La bes Marokko, la bes Marrakech, sapa saya saat udara hangat dan kering Marrakech, menyambut wajah ini di tangga pesawat, setelah 4 jam penerbangan dari Düsseldorf, Jerman.
Segera kami disambut oleh antrian yang panjang imigrasi. Padahal ada beberapa loket pemeriksaan, tapi semuanya panjang dan bergerak lambat. Astaga, 1 jam 15 menit boow berdiri di antrian itu. Doh bapak... kerjaannya tuh emang teliti banget tapi leletnya itu lho. Pas giliran saya, pasport saya diperiksa detil banget, tiap halamannya diperiksa bolak-balik, sepertinya ada 4-5 kali pasport saya dihitung tiap halamannya, belum lagi tampang saya diplototin, dicocokkan dengan foto di pasport. Doh, untung foto di pasport tuh tidak perlu tersenyum lebar, sehingga saya tidak perlu memaksakan senyum di wajah ini saat sudah pegal begitu. Eh, pas giliran si Yayank, prosesnya lebih cepat, pasportnya tidak diperiksa per halaman bolak-balik seperti punya saya. Ugh.. jadi curiga juga saya, jangan-jangan karena pasport saya lembaran identitasnya pakai tulisan tangan.
Sekedar informasi, warga negara Indonesia tidak membutuhkan visa untuk berkunjung (maksimal 3 bulan) di Marokko.
Setelah ambil barang bagasi kami yang cuma satu tas yang ukuran sedang langsung kami menuju counter penyewaan mobil. Tadinya malah tidak mau punya barang bagasi segala biar tidak usah buang-buang waktu menunggu barang bagasi keluar dari perut pesawat, modal hand lugage 10kg per orang rasanya cukup. Tapi dengan pertimbangan tidak ada ruang jika nantinya ingin beli ini itu, jadilah kami membawa satu bagasi.
Untung, kami tidak perlu berpegal ria menunggu tas kami karena begitu masuk ke ruang pengambilan barang, langsung terlihat tas kami, yang warnanya menyolok asli bikin sakit mata supaya gampang dikenali, sedang mengendarai conveyor belt dengan asyiknya.
Nah, di counter penyewaan mobil ini semua formulir harus diisi ulang lagi, padahal data-data tersebut sudah lengkap diisi lewat pemesanan online internet. Doh, ada mungkin 20 menit terbuang di counter ini.
Begitu keluar dari bagian "tua" bangunan di airport dam masuk ke bagian depannya yang baru selesai dibangun... gilaaaa... takjub!!!!! Kereeeennnnyaaa....!!!! Guede banget hall-nya. Wah.. 'gak habis berdecak kami.Ambil mobil, langsung buka peta, sudah pasti arah menuju hotel,
Riad Dar Benanni, sebuah hotel kecil di distrik Mouassine, daerah Medina, Marrakech.
Medina adalah daerah kota tua.
Dan walaupun jarak airport ke kota hanya sekitar 6,5km dan peta yang kami miliki cukup jelas, tetap saja perjalanan dengan mengemudikan mobil sendiri merupakan sebuah petualangan kecil bagi kami, karena ada beberapa ruas jalan yang lalu lintasnya hanya searah. Dan kelakuan lalu lintas yang rada-rada mirip di tanah air.
Pfeuuuh... untung dalam waktu singkat kami berhasil menemukan bab Ksour, salah satu gerbang dari sekian gerbang masuk Medina, yang kebetulan juga dekat daerah Mouassine. Parkir mobil tidak jauh dari gerbang, berhubung mobil tidak bisa masuk dengan bebas di daerah Medina yang jalannya sudah pasti ukuran masa lalu punya, sempit-sempit. Berdirilah kami berdua di depan gerbang Mouassine, bingung mau ke arah mana. Masalahnya kami tidak memiliki peta yang akurat dalam skala yang kecil untuk Medina, yang mirip banget labirin jika belum mengenalnya. Telepon ke hotel supaya dijemput di gerbang itu, teleponnya tidak diangkat-angkat. Wah...
Menangkap ekspressi ragu-ragu kami, menyapalah seorang pemuda, jika kami butuh bantuannya untuk menunjukkan arah. Seorang teman kerja dari Marokko pernah mengingatkan saya untuk tidak mengambil guide jalanan. Tapi pemuda itu terlihat necis dan sopan dan lagi hari yang semakin gelap dan badan yang semakin capek, kami mengiyakan dan memberikan nama dan alamat riad yang dituju. Untung banget, seandainya jika kami harus mencari sendiri, walah bakalan kesasar abis. Lihat saja map di samping itu.Dan praktis juga karena dalam perjalanan pemuda itu juga sempat menunjukkan arah ke Djemaa el-Fna.
Tiba di riad, begitu masuk ke kamar, jelas sekali bangsa ini adalah pencinta berat tegel dan karpet Taruh tas-tas bawaan di kamar, cuci muka biar segaran dikit, serta membekali diri dengan peta daerah Medina dari riad, meluncurlah kami ke Djemaa el-Fna untuk mencari pengisi perut sekaligus menikmati suasana malam sebentar di sana.
Djemaa el-Fna adalah tempat berkumpul dan bertemu orang-orang dengan segala kegiatan dan merupakan jantung kota. Malam hari lapangan ini dipenuhi dengan tenda-tenda makanan, permainan, musik jalanan, dan kereta-kereta penjual buah. Siang hari tenda-tenda makanan lenyap, dan lapangan ini dipenuhi dengan penjual obat, seperti juga penjual obat jalanan di Indonesia, segala macam obat ada di sana, mulai dari obat penumbuh rambut, penyakit kulit sampai viagra tradisional. Juga artis jalanan, pencerita dan pertunjukan ular. Kata orang, Djemaa el-Fna yang membuat Marrakech berbeda dari kota-kota lainnya di Marokko.
Tertarik dengan warna-warna buah kering yang dipamerkan, kami menghampiri sebuah tenda yang ada dan membeli sedikit kacang gula dan buah figue kering. Saya tidak tahu namanya dalam bahasa Indonesia. Saat hendak membayar, Yayank menyenggol lengan saya dan memberi kode ke arah tumpukan korma, astaga... ada kecoak yang merayap di sana. Uiiihh... Ya namanya juga jualan di pasar begitu, mana ada jaminan 100% bebas serangga kan?
Beberapa tenda makanan yang kami coba di sana selama liburan kemarin, hasilnya benar-benar mengecewakan. Tidak ada yang membuat kami berdecak seperti ketika kami di pecinan Kuala Lumpur atau yang simpel seperti warung bakso dan nasi bebek di tanah air.Apalagi tuh tenda 114, wah... benar-benar 'gak ada rasa makanannya. Brochette-nya (sate tapi tanpa bumbu kacang/kecap) pun harus kami kembalikan dan minta dibakar lagi, gara-gara daging bagian dalamnya masih mentah. Padahal dagingnya hanya seuprit gedenya.
Jangan terpancing karena banyak turis yang duduk di tenda makanan tersebut. Itu hanya karena para pelayannya yang pandai dan keukeuh membujuk para pejalan kaki singgah di sana.
Menurut tips yang kami terima, sebaiknya pilih tenda yang dipenuhi oleh pengunjung lokal, karena pasti rasa hidangan di tenda tersebut lebih menjanjikan. Masalahnya tenda-tenda makanan yang dipenuhi oleh pengunjung setempat selalu menyajikan hidangan kepala kambing yang juga diletakan di meja. Nah, pengunjung yang makan, duduknya juga mengelilingi meja itu. Aduh mak... emoh ah makan sambil mlototin kepala kambing. Alih-alih makanan masuk ke perut, malah bisa kebalik kejadiannya, lalu lintas di perut bisa berbalik arah
Tenda penjual ikan goreng adalah salah satu tenda yang dipenuhi pengunjung lokal yang kami singgahi. Rasanya..ya... seperti ikan goreng.. Itu roti di foto di atas, adalah roti wajib. Semua hidangan disajikan bersama roti itu. Saat rotinya masih segar enak juga, tapi kalau sudah malam, alias rotinya sudah tua, ugh... alot habis!!! Sampai sakit sendi gerahamku, kalau sudah begitu, cara makannya ya pakai acara ngebor, yang dicuil-cuil hanya bagian empuknya saja, bagian luarnya yang keras ya ditinggal.
Saus tomatnya itu seger banget. Bentuk lain dari Moroccan Tomato Salad.
Kami juga isenk mencicipi teh rempah yang banyak di jual di tenda-tenda di sana. Gilaa... keras dan tajam banget rempah dalam teh itu. Langsung terasa membakar dalam lambung ini. Uhhh... langsung perih, 'gak tahan panasnya. Entah ada berapa macam rempah dalam itu teh. Pokoknya ada gingseng, jahe, kayu manis dan lain-lain. Setidaknya ketiga rempah itu yang saya mengerti dari daftar rempah-rempah yang tertera dalam bahasa Perancis dan Arab, bahasa sehari-hari yang dipakai di sana.Berkeliling sebentar di tengah keramaian dan kembali ke riad. Arloji baru menunjukkan pukul 10 tapi jam tubuh ini sudah mencapai pukul 12. Yup, Belanda 2 jam lebih awal dari Marokko. Saatnya kami mengistirahatkan tubuh ini dan menyiapkannya untuk petualangan esok hari.
Bersambung..
PS. Semua foto merupakan koleksi pribadi kecuali foto kamar hotel di atas, diambil dari website hotel tersebut.


20 comments:
duh paling ga sanggup deh kalo ga bawa bagasi.. paling demen kalo melenggang kangkung hehee :)
btw hall airportnya keren bangettt..:) kamarnya juga keren.. dipenuhi unsur etnik nih...
wuah jadi pengen ke maroko juga... :)
hahahaa..ide yang bagus..cari tenda makanan yang dipenuhi pengunjung lokal.. hehehe tips yang bermanfaat :)
wuaahhh, keren yah Moroko ternyata, hahaha... :) Jadi semuanya di Moroko itu ok yah kecuali makanannya? Hmmm, penting neh, hahaha... . Tapi kan menikmati local delicacies itu kan juga jadi satu poin tersendiri kan dalam berwisata? hehehe... . Saya malah pertama kali minum teh tarik di Malaysia loh, hehe... . Dulu iseng makan sate buaya di Thailand, duh....
btw iya tu peta kagak jelas bgt gambarnya, buset deh, hahahahaha....
Tante since! kamar hotelnya comfy bgt keliatannya :D.. tp bener juga sih.. mirip kamar mandi jadinya.. hohoho..
Itu yang mbek ga coba ya jadinya? padahal pan makan dengan memandang kepalanya justru bikin napsu.. hahaha..
cant' wait for the next story!!! :D
hotelnya ciamik ;)
beta suka itu kacang2 biar ada kecoa jua :D
ada cerita molo2 ka seng? sama, ini pala mo pica rasanya seng pernah molo anaeeeeee...hahaha
Orang Indo ga perlu visa yak mo ke Maroko?? Waaahhh, kesana aja ah....
.....
sapa mo bayarin tiketnya tapi yak? Huehehehehe :P
Btw,
Maroko tuh err..islam bukan ya ci?
Soalnya mirip² kayak India gitu *apa hubungannya*
wah..
perasaan kamu travelling terus deh since....
asyik terus....
..
btw.. maroko banyak tinggalan arkeologisnya kan?
ada foto fotonya???
wuahaha ketawa gue,untung loe gak senyum di foto passport hahahahah
kalo gak senyumnya rasa rada2 masem ya :P
takjub gue liat foto bandaranya yg baru....kerennnnnn
gue paling bodoh kalo soal peta...gue buta arah...buta geografi hahahahah
tapi sukur yah ada yg mau bantuin kalo gak mungkin loe musti tidur di mobil :P,walo kamarnya bener2 terlihat kek kamar mandi wuhahahahaahah
jadi loe beli gak tuh viagra tradisionalnya? ;)
wuihhh makanannya gak ada yg lezat ya?hhhhmmm kepala kambing yg lengkap dengan mata ihhh ngeriii
Sayang makanannya tidak enak ya..Kalau ke Maroko kita tdk perlu visa enak to. Kamar tidurnya lucu..
walah itu kamar hotel, beneran deh kayak kamar mandi hahahaha...
ooo baru tau ga perlu visa ke maroko, trus kalo modal bhs inggris doang, survive kaga?
eh eh, oleh2nya mana? :P
orang eropa aja berdecak kagum liatnya (bag.depan airport) apalagi org asia ya pasti ampe ngiler :D
aku pernah liat jg di discovery ch, makanan disana diliatin kepala lembu, hihihihi, bener jg ntar sapa makan sapa ya =))
Kirain Since udah ganti paspor blanda..
Kalo ke Marokko sblmnya mesti suntik ini itu dulu gak Sin di GGD? (vaksin maksudku)
Lucu ya rotinya, keliatannya enak..bulet montok :)
duh,,, petanya itu lho ... !!
ditunggu yah lanjutannya!
hehehehe...aku juga "ngeliat" Marroko di "busch garden"...
ada tari ularnya ga sin?
"gasabarnunggulanjutannya"
waduh baca cerita makanannya, sepertinya harus bawa popmie & bakso mentah plus sosis plus nugget plus frenfries nih di ransel buat bekel incase sapa tauuu ada rejeki ke maroko kan nda harus pake visa ekekekekkek :lol:
picturesnya amazing nda sabar liat yg laennya ;)
wah kamar hotelnya bener2 dirancang khas kultur mereka yah ...
aku jg gak suka tuh teh rempah mereka...rasanya aneh ...lebih pantas disebut jamu ketimbang teh...:P
Ga nyangka deh bandara di Marrocco ternyata bagus juga ya?
Kamar hotel kelihatan so authentic banget ya?
Sin, roti bulat itu habis dimakan ga?
Ditunggu cerita lanjutannya ya.
hah.. akhirnya bisa comment.. kemaren2 di dorm, buka comment box nda isa2.. LOL..
keren bangett ya Marokko, itu kerjaannya teliti lelet kaya di Jepun, kok bisa ya ga pake visa.
Hubby pake visa ga?
Emang enak ya kalao bisa jalan2 sendiri, ngandelin map, he he.
fotonya keren2 dr hotel, tempat buah kering gitu, ha ha..
Komunikasinya pake bhs apa?
> Fun
Emang paling asik tuh tanpa bagasi, tapi kalo pas banget handbagasi-nya juga rada-rada gimana gitu. Jangan lupa aku bawa perabot kamera sebagai handbagasi, makanya untuk perabot lain sudah pasti jadi terbatas jatahnya tanpa tambahan bagasi.
> Zilko
Hehe, jangan ambil kesimpulan apa2 dulu sebelum akhir crita ya ;)
Kalau Malasia aku suka banget air mata kucing-nya itu. Segeeeerr.
> Anung
Hahaha... doh Nung, berbalik arah lalu lintas ke arah perut nanti :D
> Hani
Kecoaknya yang bikin tambah manis kali yee :D
> Reth
He-eh, Maroko termasuk negara islam.
> Retnanda
Foto yg khusus arkeologis sih mungkin 'gak ada. Soalnya lebih fokus ke alam dan kehidupan hari2 di sana.
> Meli
Hihi.. 'gak butuh, ya 'gak beli. hihihi... Hush!!! :D
> Dyah
Makanan di maroko termasuk enak Dyah. Hanya makanan yang di square itu yg agak mengecewakan buat kami.
> Nie
Bahasa Inggris plus bahasa tarzan Sher :D
> Kenny
Hahaha... 'gak jadi makan deh kalo mesti mlototin tuh kepala.
> Marlina
He-eh, Aku disarankan untuk vaksin DTP (kebetulan masa vaksinku juga sudah berlalu), BuikTypus dan hepatitis A. Tapi karena tubuhku sendiri sudah punya imun untuk hepatitis A, jadinya aku kena vaksin DTP dan buikTypus.
> Yendoel
Labirin ya.
> Amethys
'gak ada. Yang ada uler disuruh nari sendiri.
> Vivi
Hahaha.. 'gak separah itu kok Vi. Makanan di tempat lain enak2 kok, lagian restaurant kalo di marakkech mah bejibun.
> Ichaawe
Hihi... lambungku nyeri abis minum rempahnya.
> Mutiara
Abislah. 'gak gede kok rotinya.
> Sakuralady
'gak. Dua-duanya 'gak pake visa di pasport.
Komunikasinya? kalo lakiku sih masih bisa sepotong dua potong Prancis sekedar komunikasi. Kalo aku wahahaha.. pake bahasa Tarzan!!!
antri sampai satu jam lebih, termasuk sabar dong kamu Sin
kok nggak ada foto kepala kambingnya ? :D
istri boss aku gak mao ke marocco, takut dia ama fanatik islam, aku bilang gak kok..masih takut. Iran aja dia gak mao ...ketakutan dia
Post a Comment