Friday, August 29, 2008

Ambon, masih manis kah?

Lembaran 5

3. Ambon Under Water

Salah satu kerinduan saya yang begitu menyala-nyala yang membawa kami mengunjungi Ambon adalah kerinduan pada dunia dalam lautnya. Dunia yang pernah begitu akrab dalam kehidupan saya. Bagaimana tidak, di sanalah awal saya mengenal dunia dalam laut dan kemudian menggelutinya selama beberapa tahun sampai saat di mana saya harus memutuskan untuk pindah ke kota lain.

Tiba di Ambon, kami langsung menghubungi ko Robert, senior saya dalam urusan diving. Saya belajar banyak banget dari dia terutama untuk urusan pengetahuan lokasi-lokasi diving di sekeliling Ambon. Dari ko Robert ini kami menyewa tabung-tabung udara untuk menyelam dan juga boat yang dimilikinya.
Hanya 4 hari yang kami isi dengan penyelaman. Tapi dengan kondisi hari-hari basah, kami juga harus memperhitungkan setidaknya 2 hari tanpa selam untuk mengeringkan alat-alat kami di hotel.

Penyelaman hari pertama kami isi dengan menyelam di Eri.
Eri, saat masa saya masih aktif diving di Ambon terkenal karena susunan karang tua-nya, dan lokasinya yang dekat dengan kota. Saya sangat menyukai lokasi ini karena keunikkannya. Dinding karang yang terjal meluncur sampai ke kedalaman laut dan sepanjang dinding karang kaya akan tunicate yang beraneka jenis, beraneka warna dan ukuran. Saya belum pernah menemukan tempat lain yang memiliki tunicate sebanyak yang saya temui di Eri ini.

Foto di atas adalah beberapa jenis tunicate.
Peringatan, tunicate adalah HEWAN.

Sayangnya, kali ini, saat saya berada di dalam sana, apa yang terlihat membuat emosi antara amarah, sedih dan kecewa bercampur teraduk-aduk dalam jiwa ini. Bagaimana tidak, SAMPAH ada di mana-mana!!! Lokasi diving yang dulunya indah kini hampir seperti tempat sampah raksasa!!! Hot Head

Otomatis karang-karang yang tertutup sampah-sampah plastik mati perlahan-lahan. Tunicate yang ada juga tidak lagi sebanyak sebelumnya. Ahhh...
Sedih... kekayaan yang seharusnya dipelihara dan dimanfaatkan, justru tidak disadari keberadaannya, bahkan kini bukan tidak mungkin berada di ambang kehancuran.

Dive hari kedua, Tanjung Setan di pesisir utara pulau Ambon menjadi tujuan kami. Tanjung Setan, lokasi yang sangat saya kenal dengan baik beberapa tahun yang lalu. Saking kenalnya, saya malah sempat membuat peta lokasi yang lumayan akurat untuk kepentingan pekerjaan. Entah di mana peta itu sekarang.

Untuk ke Tanjung Setan kami harus mengendarai mobil menyeberang pulau Ambon, tiba di desa Hitu dan melanjutkan dengan boat ke lokasi dive.

Terjun ke air dan membiarkan diri meluncur perlahan ke kedalaman menusuri dinding karang dalam pelukan biru air. Ahh... bahagianya bisa kembali ke sini lagi. Berputar-putar di dalam air, berdansa dalam pelukan laut, sampai diketawain Reinier tapi maklum dengan kelakuan ajaib bininya. Maklum dengan kerinduan yang dipendam bininya ini. Blushy 2

Cuaca yang hujan deras akhir-akhir itu di Ambon membuat visibility (jarak pandang) di air berkurang. Walaupun begitu masih jauuuuuuh lebih bening dari visibility air di laut Belanda Teethy
Dan, walaupun di daerah sini bisa dibilang tidak terdapat sampah, namun bisa saya lihat dengan jelas karang-karang hancur di beberapa daerah yang bekas dibom.

Ah... Memang sulit sekali menangani dan menyadarkan para pembom ikan ini. Heran benar, bahkan pernah ada nelayan pembom ikan yang tangannya sudah putus satu gara-gara ledakan bom yang tidak tepat waktu, tapi teruuuuuus saja pede lanjut dengan acara ngebom ikan.
Dan kalaupun mereka tahu akibat dari perbuatan mereka pun sering mereka tak berdaya dalam tuntutan ekonomi. Memang, klise dan klasik banget alasannya. Tapi, begitulah adanya. Maka dibutuhkan kerja sama semua pihak untuk menangani hal ini.

Tapi ada titik terang, karena saat sebelum kami menyelam, kami harus singgah di kewang (penjaga hutan lokal) untuk melapor. Menurut yang saya dengar, sejak ada kewang ini pengeboman di daerah sekitar situ menjadi sangat berkurang. Semoga selalu demikian.

Hujan sepanjang hari tidak membuat semangat diving kami berkurang, malah menjadi semakin bersemangat terjun ke dalam air. Iya-lah, suhu air laut terasa hangat dan nyaman ketimbang duduk kedinginan di atas perahu.

Setelah tiga kali penyelaman, kami kembali ke dasa Hitu. Di sana istri pak Ali, boatman, sudah menyiapkan kopi panas dan ampas tarigu yang hangat manis dan lengit. Ampas tarigu ini sejenis roti tapi rasanya manis sekali dan teksturnya lebih padat dari roti tapi tetap empuk. Uuuuaaahhh.. nikmaaaatnyaaa... tanpa malu-malu itu ampas tarigu langsung kami ganyang. Wah... lama sekali saya tidak makan amapas tarigu ini, apalagi ampas tarigu Hitu ini memang yang paling enak.

Keesokan harinya kami kembali diving, kali ini tujuan kami ke Pulo Tiga bareng rombongan ko Robert. Pulo tiga adalah jajaran tiga pulau mungil, Lain, Hatala, Ela, di pojok Barat Laut pulau Ambon.
Kembali kami menuju desa Hitu dengan mobil dan melanjutkan perjalanan dengan speed boat sekitar 1 jam menuju pulau Lain, pulau yang paling dekat dengan pulau Ambon.

Duduk di boat, menikmati pemandangan desa-desa di sepanjang pantai utara pulau Ambon, merasakan hembusan angin di wajah saya, dan kemudian ombak pun mulai menghempas dari sisi-sisi boat. Ahhh... hembusan angin laut.. nyaman sekali rasa. Sungguh.. saya sangat merindukan semua sensasi ini. Semua pengalaman yang sedang saya rasakan saat itu benar-benar saya nikmati dan berharap sebisa mungkin menyerap semua sensasi itu hingga mengobati kerinduan yang ada. Ibarat mobil, saya sedang mengalami proses tune up.

Dan ahh... itu dia, tampak dari jauh Marine Field Station milik Unpatti di desa Hila, tempat dimana saya sempat melakukan penelitian dan praktikum saat kuliah dulu. Tempat yang juga banyak menyimpan cerita pada tahun-tahun sesudahnya.

Juga melewati beberapa bagan yang tersebar di permukaan laut di sepanjang perjalanan...

Berhubung rombongan ko Robert ini adalah hunter semua, alias tukang panah ikan, maka kami segera terbagi dalam tiga kelompok. Kelompok saya dan Reinier yang lebih memilih daerah karang sebagai lokasi diving kami dan dua kelompok ko Robert yang memilih daerah open water, tapi tidak terlalu jauh dari pantai, sebagai arena perburuan mereka. Mereka lebih memilih ikan pelagis seperti tuna, atau barakuda dan beberapa ikan lain yang berenang bebas di laut biru dan TIDAK memanah memanah langsung di daerah karang. Karena alasan inilah saya tidak pernah menentang kebiasaan berburu mereka.

Visibility air di sekitar Pulo Tiga ini jernih banget, berbeda dengan penyelaman-penyelaman kami sebelumnya. Mungkin karena posisi Pulo Tiga yang terpisah dari pulau Ambon dan tidak terdapat sungai di ketiga pulau mungil ini.
Tapi di sini kami harus bermain dengan arus. Maklum saja, para pemburu itu lebih menyukai saat arus karena saat inilah banyak mangsa yang bisa mereka dapatkan. Karena jika laut teduh tanpa arus, para pelagic tidak tampak.

Saat kami kembali ke boat, waaahhh... sampai kehilangan kata-kata melihat hasil panahan ko Robert. Tidak tanggung-tanggung, barakuda sebesar dan lebih panjang dari ukuran kaki saya!!! Belum lagi hasil panahan teman-teman yang lain.

Istirahat makan siang di pulau Ela, pulau terluar. Rasanya aneh juga, di sini matahari bersinar cerah, sementara pulau Ambon yang jarak terdekat kurang dari 4km terlihat awan tebal dan kelabu menutupi.

Sudah tentu kami tidak akan menyia-nyiakan sinar matahari yang merupakan kesempatan langkah hari-hari itu. Menikmati mandi matahari sambil berjalan menelusuri pantai yang masih alami dan sepi.

Dan mana mungkin kami sanggup menolak godaan air laut tropis yang bening, bersih, bebas sampah itu? Maka nyeburlah kami kembali ke laut, berenang dan sekedar berendam menikmati "kemewahan" itu.

Sering terlintas di benak saya, sejak dulu, sejak saat masih asyik dengan pekerjaan saya di tanah air, betapa mewahnya fasilitas yang alam berikan pada Indonesia. Sayangnya kemewahan ini menjadi biasa-biasa saja, pudar dan bahkan terabaikan di mata kebanyakan orang yang dalam keseharian tinggal dalam kemewahan itu. Ibarat kata pepatah, gajah di pelupuk mata tak tampak, tapi semut di seberang lautan tampak jelas.

Dan para pemburu ini pun melewatkan waktu istirahat dengan membersihkan hasil buruan mereka.

Selesai penyelaman yang kedua, kami disambut dengan pemandangan seekor tuna yang gede banget di dalam boat. Hasil buruan salah seorang dari mereka yang sedang duduk dengan senyum bangga di wajahnya.
"Astaga, berat juga," seru Reinier saat mencoba mengangkat ikan tersebut.
"Wah... kalau di Belanda, boleh jadi sudah ada sekitar 200 euro di tangan tuh buat ikan tuna segede itu," komentar kami.

Dive hari keempat saya memilih tempat yang dekat dengan kota. Kembali ke Eri, tapi pada lokasi yang lain. Lokasi di belakang rumah penduduk. Bukan penyelaman dalam tapi tergolong penyelaman santai.

Belum cukup rasanya waktu yang kami sediakan di sana. Masih ada banyak hal dan kegiatan yang ingin kami lakukan. Bahkan tidak banyak teman yang sempat saya temui.
Lain waktu... lain waktu kami pasti kembali lagi.

Dan, slideshow di bawah ini saya ambil secara random dari foto-foto yang sempat saya buat di dalam laut di Ambon. Selamat menikmati!!



Mereka ada, mereka indah, dan mereka rapuh.
Mereka ada. Mereka ada untuk kita.
Mereka adalah kekayaan, anugerah sang Pencipta bagi laut kita.
Mampukah kita menghargainya? Menjaganya? Mengolahnya? Menjadikannya sebagai aset daerah untuk kesejahteraan masyarakat daerah?
Atau... kita hanya bisa menghancurkannya? Menghancurkannya karena ketidak-tahuan kita. Menghancurkannya karena ketidak-perdulian kita, menghancurkannya karena keegoisan kita, menghancurkannya atas nama pembangunan.
Atau... kita akan bahkan melepaskannya pada tangan-tangan negara lain atas nama pengelolaan lingkungan hidup?

Kita seharusnya sudah memilih dan melangkah, sebelum semuanya terlambat.

22 comments:

Marlina said...

Sayaaanngg banget ya...kenapa alam yg cantik disia-siakan gitu. Mestinya Eri dijadikan daerah yg dilindungi negara ya. Kayak daerah bunaken gitu kan.

nie said...

fotomu cuantik2 buanget, Sin! Aku sampe terpukau-pukau, indah banget yah laut itu!!!

Sayang banget Indonesia ga bisa jaga dengan baik :( Padahal kita ini dianugrahi kekayaan alam tak terkira...

nie said...

btw, fotomu yg diambil reinier, cantik deh! :)

Zilko said...

Itu alasannya klasik bgt yah, haha... . Membom ikan dengan alasan ekonomi, jah!! Padahal dengan kehilangan tangannya itu berapa 'nilai' yang hilang, belum lagi akibat tindakannya itu pada alam. Parah!!! Orang udah makin egois saja... :(

Btw, bener tu, foto narsis-nya oke loh, hahaha... :)

yanti said...

bener2 enjoy dunk ya pulkam kemaren, kalo aku suruh nyemplung disono ogak kayaknya, takut ketemu hiu, and uler laut atau buaya putih.. maklum, kebanyakan nonton film horor indonesia kekekeeke.. sedih banget kalo ngebayangin laut dah jadi tempat sampah raksasa, manusia bener2 gak tau diuntung ya, menghancurkan habitat sendiri.. mau jadi apa coba nanti bumi kita ini ;(

Theresia Maria said...

Banyak manusia kemaruk, sayangnya...udah dikasih laut dan seisinya yang bagus masih tega ngebom buat nguras isi se-banyak2nya....:(

Anonymous said...

Tante since.. elok pisan dah kalo liat foto2nya tante.. :D..

Eh.. yang ampas tarigu kaya gmana toh tante?? fotonya dongg..

*teteup kalap kalo liat makanan :D*

Anonymous said...

dari foto2nya,...cerita2nya..bisa kubayangkan kalo dirimu sangat mencintai air beserta isinya ya..ck..ck.. saluuut... :)

wuah berdansa dalam laut? ada videonya ga? duhhhh suaminya pasti hepi liat istrinya kegirangan gitu.. :)

vivi said...

duh nek gw kalo ke blog elo pasti nemuin ilmu baru yg bikin gw pengennnnnnnnnnnnnnnn ngerasainnya pengeeennnnnn tau keik apa sihhh disana ( daerah-daerah yg elo datengin ) pokoknya penasaran deh tulisan yg bermanfaat nek bangetttt apalagi buat gw yg boro-boro bisa ke luar negeri hiks :( hehe

btw nemo-nya cuteeee :D

Anonymous said...

haaa 4 hari pake saja??? :D

Anonymous said...

Indahnya bawah laut ya , apalagi kalau melihatnya secara langsung , sekarang aku tahu kenapa kamu kecanduan laut ...

Anonymous said...

Tunicate tuh sejenis karang ya?
Bagusnyaaaa...

@Vivi :
Nyang ini pan die ke ambon nek, bukan diluar negri, jadi lu bisa deh nyamperin, gih sono...nyelem di Ambon, hehehehehe

Anonymous said...

sin, foto2nya bikin merinding... pantes lo begitu mencintai laut yah. indah banget ya. bener2 indahhh... duh, thx for sharing the pictures yah. Tuhan itu bener2 luar biasa yah! awesome banget!!!

yenni 'yendoel' said...

mereka memang indah yah Since.
suka sedih kalo lihat laut dan gunung penuh sampah.

Anonymous said...

clown fish! I miss petting you....!!!

Anonymous said...

sayang ya banyak sampah didasar laut.. Seru ceritanya..

Toni Blog said...

aku baru tahu ambon itu seindah itu :)

Anonymous said...

menyedihkan liat terumbu yg hancur ya mbak. pemulihannya berapa puluh tahun tu :(
di ambon ada marlin gak? enak bgt ikan yg satu itu!!

++retno

Anonymous said...

since....dooohh cantik amat siy, sayang potona gag full body....pasti lebih keyen lagiy dehhh

Anonymous said...

Since, gw baru baca entries elo ... duh keren2 asli keren .. ceritany keren, foto2nya keren ... !!

Anonymous said...

perasaan gue kemaren udah komen deh hihihi belom ternyata

itu pulau ela cakep banget yak.ngingatin tioman island malaysia

enak ya, ikannya blh dibawak pulang. di amrik gak boleh.liat musim.makanya jd males mancing wehehe

icHaaWe said...

huuuaaa...keren banget...
belom pernah kesana sama sekaleee...ternyata ambon bukan hanya lelakinya aja yg manis2 yah...kotanya juga cantik banget...
jd pengen kesana