Thursday, June 21, 2007

Wiken di Ardennen (2)

Menelusuri goa dan menjelajahi hutan.

Cuaca hari Sabtu kemarin tidak terlalu menjanjikan untuk beraktivitas di alam terbuka. Awan kelabu, hujan deras dan sinar matahari terus bergantian mencandai Bumi.
Enaknya ngapain ya cuaca begini?
Akhir diputuskan selesai untuk menelusuri Grottes de Han, goa raksasa yang berusia ribuan tahun, setelah sarapan pagi.
Setidaknya toch kami tidak akan basah kehujanan di dalam goa.

Setelah selesai dengan urusan goa, baru diputuskan lagi mau ke mana atau mau ngapain, tergantung dengan cuaca yang ada nanti.
Julia memutuskan untuk menghabiskan waktunya di vakantiehuis saja. Lagi pengen menyendiri rupanya.

Untuk mencapai Grottes de Han kami harus ke kota Han-sur-Lesse, kira-kira 39km dari Anseremme.
Di sana, setelah membeli karcis, kami menumpang tram yang telah berumur lebih dari 100 tahun, yang khusus membawa para pengunjung ke mulut goa itu.

Tentu saja para pengunjung tidak diperkenankan masuk dengan bebas, melainkan dibawah pimpinan seorang guide yang menjelaskan hal-hal dan fakta-fakta menarik di dalam goa tersebut dalam 2 bahasa.
Sayangnya bahasa Belanda sang guide dengan aksen Perancisnya yang kental membuat saya hanya melongo tidak mengerti, dan Reinier harus menyalin kata-kata guide itu pada saya.

Rute tempuh sepanjang kira-kira 3km itu sungguh tidak terasa sama sekali.
Suhu dalam goa yang selalu konstan 13ÂșC sepanjang tahun, tidak perduli musim panas ataupun musim dingin di luar karena isolasi goa dengan dunia luar yang sangat baik, membuat tubuh nyaman dan tidak cepat capek.

Belum lagi karena terpana melihat hasil geliat air yang sempurna yang membentuk stalaktit dan stalagmit, colomn (tiang/tugu, ketika stalaktit dan stalagmit bersatu atau ketika stalaktit menyentuh lantai goa) dan drapery (seperti gorden yangtergantung melekuk-lekuk tipis) yang indah menghiasi semua sudut ruangan dalam goa, ditambah lagi dengan sistim pencahayaan yang menerangi dalam goa tanpa meninggalkan kesan alami.

Pahatan-pahatan air yang terukir indah dibadan-badan stalaktit dan stalagmit itu waahhh... mengagumkan sekali..
Ada yang seperti sisik-sisik kecil, bahkan ada yang menyerupai bentuk otak.

Dalam trip itu kami dibawa melewati kira-kira 9 chamber (kamar) yang ada dalam goa itu dan 2 dari 3 level (lantai/tingkat) yang ada.
Ada ruangan yang 110 meter dibawah permukaan Bumi, ada ruangan yang besarnya tidak kira-kira, tingginya 62 meter dengan lebar diagonalnya 145 meter (The Dome chamber), ada ruangan yang terdapat stalagmit setinggi 6 meter yang berusia sekitar 12.000 tahun!!!

Ada ruangan di level 2 (level 2 letaknya lebih jauh dari permukaan tanah dibandingkan dengan level 1) yang selama musim dingin merupakan terowongan aliran air sungai. Jadi ruangan ini ditutup selama musim dingin karena penuh terisi aliran air.
Ada juga ruangan dengan sungai bawah tanah yang sedang mengalir.
Ada ruangan dimana kami juga disuguhkan konser cahaya dengan latar belakang keindahan sudut-sudut goa.

Di ujung perjalanan kami menyusuri sungai bawah tanah yang mengalir dalam goa itu dengan perahu yang telah disiapkan, menuju pintu keluar goa.

Waaahhhh!!!!
Sayang dilarang memotret di dalam goa.
Dengan penghargaan terhadap alam, dan sedikit penghormatan pada aturan tuan rumah, peraturan itupun saya ikuti (walaupun dengan sedikit berat hati :P).

Bedanya goa ini dengan goa-goa lain yang pernah saya kunjungi adalah kesan turistiknya yang kuat sekali. Karena memang goa ini memang sudah diolah dengan sedikit sentuhan tehnologi untuk atraksi pariwisata.
Pengunjung tidak perlu takut akan kegelapan ataupun harus berpikir akan merayap dan membungkuk pada lorong-lorong yang sempit, karena semua masalah itu tidak ditemui dalam perjalanan dalam goa ini.

Selesai dengan urusan goa, urusan perut mulai menggelitik.
Untung cuaca berbaik hati pada kami, awan kelabu yang membawa gerimis bergeser pelan, memberikan kesempatan bagi sang mentari tersenyum hangat pada kami saat kami menikmati bekal makan siang kami.


Acara selanjutnya?
Jalan menjelajahi hutan kawasan taman nasional.
Bodoh ah.. kalau nanti hujan... ya basah. Resiko kan.
Dengan mempertimbangan resiko kehujanan ini, kami memilih rute pendek saja.

Wah.. ternyata bikin ngos-ngosan juga, biarpun cuma 5km, tapi naik turun bukitnya itu. Lama-lama kepanasan juga, yang tadinya masih dengan sweater tipis, akhirnya hanya dengan singlet doank jalannya.
Buat saya, malah bernostalgia dengan sensasi ngos-ngosan saat menjelajahi Rinca dulu.


Pemandangan yang indah dan menyegarkan merupakan sajian yang bisa dinikmati di sini.
Wah.. lama sekali rasanya sejak terakhir saya menjelajahi daerah berbukit-bukit seperti ini. Maklum saja, Belanda kan rata Teethy
Sungai yang mengalir di bawah sana adalah sungai Lesse.

Kehujanan? Sudah pasti.
Tapi untung setiap kali saat hujan turun kami berada dekat-dekat goa-goa kecil dimana bisa kami pakai untuk berteduh.

Dan, sambil menunggu hujan reda, mending foto bersama dulu. Pasang tripod, dan.. klik.

Bisa dikatakan, walaupun cuaca hari itu bukan cuaca ideal untuk main di tengah alam terbuka, tapi toch aktivitas kami sama sekali tidak terganggu oleh cuaca.

Saat tiba kembali di vakantiehuis, segera semuanya menyerbu bier dingin. Waahhh segaaarnyaa...
Ramai ngobrol kembali.
Ada saja bahan untuk diobrolkan, sambil ditemani camilan ringan sementara di luar hujan mengguyur makin deras.


Makan malamnya adalah pasta salad buat Roy, Burrito buatan Kasia, Goulash buat mamanya Julia, dan nasi goreng ala Since lengkap dengan krupuk.
Semua makanan ini sudah kami siapkan dari rumah sebelum berangkat liburan, jadi tinggal dihangatkan saja, kecuali krupuk dan pasta salad tentunya.

Setelah beres dengan urusan beberesan dan ngerumpi-ria di dapur bareng Kasia dan Julia, sisa malam kami isi dengan ngobrol dan bermain yahtzee bareng yang lain, sampai tiba saat untuk saling mengucapkan selamat tidur.
Besok masih menunggu petualangan yang juga tidak kalah mengasyikan.

Bersambung..

13 comments:

Zilko said...

wah, koq ga boleh ngambil foto dalam gua knapa yah??

eh, tu tempatnya bagus ya

Yulia said...

eh Sin, goanya kek goa yg di Limburg bukan? apa pasti lebih bagus yak..ck..ck..ck..takjub gw liat tuh pemandangan..
Kok dulu gw ke ardennen gak maen2 ke goa kek gini sih..*ngelus jidat, sakit jg di tabokin terus ahahahahahhhh*. Tp emang Ardennen gede juga sih ya, gw..di Durbuyyyyyy..buset tuh nama :p

Kira2 goanya boleh di masupin anak seumuran Sade gak ya? masaolooo kok gw nanya2 ke elo sih..mang di jidat lo di tempel tulisan "GUIDE GOA ARDENNEN" ahahahahahahahahhahh..

Anonymous said...

itu foto bukit hijaunya cantik sekali!

jalan2 terus nih Since !*ngiridotcom*

Anonymous said...

goanya cantik ya, aku jg pernah masuk ke gua tua di Valkenburg. Ada cerita seremnya ktnya dulu pernah ada 2 anak cowok jalan 2 sendiri tanpa guide, trs kesasar, akhirnya ditemukan tlh meninggal.

Trims commentnya Since, buat hatiku segeeer.

mom4kids said...

Sama2 pernah ke obyek yang sama , setelah membaca ceritamu dan foto2 ini malah jadi pingin kesana lagi ...

Bakat jadi wartawan jenk , khususnya topik "ttg makan2 dan jalan2 " .....tulisan dan foto2mu begitu menggoda ...


salam ,

Susie

Emaknya Bunny said...

karena di dalam goa ada si pendekar mata satu lagi bertapa,kagak boleh diganggu :))..jawaban utk Zilko kakkakakak

Innuendo said...

barusan nonton di travel channel, ada goa yg disusuri pake boat. cuma lupa di negara mana. asyik juga berbasah basah

R.e.t.h said...

Aaaarrrggghhhhhhh.....ci!
Stiap kali aku kesini pasti selalu dan always aku dibikin ngiri en sirik ma jalan2 nyante aka tamasya serunya, hiixss...

Kan jadi pengen jugaa

Dyah Astiek said...

sin klo gua disini ada kelellawarnya gak? ato binatang2 terbang lainnya? soalnya gua pan pasti gelap pasti byk binatang nyumput...

SinceYen said...

> Zilko
Mungkin karena mereka takut efek blitz dari kamera, bayangkan saja sekian juta pengunjung yg bawa kamera dari jaman opa-oma dulu hingga sekarang, efeknya 'gak kecil tuh.
Lagian 'gak aman juga kalau dalam satu rombongan besar orang2 pada sibuk motret sana-sini, jadinya kan 'gak terfokus lagi ama guidenya. Lebih susah di atur dan resiko kecelakaan mungkin jadi lebih besar.
Orang kalo udah megang kamera kan cenderung suka egois.
Gitcuuu... :)

> Yulia
Yg di Limburg itu mag tidak termasuk goa alam say.
Kemaren tuh pas di goa banyak kok anak2 yg bahkan lebih muda dari Sade dalam rombongan kami.
Ada juga khusus yg rombongan anak sekolahan gitu.
Kesimpulannya aman aja tuh buat anak seumuran Sade.

Tuh benjol di jidat udah ilang belom?? :p

> Ely
Yeee... kamu sendiri juga jalan mulu ah :)

> Dyah - dinati
Emang menakutkan kalo sampe kesasar dalam goa.
Bagus ya goa di Valkenburg itu?

> Susie
Ceritanya 'gak tahan godaan nih?? :D
Ayoo kapan?? Asiklah Ardennen buat weekendje weg, deket sih.

> Meli
Hahahaha... kok kamu tau Mel? Jangan2 selingkuhannya si pendekar mata satu ya? Hahahahaha...

> Dian
Boleh tuh...
Aku malah pengen dive dalam goa gitu, biar basahnya 'gak tanggung :D

> Reth
Ayoo kapan bulan madu ama mas Brad Pit-nya?? :D

> Dyah - rashel
Kalo pengalaman aku sih saban kali masuk goa di Indonesia pasti ketemu kelelawar deh.
Kalo si grottes Han kemaren tuh malah 'gak ketemu.

Theresia Maria said...

Buka biro travel aja Sin, kamu pengalaman dah banyak...

Anonymous said...

sayang yah dalam goa gak boleh difoto, pasti bagus banget.

Mutiara said...

Foto2 lo keren2 semua deh Sin. Holiday nya pasti enjoyable banget ya?