Jelita, waktu berlalu tanpa terasa, kesibukan demi kesibukan benar-benar tidak menyisakan tempat bagimu, yang dipanggil kembali oleh-Nya beberapa tahun yang lalu, di benakku.Aku tak tahu mengapa, hari-hari terakhir ini kamu terus hadir dalam benakku. Kuputuskan untuk menulis rangkaian kata-kata ini untuk mengenangmu, sekaligus juga membagi kisahmu yang mungkin bisa berguna bagi perempuan lain.
Sosok perempuan yang supel, menyenangkan, menarik, lembut, tapi juga nakal. Itulah sosokmu yang aku kenal saat kita masih melewatkan waktu bersama dulu. Kamu sering membuat aku tergelak dengan candaanmu yang nakal dalam balutan suaramu yang lembut itu. Kerlingan matamu dan senyummu membuat banyak laki-laki yang bertekuk lutut. Sederetan nama bekas pacarmu sudah tidak asing bagi kami.
Tak jarang juga aku mendengar komentar-komentar ketus yang dilontarkan oleh perempuan-perempuan lain tentangmu. Ah.. mungkin mereka iri dan cemburu dengan apa yang kamu miliki.
Aku masih ingat kerlingan bahagia di matamu saat kamu mengenalkan pacar terakhirmu pada kami. Laki-laki itu ganteng, rapi dan kalem.
Tapi semuanya berubah dengan cepat. Kamu menjadi begitu terikat olehnya, sampai-sampai kamu harus meminta ijinnya untuk clubbing bersama kami. Astaga, pacaran sampai mengikat begitu?
Dalam mataku saat itu, kamu menyimpan ketakutan. Ada apa Jelita?
Aku ingat percakapan kita beberapa bulan kemudian, saat aku mendengar bahwa pacarmu juga pernah memukulmu. Saat kusarankan agar kamu tinggalkan saja dia, kamu menjawab kalau kamu tak bisa melakukannya karena kalian sudah dijodohkan oleh keluarga. Kamu juga bercerita bagaimana reaksi ibu kamu saat kamu beritahu bahwa laki-laki itu memukulmu, "Mungkin kamu yang salah nduk. Lain kali jangan bikin dia marah lagi ya."
"Apaaa???!!!
Aku juga masih ingat kata-katamu saat kukatakan kalau yang akan menikah itu kamu bukan keluargamu, mestinya kamu bisa menyatakan sikap.
"Aku bukan seperti kamu, Since, yang bisa melakukan apa yang kamu mau, yang berani mengatakan tidak pada siapa saja pada saatnya. Aku tidak bisa seperti itu. Kita dibesarkan dengan cara yang berbeda. Aku sungguh tidak bisa menentang keluargaku."
"Lantas, kamu akan menikah dengan laki-laki "serigala berbulu domba" yang ringan tangan dan mengikat kebebasanmu itu? Mengorbankan hidup kamu seperti ini? Untuk apa? Apakah kamu mencintai dia?"
Kamu diam.. dan kemudian menjawab, "Mungkin suatu saat nanti dia akan berubah, menjadi lebih baik karena diperlakukan dengan baik."
Oh Jelita, aku tahu kamu tidak sebodoh itu. Saat itu yang melintas di benakku adalah kamu itu naif atau kamu sedang berusaha menghibur diri kamu sendiri?
Sejak percakapan kita itu, aku berhenti menyarankan kamu untuk meninggalkan laki-laki itu dan menentang rencana keluargamu itu.
Tidak semua orang mampu dan berani mengambil resiko akibat menentang sebuah "tradisi".
Kamu sudah membuat keputusanmu. Kebahagianmu dan kepedihanmu hanya kamu sendiri yang bisa merasakannya. Aku hanya bisa memberi saran. Tapi aku tak bisa menjamin kebahagianmu dengan saran-saranku kan?
Kamu pun lantas menikah dengan dia.
Saat kita sudah tidak bersua lagi, dari karibku aku mendengar kalau kamu masih sering dipukul oleh suamimu itu. Terakhir aku mendengar lagi kalau suamimu juga berselingkuh dengan perempuan lain.
Jelita, kamu muda, supel, menarik, dan tidak bodoh. Kamu punya kekuatan untuk berdiri sendiri tanpa tergantung dari dia.
Kenapa kamu tidak berontak? Kenapa kamu terus bersabar seperti itu?
Mengapa kamu membiarkan diri kamu dihina dan disakiti seperti itu?
Apakah itu cinta?
Adakah kebahagiaan yang kamu rasakan?
Apakah keluargamu berbahagia melihat kamu diperlakukan seperti itu oleh suamimu?
Apakah kamu takut dengan apa kata masyarakat jika kamu meninggalkan dia? Perduli setan dengan apa kata mereka!! Terpikirkah kamu apa kata mereka tentang perselingkuhan suamimu? Apakah mereka menyalahkan suamimu atau justru mereka menyalahkan kamu? Apakah mereka juga merasakan apa yang kamu rasakan?
Atau kamu takut pada suamimu?
Apa yang ada di balik ketakutanmu?
Tapi, akhirnya semua berlalu juga. Penyakit lamamu kembali meradang dan membawa kamu kembali pada-Nya. Aku berharap, kamu sudah mendapatkan kedamaianmu di sana.
Jelita, kutuliskan kisahmu ini bukan supaya orang-orang mengutuk laki-lakimu itu. Tidak.. tidak.. aku tidak ingin menambah panjang daftar dosaku. Aku hanya berharap semoga kisah ini juga bisa menjadi pelajaran bagi Jelita-Jelita lain, bagi perempuan-perempuan lain, yang juga sedang jatuh cinta pada orang yang salah. Keluarlah sebelum melangkah lebih jauh.
Tidurlah dengan tenang Jelita, damailah di sisi-Nya.
Penutup
Aku tahu kita tidak bisa menolak saat cinta datang menyapa. Tapi, walaupun berat dan sakit, kita bisa memutuskan untuk melanjutkan atau menyudahinya, terlebihi jika itu pada orang yang salah. Kita mungkin akan beberapa kali jatuh cinta pada orang yang salah sebelum kita menemukan orang yang benar-benar tepat.
Dan itu juga yang terjadi dalam perjalananku. Tidak, bukan karena urusan karate, thai boxing atau taekwondo. Hanya saja mereka bukan orang-orang yang tepat.
Jika orang yang tepat ini tidak pernah datang, maka aku akan lebih memilih menyusuri hidupku sendiri daripada bersama dengan orang yang salah. Daripada saling menyakiti nantinya.
Jatuh bangun dan babak belur karena cinta yang salah, namun dari situ juga kita akan banyak belajar tentang diri kita sendiri, dan mengenal orang yang tepat untuk kita.
Yang aku tahu, dalam cinta ada penghargaan, ada kasih, ada pengertian, ada perlindungan, ada rasa hormat, ada dukungan, ada kebanggaan.
Aku hanya mau membagi hidupku dengan orang yang mencintai aku dengan cara ini. Mungkin aku adalah pencinta yang egois, tapi aku juga mencintai diriku sendiri.


No comments:
Post a Comment