah menuju ke selatan, melintasi pegunungan Atlas (high Atlas dan anti Atlas), menuju ke padang pasir.
Pegunungan Atlas adalah pegunungan yang terbentang di sepanjang sisi utara benua Afrika, melintasi Maroko, Aljazair dan Tunisia. Pegunungan Atlas yang melintasi Maroko terbagi atas 3 bagian menurut ketinggiannya. Middle Atlas, High Atlas, dan Anti-Atlas.
Begitu keluar dari hotel pagi itu kami langsung disuguhi keramaian lalu lintas ala Marrakech. Astaga, sampai pusing saya. Gila banget. Ya mobil, ya motor, ya kuda, ya keledai, ya manusia. Alamak, benar-benar chaos.
Malah beberapa kali pula lengan dan tas saya kesenggol tubuh pengemudi motor yang mepet banget dengan pejalan kaki. Walaupun lorong Medina yang sudah sempit, tapi motor yang lalu lalang kebanyakan 'gak kira-kira kecepatannya. Bahkan sekali saya sempat meloncat di lorong sempit itu gara-gara ada pick up yang mundur ke arah saya tapi si sopir sama sekali 'gak melihat dan mengontrol sekelilingnya lewat cermin-cermin yang ada di mobilnya itu. Saya lihat sendiri saat mobil itu melewati saya, kalau si sopirnya itu hanya memandang ke depan dan berbicara dengan kenalannya yang berdiri tidak jauh dari tempat itu. Orang tolol!!!
Bukan pemandangan aneh jadinya jika kebanyakan mobil yang kami temui di sana ada penyoknya!!!
Keluar dari Marrakech, suasana jalan lebih tenang dan lapang. Kami disuguhi dengan pemandangan pohon-pohon olive yang berbaris rapi disusul dengan pemandangan-pemandangan yang terasa gersang dan panas, sampai pemandangan yang penuh warna. Hijau warna daun, dipadu dengan tanah dan bebatuan yang berwarna merah bata atau kekuningan dan langit yang biru bersih. Indah. Walaupun begitu tetap saja keadaan yang "gersang" mendominasi alam di sana.
Saya terpana setiap kali melihat kasbah-kasbah dan desa-desa yang tampak di kejauhan.
Kasbah adalah kota tua islam/medina yang diperkuat dengan dinding kota yang mengelilingi dan melindungi kota seperti layaknya sebuah benteng. Sangat khas dan unik.
Mereka sewarna dengan warna tanah di mana mereka berdiri. Wajar saja, bangunan kasbah itu dibuat dengan bahan baku, tanah liat, yang ada di tempat di mana mereka dibangun. Dan sudah tentu warna yang sama juga membuat mereka tidak mudah dilihat dari kejauhan, yang pada jaman merupakan nilai plus untuk perlindungan kota.
Masalahnya akan datang jika curah hujan yang datang cukup banyak. Bisa dibayangkan rumah-rumah ini akan hancur karena air hujan tersebut.
Saya tidak tahu bagaimana kondisi perumahan di kota. Mungkin bangunan tua masih berbahan baku tanah liat, tapi bangunan modern sudah pasti menggunakan bahan yang lebih kokoh dari tanah liat.
Cara mendinginkan jeruk yang menjadi bahan untuk membuat juice juga alami. Jeruknya dimasukkan di ember dan embernya diisi air dingin dari keran. Ya dingin dah. Iya lah air gunung kan cukup dingin.
Ah ya, jus jeruk segar di Maroko adalah bagian dari minuman sehari-hari. Bisa sehari 3-4 kali kami menikmati jus segar ini. Di hotel saat sarapan pagi, di restaurant, di pasar, di pondok tepi jalan. Ada banyak perkebunan jeruk yang luas di Maroko.
Karena jalur yang kami tempuh merupakan jalur turistik, bisa diduga, toko-toko souvenir ada dan tergeletak di mana-mana. Dari tempat yang "wajar" sampai pada tempat yang menurut kami somewhere in nowhere!!! Dari yang wajar sebuah toko (foto di atas), sampai yang super simpel (foto di bawah).
Sebagian besar yang ditawarkan oleh toko-toko souvenir ini selain hasil kerajinan tangan yang berupa tembikar dan karpet, adalah fosil dan batuan mineral.Dan harganya??? Sering mereka berkata, di sini harganya lebih murah dari di Marrakech. Tapi jangan salah, kadang justru di sana lebih mahal daripada di pasar souvenir di Marrakech. Harus pintar menawar, tapi kadang sulit juga kalau kita tidak punya referensi harga pembanding.
Bahkan penjual batu fosil juga menawarkan jualan mereka secara perorangan di sepanjang jalan.
Kami yang terperangah. Tidak jarang di tempat yang begitu panas dan gersang, jauh dari kehidupan (baca: perkampungan), toh berjalan penjual batu mineral berteriak dan menawarkan dagangannya pada kami. Wah!!!
Bahkan sering jadi menyebalkan, karena saat kami berhenti di tepi jalan untuk sekedar memotret atau meluruskan kaki, kami harus berhadapan dengan mereka dan dagangannya itu. Dan walaupun tidak agresif, sebagian besar dari mereka tidak mau mengenal kata: tidak, no, nee, non, laa. Juga tidak mau mengenal bahasa Tarzan yang berupa gelengan kepala dan lambaian tangan menolak. Uh...!!!
Sekali dua kali sih oke-oke saja, tapi melelahkan dan menjengkelkan jika setiap kali harus menghadapi pedagang-pedagang ini.
Kadang-kadang saat kami berhenti pada tempat yang tidak terlihat "kehidupan" (baca: pedagang batu mineral), toch tiba-tiba saja mereka muncul entah dari mana dan sudah berada di samping kami. Ooouuuuugggggccchhh!!!!! Help me!!!!
Pernah sekali kami berhenti karena saya ingin memotret kasbah yang ada di lereng gunung. Begitu mobil berhenti datang langsung serombongan anak-anak sekitar 9-11 tahun dengan dagangan mereka yang berupa dedauan rempah yang sudah layu karena panas mentari. Namun ketika mereka melihat saya mengarahkan kamera saya ke arah kasbah di lereng itu, mereka langsung melarang saya untuk memotret dengan sangat agresif. Tentu saja saya bingung melihat keagresifan mereka. Bahkan ada yang sampai menjadi beringgas dan hendak menarik kamera saya. Hou.. hou, anak-anak... Tidak boleh foto? Okey, saya tidak memotret. Kerasukan apa sih kalian ini.
Ya sudah, saya masuk kembali ke mobil. Eh itu anak-anak datang lagi dengan wajah yang manis menunjukkan dagangannya ke saya. No!!! Laa!! Wah... jadi beringgas lagi. Emang gue pikirin??
Tapi kemudian yang terjadi, saat mereka melihat cola Reinier yang tinggal setengah botol di mobil, jadi makin beringgas. Cola... COLA... COLA... Tadinya sih pengen cuekin saja dan langsung pergi, tapi begitu melihat mata mereka saat melihat cola... sungguh, saya merasa tidak tega juga. Ya sudahlah, cola setengah botol itupun segera berpindah tangan ke anak-anak itu. Ah...
Pernah juga saat mobil sedang parkir, datang seorang anak pada saya dan meminta Dirham (mata uang Maroko). Saya hanya menggelengkan kepala. Tiba-tiba dia melihat botol cola yang isinya juga tinggal setengah, dan bisa ditebak, dimintalah cola itu. Dan karena mintanya dengan manis, maka segera berpindah-tanganlah botol tersebut. Doh... girang sekali ekspresinya.
Pernah juga kejadian dengan anak-anak di salah satu kota di sana. Kami baru saja dari supermarket dengan belanjaan kami dan ice cream. Begitu kaca jendela mobil saya turunkan untuk mengeluarkan udara panas dari mobil, berdiri seorang anak di sisi jendela mobil dan meminta Dirham. Laa, tidak, kata saya. Bon-bon (permen) yes, sambil menyerahkan beberapa permen ke tangan anak itu. Dia tersenyum dan merci ucapnya. Tiba-tiba muncul anak kedua yang melihat anak pertama diberi permen. Dia mengulurkan tangan, ya saya beri permen juga. Tapi tidak katanya sambil menunjuk ice cream di tangan kiri saya. Tidak, kata saya sambil menaikkan jendela mobil. Eh... ternyata anak itu dengan lancangnya memasukkan tangan ke mobil untuk merebut ice cream pas saat kaca jendela mobil secara elektris tertutup. Ya terjepitlah tangannya di sana. Mengaduh-aduhlah dia. Tinggal saya yang kaget dan cepat menekan tombol untuk menurunkan kaca jendela. Kaget karena bukan maksud saya menyakiti anak itu. Kata Yayank, biar saja, itu pelajaran buat dia.
Sering kami bertemu dengan anak-anak yang meminta uang pada kami. Kadang dengan alasan menjaga mobil kami saat parkir atau sama sekali tanpa alasan, hanya meminta uang. Makanya kami sediakan saja permen di mobil.
Saya jadi bertanya-tanya, apakah alasan dari perbuatan mereka itu adalah faktor ekonomi dan... menjadi kebiasaan karena "dimanja" oleh para turis yang berkunjung ke sana?
Tidak berarti bahwa semua anak menjengkelkan. Ada juga anak-anak yang manis-manis, ramah, yang menyapa kami tanpa meminta apa-apa. Tersenyum, melambaikan tangan, atau berteriak bonjour. Selayaknya anak-anak dengan kesederhanaan di dunia mereka.
Ini dia mobil sewaan kami. Simpel tapi tangguh. Tadinya pengen ambil 4WD, biar bisa ambil jalur off road. Tapi mahaaal boow biaya sewanya.Dan selagi bininya asyik bidik sana-bidik sini, si yayank dengan cepat meneliti peta jalur kami. Sepertinya berusaha meyakinkan diri sendiri kalau navigatornya tidak memilih arah yang salah.
Ah, padahal walaupun sering kesasar tanpa peta, sebagai navigator, saya termasuk bisa diandalkan.
Perut perlahan-lahan mulai menggeliat. Saatnya untuk mencari restaurant. Tidak terlalu sulit untuk mencari restaurant "lokal" sepanjang perjalanan kami. Sebuah restaurant "lokal" selalu ditandai dengan sederetan tajin di depannya. Tajin adalah pot untuk memasak khas Maroko, terbuat dari tanah liat dengan penutup yang berbentuk kerucut.
Dan menu makan siang kami hari itu adalah tajin sayuran (sayuran yang dimasak di dalam tajin), brochettes sapi (sate sapi) dan ayam bakar. Menu yang ternyata terlalu banyak bagi kami. Plus jus jeruk segar tentunya.
Nah, ini baru namanya makan!! Tajin sayurannya nikmat dan bumbunya terasa sekali. Brochettes dan ayam bakar juga terasa bahan rendamannya, bukan sekedar daging yang langsung dibakar tanpa bumbu apa-apa. Jauh beda dengan rasa makanan yang kami temui di Djemaa el-Fna.
Perut kenyang, lanjut lagi perjalanan melewati jalan yang berkelok-kelok mengintari satu bukit ke bukit lain menyeberang high Atlas. Jalan yang sungguh memukau, melewati Tizi n'Tichka (Pass Tichka) di ketinggian 2260m.Wow!! Kagum kami melihat bagaimana indahnya jalan ini. Benar kata banyak orang, spektakuler.
Sudah pasti berhenti sejenak untuk membidik lewat lensa kamera. Pfffeeuuuh... untung tidak ketemu penjual apa-apa kali ini.
Jalan pegunungan yang berkelok-kelok tentunya juga merupakan surga untuk pengendara motor. Sering kami temui pengendara motor dengan papan nomer dari Perancis. Perjalanan yang cukup jauh, bermotor ke Maroko selatan dari Perancis.Mungkin itu sebabnya sering sekali kami melihat orang-orang yang berusaha untuk lifting sepanjang perjalanan. Lelaki dewasa, dan paling sering anak-anak (ini yang bikin saya dobel bingung, ngapain juga anak-anak itu di daerah antah berantah, maksudnya daerah yang jauh dari kampung, kadang di daerah yang panas dan kering). Tapi tidak pernah ada wanita yang mencoba lifting.
Gara-gara jalan yang lebar dan mulus ini, kami sempat kena tilang. 80km/jam adalah kecepatan maksimal rata-rata di sepanjang perjalanan itu. Tapi di beberapa bagian jalan kecepatan maksimal yang diijinkan hanya 60km/jam. Nah saat itu tidak ada kendaraan lain di sekitar kami, jalan yang lurus, pemandangan yang menarik di sekitar kami membuat kami lalai melihat rambu kecepatan yang ada. Tiba-tiba di depan kami di bawah naungan bayangan pepohonan berdiri beberapa polisi lalu lintas memberhentikan kami.
Sambil membawa laser gun, seorang polalin memberitahukan kami batas maksimal kecepatan kendaraan yang diijinkan di jalan tersebut dan menunjukkan angka 75 (km/jam) yang merupakan hasil bidikan kecepatan kami di laser gun.
Anda harus membayar denda sebesar 400 dirham, kata pak polisi itu sambil membawa buku peraturan denda.
Sh*t!!!! Sekitar 35-an euro dah. (Saat laporan perjalanan ini ditulis, 1 dirham kira-kira 1.255 rupiah ; 1 euro kira-kira 11,5 dirhams). Apes!! Ya sudah, segera kami menyiapkan duit sejumlah yang harus kami bayar, sambil ngedumel, masih ada duit buat bayar hotel nanti 'gak ya. Jangan-jangan nanti kami harus mencari hotel yang rada mewah yang memiliki fasilitas untuk gesek atau mencari kota yang agak besar untuk mencari atm.
Saat duit sudah disiapkan, pak Polalin kembali dan mulai bertanya dari mana asal dan bla bla bla menyebut semua nama pemain sepak bola asal Belanda yang dia kenal, yang sudah gaek pula seperti Ruud Gullit dan seangkatannya.
Perasaan saya, kok seperti deja-vu ya? Beneran deh. Setelah obrol tanpa isi 2 menit, pak Polalinnya hanya mengambil 200 dirhams. Diskon katanya sambil berlalu. Hehehehe... beneran kan deja-vu!!! Denda pakai diskon?? Baek ya pak Polalinnya.
High Atlas sudah berada di belakang, kami sudah memasuki daerah anti Atlas.Rasa haus dan penat kembali mengerogoti. Coffee time. Pas melewati sebuah kota kecil, berhentilah kami untuk mencari secangkir teh atau kopi. Pilihan kami jatuh pada teh mint, minuman harian orang Maroko. Teh yang diberikan daun mint segar dan diberi gula yang boaaanyaaak. Pokoknya belum lengkap kunjungan ke Maroko kalau belum mencicipi teh mint ini.
Nah ini dia, pengalaman minum teh mint yang pertama kali ini bikin saya super mual. Bau mint yang tajam membuat saya seolah meneguk odol gigi dan rasa teh yang manis, sepat dan rada pahit karena getah daun mint, dan ada rasa asin di belakangnya. Rasa asin ini yang membuat saya mual. Ugh. Dua teguk, cukup sudah.Ternyata oh ternyata, air di daerah sana memang agak payau. Lha, jauh dari laut kok bisa agak payau? Karena kandungan mineral dalam tanahnya itu yang membuat air di sana payau. Rasa payau itu yang membuat saya mual. Karena kemudian dengan rasa air yang normal dan setelah terbiasa dengan aroma mint segar, saya bisa menikmati teh mint ini. Teh mint akan lebih enak jika daun mint yang digunakan tidak terlalu banyak (supaya tidak ada rasa sepat dan pahit) dan dengan takaran gula yang pas, harus manis.
Tanpa terasa sudah pukul 5 sore, saatnya mencari hotel untuk beristirahat. Sesuai rencana yang kami buat, di penghujung hari kami berada di dekat kota Quarzazate, Hollywood-nya Maroko. Tapi kami memilih untuk menginap di kota kecil di dekat sana, Aït Benhaddou, supaya keesokan harinya kami bisa langsung mengunjungi kasbah yang ada di sana.Akhirnya kami temukan hotel yang sesuai dengan kriteria kami, simpel, bersih dengan private kamar mandi dan wc. Juga termasuk paket makan malam. Saya malas kalau harus keluar lagi untuk mencari makan malam. Mana angin di luar juga sudah bertiup kencang sekali. Ogah makan debu ah.
Sayangnya pernak-pernik kamarnya diisi dengan bambu, sehingga tidak "berbau" etnik setempat.
Selesai mandi, yang juga tidak terlalu menyegarkan karena airnya yang payau itu, tapi lumayan tidak berdebu lagi, kami bersiap untuk makan malam. Dan astaga, makan malamnya tersaji setengah sembilan malam!!! Satu jam molor!!! Hihihi... ada tamu yang sampai terkantuk-kantuk di meja sebelah.
Selesai makan malam, sikat gigi dan langsung... terbang ke negeri mimpi... kecapekan seharian melanglang dengan mobil.
Bersambung...


21 comments:
buset deh tu anak2nya nyebelin bgt ya, grrr, jadi ikutan emosi neh, LOL. Hahaha, ternyata ada yg lebih chaos daripada Indonesia ya. Itu orang yg nyetir apa ga mikir gitu ya kalo nabrak gimana?? Duh...
haha, negara yg indah dan masih alami, tp yg nggak nyenengin tingkah orangnya duh...
baidewei, masa sih teh nya asin? That sounds gross, duh...
tapi pemandangannya indah2 bener ya, hehehe
ditunggu kelanjutannya neh
bener nek picturesnya bagus-bagussss bangettt :D ampe bilak-balik ngeliatnya hihihi :D elo harusnya kalo di indo ikut serial tivi jejak petualang nek :D
maroko tuh kaya 1/2 arab 1/2 eropa ya ?
Hehehehe, maklum ya kalo pergi ke negara dunia ketiga ya kayak gitu itu, penduduknya suka beringas ngeliat pendatang dari jaman modern, ekekekek :P
Btw,
itu rumahnya kan dari tanah liat yg dibiarin terpanggang matahari, nah kalo pas ujan ntar gimana dong? Meleleh ya?
Trus...trus,
kuskus tuh binatang itu kan? gimana rasanya ci, enak?
*Retha nih ya, banyak nanya deh!* :P
siyap ndan!...hehehe...kluyuran muluk nih emak satu nih :P
bijimana kabarnya bos?! sehatkah?
baca ceritamu seperti larut dalam petualangan sendiri :) bagus2 fotonya, apalagi ceritanya, seruu... ditunggu kelanjutannya :)
liat poto2nya jadi haus nih...
wah, teh rasa mint juga aku gak doyan palagi yang dicelup daun mint banyak2....
liat pemandangan bagus2, cuma semrawut juga yaa kayak di glodok aja kekeke, apalagi anak2 kayak gitu hiii.. jgn2 bisa dompet berpindah tangan *nuduh.com*
hahaha ... baca komennya tiwi ... aku juga pas mo komen yg sama, garing gitu ya, jadi haus *mana cola dah diminta lagi* ...
btw, untung cuma 400 dirham, bukan euro, dan tambah untung lagi dapet diskon 50% hahaha *untung terus*
ughhh pulisina koq sama keik di indonesah yahhh
negara ke 3? anak2 nya maksain tourist jualan sesuatu, ato minta bon bon?
di Kintamani bali juga gitu looh..
Wah Sin..pinter dikau bercerita, jadi pengin juga suatu ketika jalan ke Marokko....
ditunggu crita ttg pantai nya..
itu panasnya sampai brapa Celsius?
Zilko
Iya tehnya tuh asin, ternyata karena kebetulan air setempat juga rada payau gitu.
Selanjutnya di tempat yang airnya normal, 'gak payau, ya tehnya juga 'gak asin lagi.
> Vivi
Lebih banyak ke Arab deh.
Pssst.. aku tuh suka iri sama presenternya jejak petualangan :)
> Reth
Kalo ujannya banyak ya ancur kali ye. Tapi di sana juga jarang hujan jadi aman2 aja tuh.
Kuskus yang ini bukan hewan Reth. Bukan kus kus yang ada di Irian itu. Tapi kuskus yang ini tuh gandum. Bentuknya butiran halus. 'gak ada rasanya, rasanya tuh tergantung dari bumbu dan bahan lain (sayur dan/atau daging) yang mo dicampurkan.
> Siwoer
Sehat Woer. Selamat ya buat kalian b'dua :)
> Susan
Thanks Susan. Petualangannya sendiri emang menyenangkan kok.
> Tiwi
Haha kering ya.
> Yanti
Aku yakin ada alasannya anak2 itu menjadi seperti itu.
> Inne
Hahaha... Untung itu udah berkahnya kita yang dibesarkan di Indonesia.
> Bebek
Hahaha... makanya aku bilang deja-vu.
> Wieda
Ada memang di Indonesia anak2 yg bertingkah seperti itu, tapi lewat pengalaman kemaren dan pengalaman selama aku berkeliling Indonesia, rasanya persentasi perbandingannya cukup jauh, Wied. Dan aku berharap semoga persentasi perbandingan ini tetap jauh dan jauh.
'gak bisa crita soal pantai nih, kami tidak ke pantai sih.
hayo... udah bole lah buat buku travelling :) jarang loh buku2 gitu sekarang.. gw paling demen baca perjalanan orang2 saat travelling :)
wah muter2 pake mobil gitu yah??? gak puyeng kamu??? jd inget safari gurun didubai tuh ... orang2 pada fun2 aja...aku kok malah bawaannya mual yah. :P
hiii...kebayang degh minum air yg rasanya payau gituh... jangankan dibikin teh ... minum airnya langsung aja..pasti bakal eneg lah rasanya..disini jg ada daerah begitu airnya..tapi deket pantai.
wah aku justru paling doyan couscous yg dimasak ala marokko.
Disini couscous justru dibuat manis..makannya pake gula bubuk...ndak suka aku justru kalo manis2 gitu.
ditunggu lagi degh cerita kelanjutannya
Liburan lo tops banget Sin! Hubby gue paling ga doyan kalau disuruh driving sendiri waktu holiday. Kalau ga jauh2 sih ok, tapi kalau driving jauh pasti dari awalnya langsung ogah.
Great photos (as always)!
baca ini maroko tercoret deh dr daftar vakantie , ngeri bgt yah ngeliat anak2 yg agresif gitu ..
itu couscousnya menggoda bgt .
anak kecil emang bikin serba salah ya...palagi kalo minta sesuatu kek kita yg utang ama mereka ck ck ck
pemandangannya persis banget ama yg di pilem babel-nya brad pitt.
teh mintnya keliatan seger sih,gak terbayang kalo rasanya asin dan sepat :D
Senang baca cerita perjalananmu Sin, tak tunggu sambungannya.. Itu anak-anak kok brutaal banget ya.
haha, kaya di Indo juga ya.. langsung ditodong buat belanja ke foreigner.. inget banget trakhir ke candi borobudur jg gitu..
itu couscous kok aneh ya kombinasinya.. he he..
waduh, ngeliat gambar2xnya jadi teringat jalan kerumah emaknya iki. gersang gitu. panas pulak
tehnya asin ? yakin gak ditambahin ingus ? lol
seru bangeet nih mbak adventurenya..sering2 bagi cerita ya biar bisa ikutan nikmati petualangannya :)
aduhhh foto ama makanannya gakkkk kuuuaaaattt
Post a Comment