Sunday, August 10, 2008

Ambon, masih manis kah?

Lembaran 3

1. Saat Kembali ke Ambon

Langit kelabu gelap, gerimis menerpa jendela pesawat, dan gelombang laut di mulut teluk Ambon terlihat jelas mengelijang liar dan membuih di bawah sana, menyambut kami saat pesawat mulai mempersiapkan prosedur untuk mendarat seolah mengucapkan selamat datang di Ambon.

Ambon, kota yang merupakan bagian dari catatan sejarah perjalanan hidup saya. Kota dimana lebih dari 10.000 hari dalam kehidupan ini pernah saya jalani di sana. Kota yang selalu dikenang, karena manisnya dan karena.. pedihnya.
Dan kerinduan padanyalah yang membawa kami mengunjungi kota ini.

Sebenarnya cuaca yang kelabu itu bukan kejutan bagi kami, karena saya tahu pasti bulan Juli di Ambon ada di musim hujan. Bagi yang belum mengenal cuaca di Ambon, ada cara sederhana untuk mengingatnya, jika musim dingin di Australia artinya musim hujan di Ambon, dan sebaliknya, jika musim panas di Australia artinya juga musim panas di Ambon. Kemudian ada juga musim pancaroba di setiap antara kedua musim itu. Musim pancaroba ini artinya tidak ada kejelasan arah angin dan cuaca. Bisa hujan tapi bisa juga panas.

Tiba di bandara masih tersisa gerimis. Not bad, karena sehari sebelumnya malah banjir di kota Ambon. Dan terkagum-kagum saya memandang bandara Patimura itu. Waaahh... cantiknya!!! Maklum saja terakhir saya mengunjungi Ambon beberapa tahun yang lalu, bangunan bandara ini belum selesai dipoles. Dan satu hal yang bikin saya berdecak lagi adalah karena BERSIH!!! Mulai dari ruang kedatangan, lorong-lorong, tempat pengambilan bagasi, sampai pada wc, semuanya bersih. Para pengguna wc pun merasa nyaman tentunya. Mungkin karena masih baru dan mengkilap ya. Ups.. nuduh!!! Haha.. maap... maap... Tapi semoga tetap terus dijaga bersih dan indahnya ya.

Dari bandara langsung menuju hotel Amans yang langsung disambut oleh kemacetan di sekitar hotel. Tidak heran, hotel ini terletak pas di dekat terminal kota. Sengaja memilih hotel ini karena kami ingin menikmati pemandangan teluk Ambon dan selintas kesibukan kota dari balik jendela kamar.
Sayangnya hotel yang 10 tahun yang lalu termasuk megah untuk ukuran kota Ambon ini, kelihatannya sudah butuh sedikit polesan sana-sini. Namun yang pasti, terlepas dari beberapa hal yang berhubungan dengan urusan "yang harus diremajakan kembali", kami tidak memiliki keluhan dengan pelayanan yang ada. Mulai dari petugas lobby, room boy sampai satpam-nya, oke punya. Ramah dan sangat membantu. Always smile, always nice!!

Tapi satu hal yang agak mengganggu adalah, ada pemakai kamar yang berada pada lantai yang sama, ributnya minta ampun. Setel musik gede-gede, belum lagi yel-yel di kamar. Mungkin karena kesibukan dalam rangka Pilkada. Walaupun begitu tetap tidak sopan menurut saya. Kalau mau ramai-ramai begitu sebaiknya sewa saja salah satu fasilitas hotel yang memang ditujukan untuk bergegap gempita. Bukannya di kamar tidur begitu.
Dan tepat pada hari pemilihan, ada beberapa remaja, yang entah dalam rangka apa, berlatih menari di tengah-tengah gang antara kamar dengan tentunya musik yang disetel dan aba-aba dari seorang di antara mereka. Ampun dah. Walaupun itu sudah di atas jam 9 pagi, tetap saja mengganggu pemakai kamar yang lain. Kalau dibilang kampungan pasti marah, kan? Tapi kok begitu modelnya? Kan bisa berlatih di ruang olah raga di lantai paling atas yang lega dan selalu kosong tidak terpakai.
Harusnya sih para petugas hotel memperhatikan hal-hal seperti ini.

Sepuluh hari kami berada di Ambon, sembilan hari hari-hari kami dihiasi oleh hujan deras. Untung program utama kami adalah diving, sehingga tidak perduli hujan atau tidak hujan toh tetap basah acaranya. Hanya saja dengan hujan yang terus menerus ini membuat saya menjadi malas untuk mengeluarkan kamera dari tas. Sehingga maklum saja jika tidak banyak foto-foto sudut kota yang saya bawa sebagai souvenier dari Ambon.

Tapi tentu saja hujan deras dan langit kelabu sepanjang minggu tidak membuat kami surut untuk sekedar mengunjungi pantai-pantai pulau Ambon, di luar acara diving.
Walaupun tidak bisa maksimal kami nikmati. Hanya memandang laut, merasakan hembusan angin pantai, mengenang masa lalu, merekam pemandangan yang akrab ini ke sel-sel otak. Setidaknya cukup untuk sedikit melepaskan kerinduan pada pulau ini.

Tiga pantai yang kami kunjungi, ketiga-tiganya dihiasi dengan laut yang bergelombang dan ombak besar yang memecah di tepi pantai. Maklum saja ketiga pantai ini terletak menghadap arah selatan, sehingga pada musim hujan (musim timur) begini menerima langsung hembusan angin kencang yang bertiup dari arah selatan.

Pantai Namalatu, pantai yang sangat saya sukai. Selain karena indahnya suasana pantai, pada saat musim Barat dengan mudah kami dapat melakukan penyelaman langsung dari pantai, atau sekedar snorkling. Saya menyukai pantai ini karena pada beberapa sudut tidak terlalu ramai, bahkan bisa dikatakan sepi pada hari-hari di luar hari libur dan wiken, sehingga saya dapat menikmati keindahan yang alam sajikan tanpa terganggu.

Tapi kali ini, kami hanya menikmati angin yang bertiup dingin, gemuruh ombak dan hempasan tetesan air hujan. Tidak mengapa, karena kedua balita, keponakan saya, yang ikut juga sangat menikmati keadaan tersebut. Senang sekali melihat kegembiraan mereka.

Pintu Kota, gerbang yang unik yang terbentuk di dinding karang yang terletak dekat tanjung Nusaniwe, menghadap laut Banda. Di ujung gerbang ini, menjorok ke laut, terdapat juga gerbang karang di dalam laut, yang indah untuk diselami.
Tidak lama waktu yang kami habiskan di sini, hanya sekedar menikmati dasyatnya gelombang yang pecah saat menghantam dinding karang.

Pantai Natsepa, pantai yang sangat terkenal bagi penduduk Ambon. Jangan berharap menemukan pantai ini sepi saat musim liburan dan pada saat wiken. Bahkan saat musim hujan begini, pantai ini tetap penuh pengunjung. Saya jadi teringat entah berapa kisah kasih yang terjadi di antara teman-teman di pantai ini, bahkan ada kisah yang lucu badut abis pada sepasang kekasih itu yang setiap kali membuat saya tertawa sendiri bila mengenangnya.

Sayangnya, pantai pasir tidak terlihat saat kami di sana karena sedang pasang penuh ditambah dengan gelombang air, membuat pantai yang ada hanya selebar sampai pada bagian talit.

Memandang anak-anak yang asyik bermain dengan gelombang mengingatkan saya pada masa kecil dulu. Karena rumah kami tepat berada di tepi laut yang landai berpasir, pada musim ombak begini adalah saat untuk bermain "body surfing". Dengan menggunakan sebilah papan kecil di air sebatas dada, menunggu gulungan ombak yang memecah dan mengikuti derasnya laju ombak sampai pada bibir pasir di pantai. Begitu yang kami lakukan berulang-ulang sampai puas. Nah yang kacaunya, biasanya sebilah papan itu kami "pinjam" dari perahu nelayan yang ada di pinggir pantai. Sebilah papan untuk tempat duduk di perahu itu. Ah, sebenarnya bukan pinjam lagi tapi lebih tepatnya curi. Sering kami dikejar nelayan pemilik perahu itu bahkan ada yang sampai melapor ke orang tua kami karena kenakalan kami itu Too Funny
Padahal sebenarnya kami boleh saja menggunakan papan-papan itu jika selesai bermain kami kembalikan lagi papan tersebut ke perahunya. Masalahnya adalah sering kami lupa, selesai bermain papan-papan itu hanyut begitu saja dalam putaran ombak.

Belum lengkap kalau sudah tiba di pantai Natsepa tanpa mencicipi rujak Natsepa, yang dijual ramai di sepanjang pantai. Rujak buah segar seperti nanas, mangga, kedondong, jambu, timun, belimbing, dengan adonan ulekan gula jawa dan kacang yang pekat. Lebih enak lagi jika ditambahkan 2 buah cabe.. hmmmm.... segar, asam, manis, pedas, asin... ck... baru membayangkan lagi sudah langsung gleg...

Sebenarnya rujak ini sama saja dengan rujak di tempat lain, hanya saja sejak dulu, rujak ini populer sekali di daerah Ambon dengan nama rujak Natsepa. Bisa dibilang rujak ini menjadi makanan wajib para pengunjung di pantai Natsepa. Sambil duduk-duduk dengan teman, kekasih atau sanak famili, menikmati canda ditengah semilir angin pantai, deburan ombak, berunya laut dan ditemani dengan rasa rujak Natsepa yang khas. Lengkap sudah kenikmatan piknik. Apalagi ditambah dengan tegukkan air kelapa muda yang segar.

Selain rujak yang menjadi makanan khas pantai Natsepa, ada juga sagu gula. Sagu forna yang dibakar dengan campuran kelapa dan dengan gula jawa di tengahnya.
Memang berbeda dengan pantai-pantai wisata lain yang ada di pulau Ambon, di pantai Natsepa ini jajanan yang tersedia lebih beragam. Ada bakso, pisang goreng, jagung rebus, nasi ikan (nasi campur) dan lain-lain.

Masih ada beberapa pantai yang belum sempat kami kunjungi. Pulau Ambon memiliki banyak sekali pantai-pantai yang indah mengelilingi pulau ini. Dan sudah pasti tidak semua pantai ini mengalami pukulan ombak pada saat yang bersamaan. Jika pesisir selatan dihantam gelombang, maka pesisir utara tenang, dan sebaliknya. Tapi, dengan suasana hujan, setenang apapun laut di pantai tersebut sudah pasti tidak bisa maksimum kami nikmati.

Lain waktu... ya lain waktu... kami pasti kembali lagi.


Bersambung...

20 comments:

Anonymous said...

pantainya indah, tapi itu pesisirnya batu batu gitu yak ? sakit euy kalo keinjek.

ngeliat itu rujak,jd teringat bapak2x penjual rujak yg suka mikul cartnya wkatu aku kecil. rujaknya uenak !

Zilko said...

Melihat sayap pesawatnya, itu pasti pesawat buatan Airbus, jadi aku nebak maskapai penerbangannya M*nd*la kah? hahaha... ;)

Pantainya indah yah, sayang cuaca ga mendukung. Andai cuacanya suportif pasti indah banget tu fotonya, hahahaa... :)

Bener tuh, menyebalkan memang orang2 yang "nggak tahu diri" seperti itu. Kaya nggak ngerasa tindakan mereka itu mengganggu orang lain aja...

Zilko said...

Eh, salah mungkin bukan M*nd*l*, hmmm, apakah B*t*vi*? hahaha....

Susan Harsono said...

rusaknya itu menggiurkan yaaa hihihi..
bikin kepingin ajah..

Anonymous said...

Rujaknya menggiurkan... Orang tidak tahu sopan santun itu, mengganggu sesama tamu yang lain.

Anonymous said...

duh indah juga ya mbak, ambon. kakak iparku yg keturunan ambon pingin bawa keluarganya ke sana suatu hari nanti. hotelnya lumayan juga ya mbak, harganya juga weits, gak mahal :))
ngomong2 ada sisa2 bekas kerusuhan gak?

++retno

Theresia Maria said...

Gleg!...kelapa muda, rujak, bikin lidah menari-nari...:P

Anonymous said...

rujaknyaaaa mau sekaleeee. Duh ngeri aku liat ombak gitu, dasar si since manusia laut :D

Marlina said...

aduh rujakmu Sin..sampe terbit airliurku loh!!

Pantesan kamu suka banget ama lauta ya Sin..ternyata masa kecilnya tinggal di pinggir laut toh...

Anonymous said...

beautiful :D

vivi said...

nek gw biasa liat picture luar negeri kalo kesini maksut gw pemandangan luar liat ini jadi berasa bukan blog elo deh wkwkwkkwkw :lol:

btw pernah diambon lama nek ? how come ?

Anonymous said...

since orang ambon yak?
kok ga maen ke bangka? :) pantainya juga bagus2 kok :)

Anonymous said...

foto 1, 3,4,5 kayak foto hitam putih ya :)

itu orang2 yang nari2 dan ribut di hotel kalau diperingatkan dengan haluspun pasti akan tetap marah dan tersinggung

nie said...

gleg... air kelapa muda? ngiler aku rekkkkkk....
Sayang ga cerah ya... tapi foto2mu tetep bagus!

Anonymous said...

ya ampun...kepengen bgt ke ambon. suasananya asri banget ya sin?

yenni 'yendoel' said...

yang gak 'sopan' tuh si Sintje, bikin air liur keluar dengan foto rujaknya itu !!!

B-a-r-r-y said...

Seru sekali jalan-jalannya. Secara tidak langsung sudah membantu pariwisata Indonesia nih :)

Anonymous said...

suka rujak , suka pedas , kalau gitu toss dulu ah , sama dong selera kita :))

Anonymous said...

haduhhh... ngeces deh ngliat rujaknya secara sekarang tengah hari bolong begini... mana kacangnya masih kasar gitu. nyam nyam...

seru banget kayaknya acara divingnya. ada poto bawah lautnya ga?

Anonymous said...

gile, masiy berani jajan rujak? reiner makan juga?