2. Merambah Kota Ambon.
Wajah Nona Yang Baru Bangun.
Tentu saja wajah Ambon banyak berubah, terutama setelah acara kerusuhan 1999 yang kemudian berlanjut di tahun-tahun sesudahnya.
Ambon yang tadinya indah, bersih, tertib, kini berubah 180 derajat!!! Ambon terlihat kumuh. Walau bekas-bekas daerah yang terbakar sudah dibersihkan dan beberapa bahkan sudah dibangun kembali, pada beberapa sudut kota masih tetap tampak bekas-bekasnya. Kebanyakan bangunan tampak tidak terpelihara dan lama tidak dicat. Trotoar dengan tegel-tegelnya yang hancur dan tidak rata. Wajar saja jika pejalan kaki menolak berjalan di atas trotoar dengan kondisi trotoar yang seperti itu.
Dan yang paling menyedihkan adalah kondisi sampah yang menghiasi wajah kota!!! Sama sekali tidak tampak bekas-bekas bahwa kota ini pernah menerima penghargaan Adipura.
Sampah di tepi jalan, sampah di dalam selokan, sampah penuh di sungai, dan sampah juga penuh di laut!!! Sering kami menemukan sampah yang menutupi permukaan karang, bahkan ada daerah penyelaman yang dulunya sangat indah dengan susunan karangnya yang "tua" kini menjadi "tempat penimbunan sampah" di dalam laut.Belum lagi boat di laut yang beberapa kali harus berhenti karena baling-balingnya terbelit sampah yang mengapung di permukaan laut. Ugh!!
Tidak jarang kami melihat orang yang langsung melemparkan sampah (bungkus permen, kotak kue, tissue, plastik bekas minuman, dan sebangsanya) di jalan. Bahkan ada anak sekolah yang langsung melemparkan gelas plastik aqua bekas minumnya ke jalan. Sama sekali tidak ada rasa malu karena membuang sampah sembarangan!!
Pada setiap kegiatan, jika kami telat menanyakan sampah bekas makanan untuk dikumpulkan di kantong sampah, maka jawaban yang kami terima dari pak supir atau crew boat, "sudah dibuang, ibu".
"Dibuang ke mana?" tanya saya. Dan jawaban yang selalu saya terima adalah sampah itu sudah dilemparkan ke selokan, ke laut atau ke semak-semak. AMPUuuuN!!!!!

Padahal rumah dan halaman rumah penduduk tampak bersih tanpa gangguan sampah. Artinya bahwa orang masih mempunyai budaya dan kesadaran akan kebersihan. Tapi mengapa budaya itu juga tidak diterapkan di luar rumah dan pekarangan masing-masing orang?
Yang bikin berdecak, segunung sampah yang dikumpulkan di tempat sampah umum dari awal kami tiba di Ambon, saat melewati tempat sampah itu, sampai beberapa hari kemudian, kali terakhir kami melewati tempat sampah itu, tumpukkan sampah yang sama masih tergeletak di sana. kami berani mengatakan tumpukan sampah yang sama karena kami mengenali beberapa benda yang tergeletak di sana. Helloooow.... Dinas Kebersihan Kota, di manakah kalian??? Bukankah timbunan sampah seperti itu seharusnya diangkat oleh mobil sampah tiap hari??
Bukankah kalian yang harusnya memberikan contoh kedisiplinan dan kebersihan bagi masyarakat kota?
Ayo warga dan pemerintah kota Ambon, jang biking Ambon jadi tampa sampah basar.
Pasti bisa, Ambon menjadi bersih kembali, karena toh pada kenyataannya ada juga beberapa daerah yang kami lewati dan beberapa desa di luar kota Ambon yang bersih, rapi dan terpelihara.
Ambon, ibarat nona yang baru bangun tidur. Kuyu, kucel, masih batai mata. Nona ini harus cuci muka, mandi, keramas, supaya bersih dan wangi, dan berdandan lagi supaya manis. Supaya siap untuk menantang hari-hari dengan senyum nona Ambon yang memikat lagi.
Napak Tilas Kenangan Masa Lalu.
Menjelajah kota Ambon sambil mengenang masa lalu sekaligus memperkenalkan sisi-sisi masa kecil, masa remaja, sampai dunia kerja saat masih di Ambon dulu pada Reinier, sudah pasti, termasuk salah satu acara wajib saat di Ambon. Tidak perduli harus merambah dalam hujan dan langit kelabu.
Ini dia, wajah kota dari jendela kamar kami. Kelabu, gelap dan basah yang selalu menyambut pagi-pagi kami di sana.Naik becak keliling kota, menyusuri jalan-jalan yang dulu saya kenal dengan sangat baik, melewati bekas TK, ah.. pohon kamboja yang dulu sering kami panjat sudah tak ada lagi.
Lewat bekas SD, lewat bekas SMP, lewat bekas SMA. Nah hanya wajah SMA ini yang masih saya kenal. Tidak banyak yang berubah dari wajah SMAN 1 Ambon.
Wajah gereja-gereja di sana pun banyak berubah. Kebanyakan merupakan bangunan baru karena bangunan yang lama sudah habis luluh lantak dibakar saat kerusuhan dulu. Sayangnya, bangunan baru ini terasa ada yang hilang. Ciri khasnya... hilang. Bentuk gereja yang unik mirip model bangunan gereja tua Portugis sudah tidak kelihatan lagi.
Gereja yang terlihat sangat indah, yang membuat kami terpaku dan berdecak, bahkan sempat berhenti beberapa menit di depan gereja itu untuk menikmati keindahannya adalah gereja Kathedral. Foto di samping adalah sebagian penampakan gereja Kathedral.Sementara masjid Jami di jl. Sultan Babulah, tampak lebih cemerlang dengan kubahnya. Ah, dari dulu, dari semua masjid di sana, menurut saya masjid Jami yang paling menawan.
Memang naik becak sambil menikmati kota memang merupakan sebuah keasyikan tersendiri. Lama sekali saya tidak menikmati kegiatan ini. Kadang-kadang terjadi percakapan dengan pengemudi becak, kadang-kadang juga kami memilih turun dari becak dan berjalan kaki di samping becak pada jalan yang menanjak, iya-lah kasian pengemudi becaknya.
Hanya saja, kadang-kadang kami lebih memilih jalan kaki, karena dengan jalur lalu lintas yang dibuat di kota Ambon yang sering hanya searah, dengan menggunakan becak atau mobil kami harus berputar jauh, bahkan memakan waktu yang lebih lama jika macet, jika dibandingkan dengan berjalan kaki.Yup, macet ini juga merupakan salah satu masalah di Ambon. Terutama di daerah sekitar terminal. Menurut saya sih, yang terjadi di Ambon adalah jumlah mikrolet, mobil angkutan penumpang, yang ada sudah terlalu banyak jika dibandingkan dengan kebutuhan yang ada.
Ah ya, satu hal lagi yang bikin kesal dari mobil penumpang ini adalah sering sekali si sopir menyetel musiknya super kencang. Astaga, pada budeg semua apa? Gimana orang menikmati musik yang disetel kencang begitu? Biar kata lagunya enak, tetap saja yang ada malah sakit kuping.
Memang mikrolet tanpa musik itu ibarat bumi tanpa udara. Hiperbolik? Tidak juga. 'gak akan laku itu mikrolet tanpa musik. Dulu, jaman masih di Ambon, musik juga kadang diputar kencang di mobil. Tapi sekarang lebih edan lagi. Ampun dah. Memang 'gak semua mikrolet begitu, ada juga yang pasang musik dengan volume yang normal. Bersyukur banget jika pas naik dapat mikrolet yang terakhir ini. Atau mungkin kami saja yang sering kena mikrolet dengan musik super kencang?
Pas hari terakhir kami di Ambon, matahari menampakkan dirinya. Maka segera si Yayank saya ajak napak tilas perjalanan ke kampus Unpatti di poka.
Memang unik perjalanan ke kampus bagi mahasiswa yang tinggal di kota Ambon, karena bentuk pulau Ambon yang unik ini. Lihat saja di peta di samping itu, ada teluk Ambon di antara kota Ambon dan Poka. Ada beberapa cara tempuh menuju kampus.Dengan mobil atau motor mengelilingi teluk Ambon dalam, dengan ferry menyeberangi teluk Ambon, atau dengan perahu.
Menggunakan ferry biasanya merupakan alternatif yang paling umum kami pilih, karena yang paling murah. Kadang-kadang kalau laut sedang bersahabat untuk berganti suasana kami memilih menggunakan perahu. Perahu ini juga ada jenis bus, yang mememuat banyak orang, otomatis lebih murah, dan jenis taxi, yang isinya maksimum 2 penumpang, yang pasti lebih mahal tapi juga lebih cepat.
Nah, kalau laut sedang tidak bersahabat, ujung-ujungnya kalau tetap ngotot memilih berperahu pasti sudah bisa ditebak, basah habis kami diterpa ombak. Tapi kadang-kadang isenk juga itu yang kami lakukan. Jadinya ke kampus basah-basah. Pokoknya jangan bawa buku dan cacatan penting saja kalau mau isenk begitu.
Nah, berhubung laut di dalam teluk sedang bersahabat sekali, yayank saya ajak berperahu menuju Poka. Dari terminal kami naik mikrolet yang bikin sakit telinga ke Galala, kemudian menyeberang dengan perahu "taxi", dan berjalan kaki ke arah kampus. Kami tidak singgah di kampus, hanya memandang dari luar kompleks saja.Lama sekali saya tidak mengunjungi daerah sekita kampus ini. Tentu saja saja ada banyak hal yang membuat saya terkejut, walaupun tentu saja sudah saya tahu lewat cerita teman. Tetapi tetap saja melihat sendiri membawa efek emosionil yang lebih kuat lagi.

Setelah merasa cukup acara jalan-jalannya, dengan ferry kami balik ke Galala.Duduk di atas ferry dan menikmati pemandangan teluk Ambon, membawa angan kembali pada saat-saat bareng teman-teman kampus dulu. Masa-masa tawa, masa-masa bergelut dengan tugas, ujian dan praktikum, masa-masa... Ah... waktu berlalu tanpa terasa...
Pernah lho dulu saat hendak ke kampus dari atas ferry kami menyaksikan paus, yang kesasar masuk ke teluk Ambon.

Dan, kali ini beruntung, kami menumpang mikrolet yang enak dan adem musiknya dari terminal ferry Galala menuju terminal bus di kota.
Makan-makan
Sudah tentu acara satu ini merupakan bagian dari acara wajib.
Saya kangen sekali dengan jenis-jenis makanan yang khas yang ada di Ambon. Berhubung begitu hidangan yang disajikan langsung diembat, dan baru keingat foto saat piring sudah tandas, so mohon dimaklumi jika tidak banyak laporan pandangan mata untuk urusan makan-makan ini
Nasi Ijah dan nasi Supira, sebenarnya sih nasi campur khas Ambon, nasi, acar, mie goreng, laksa, ikan pedas, sambal goreng tempe, sambal, plus telur kalau mau. Tapi rasa nasi Ijah dan nasi Supirah ini khas sekali.
Coto Makassar Kim Tek, di samping toko buku Dian Pertiwi. Coto Makassar yang terkenal sejak dulu yang sanggup menggoyang lidah. Hmmmm.... apalagi dimakan dengan buras.
Mie Simon, di dekat hotel Amboina. Warung mie yang beken sejak jaman saya masih balita. Astaga, mungkin sudah lebih dari dari usia saya, warung mie ini. Walaupun disebut warung mie tapi ada juga menu lain seperti nasi goreng, pangsit kuah, dan cap cai. Dan warungnya juga tetap sama seperti jaman saya kecil dulu. Super sederhana dan kumuh!!! Tapi yang beli ngantri!! Baik yang makan di tempat atau buat bungkus bawa pulang. Warung ini hanya buka mulai dari jam 6 sore sampai habis persediaan dapurnya, dan itu jika ramai antriannya bisa berarti hanya sampai jam 10 malam. Dan jangan pernah ke sana saat kelaparan, karena bakalan menderita dalam penantian pesanan di sana. Waktu tunggu makanan tergantung dari pesanan. Kalau mau cepat, lirik ke dapur, apa yang sedang di masak, atau pesanan apa yang banyak, pesan yang sama!!! Jika berani mesan yang berbeda, ya selamat menunggu.Catatan: warung ini tidak direkomendasikan bagi yang mengharamkan Babi.
Mie Citra, counter mie di supermarket Citra di Mardika , yang menyajikan pangsit mie Ujung Pandang, mirip mie ayam tapi bertaburan babi panggang merah yang yummy dan pangsit rebus serta pangsit goreng dan di sajikan juga dengan semangkuk kecil kuah kaldu. Dan nyuk nyang, bakso komplit ala Ujung Pandang.
Seperti keterangan yang ada di atas, mie ini juga tidak direkomendasikan bagi yang mengharamkan si ekor keriting.
Kemudian mengunjungi rumah makan Nusantara di lorong GPM. Makanan andalan rumah makan ini adalah gule kambing, yang kata seorang teman, uenaak banget.
Sayang gule kambingnya sudah habis saat kami ke sana. Tapi menu lainnya juga dua jempol!!! Lekker!!!
Depot Seafood Dedes di jalan Sultan babulah, samping hotel Abdulalie. Depot yang menyediakan aneka seafood tergantung apa yang tersedia di pasar. Pokoknya kalau urusan seafood yang diolah dengan resep ala Indonesia, depot ini berani saya rekomendasikan. Hmmm... nyam... nyamm
Sempat juga mengunjungi restaurant seafood di Tantui, atas rekomendasi seorang teman. Tempatnya memang lebih "mentereng" dengan seaview, dan menu yang lebih "modern", tapi rasanya mengecewakan. Tidak ada yang istimewa dan "menggigit".
Dan diajak adik untuk menikmati es pisang ijo di toko kue Pemuda di Setia Budi. Sama sekali tidak mengecewakan!!
Dan, belum komplit jika mengunjungi Ambon tanpa mencicipi cakalang asar (asap).Ikan cakalang asar kami beli dari deretan penjual di Galala saat hari mulai gelap, kemudian disantap dengan kohu-kohu yang kami beli dari deretan penjual makanan di tepi jalan di Batu Meja, kasbi (singkong) rebus, ketupat santan dan colo-colo.
Sayangnya makanan seperti ini tidak bisa ditemui di restaurant manapun di Ambon. Kebanyakan makanan tradisional ini merupakan makanan rumahan.
Dan tidak lupa, nasi kuning bagadang.
Yup Ambon saat malam dipenuhi dengan penjual nasi kuning di mana-mana. Disebut nasi kuning bagadang karena nasi kuning ini bisa ditemui sampai jauh malam.
Bagaimana celana dan rok saya tidak sesak dengan memanjakan lidah seperti ini?
Bersambung...


22 comments:
wah, lagi bernostalgia yah. seru banget tuh mengunjungi bekas2 skola.
di manado angkot juga pada berlomba kenceng2an musik. bener2 bikin pusing kepala.
gw juga paling sebel kalo nglait orang maen buang sampah sembarang. ga berbudaya banget sih!
*ngeces bayangin mie simon* emang kadang warung2 tertentu yang ga pernah berganti lay out dari jaman purba. tapi itu justru ngangenin yah...
sayang ga ada potow makanannya... :(
Yah di indonesia mah, bukan rumah = tempat sampah massal :))
tante.. cakalang asap bukannya menu di makassar sana? :D
wuaaah gw ngiler liat ikan cakalangnya.. itu dimasak apa sich? yang ditengah item2 itu apa?
namanya juga ngondenesya?
macet? Ah, masalah klasik kalo di Indonesia mah. Alasannya ya sederhana, para pengguna jalan yang "tak tahu diri" dan nyetir seenaknya (termasuk berhenti seenaknya padahal dilarang).
Iya tuh, mungkin kalo di rumah sendiri kan merasa itu milik sendiri, makanya diurusin. Kalo diluar, berhubung merasa tidak memiliki, makanya jadi suka2 hati dan merasa bukan urusannya, hmmm... :(
Hahaha, bentuk Pulau Ambon memang "antik" yah, hahaha... :)
aduh nengggg... bikin aku ngiler netes2... dibawain sedikit ga buat aku? huhuhuhu...
nasi kuning aku mau donggg
sherly (pake loginnnya lan neh huhuhu)
asyik bernostalgia Since.. Di Smg sama aja, jadi makin kotor..
bikin ngiler!
di jambi juga idemlah, angkot musiknya keras banget speakernya, sampai badan dan kuping ikut bergetar.
Sayang banget deh Ambon jadi kotor begitu...tapi keknya di Indo kotor di mana2 deh, banyak gundukan sampah n pemda gak tau mau buangnya kemana lagi....
temanku pernah ngebuang sampah dari dalam mobilku waktu di indo. bah, aku yg malu. tak tegur dia.
kayaknya aku pernah deh makan ikan caklang asar.tapi dimana yak...
enggak apa-apa maem yg banyak mumpung masih di indo :LOL: *apa hubungannya* ntar kelo kekecilan bajunya or celananya beli lagiiiiiiiii :D
> Caroline,
Hehe... keduluan ludesnya... maklum aja.. kalap :D
> Anung,
Bukan Anung, cakalang asar itu dari Ambon. Dan tempat yg beken buat cari cakalang asar di Ambon tuh di Galala.
> Fun,
Cakalang yang diasapi (dibakar tapi posisi ikannya jauh dari api/bara) sampe matang, makannya bisa langsung dengan colo-colo (racikan dari irisan bawang merah dan cabe rawit, air lemon cina-jeruk kecil2 yg asam banget, dan kecap asin) atau bisa juga disuwir-suwir dan dicampur dengan panganan lain.
Yg item di tengah itu bilah bambu buat penahan ikan di tempat pengasapan.
> Ndoro Setan,
doh... apa harus selalu... itulah Indonesia...
> Zilko,
Itu dia yg bikin sepet ati ini, kapan kesadaran untuk benar2 menghargai lingkungan tuh menyatu dalam darah?
> Sherly,
Ayo ke Ambon yuk :)
> Dyah,
He-eh... kangennya juga belom 100% terobati nih.
> Yendoel,
Hahaha... budaya budeg jadinya ya :D
> Tiwi,
Oleh karena itu seharusnya pemda juga kreatif bikin peraturan, pengaturan en kebijakan mengenai masalah sampah dong. Emang 'gak mudah, tapi tantangan gimana mengendalikan sampah dari masyarakat yang lebih dari 200 juta orang itu. Dan membiarkan budaya membuang sampah sembarang dan membiarkan sampah bertimbun tanpa kendali, sama sekali bukan jalan keluarnya.
> Dian,
Tapi yang ditegur kadang cuman cengengesan aja, tetep mrasa 'gak ada salah. :(
> Vivi,
Bangkruuuuutttt daku. Hahaha...
since. aku pribadi lebih seneng tinggal dikota2 spt ambon ini. kyknya lbh peaceful ya? belum pernah ke ambon, tapi kayaknya kota yg enak buat tinggal (dan ngangenin).
baru tau elo orang ambon since.. kirain org asemka kekeke j/k. asik kayaknya.. katanya ambon memang cantik, lautnya apalagi ;)
Since,
salam kenal... mampir dari blognya bebek.
baca2 cerita kamu dulu yaaaa
Waduh itu cakalangnya bikin ngiler aja nih... dah gak sabar untuk bisa mudik!
Juragan bloggernya kok nggak ada di fotonya ya? :D
membuang sampah sembarangan ... kayaknya ndak di sana saja Sin, rasa peduli lingkungan dah ndak ada lagi, yg penting lingkungan rumah saja
langit dgn awan bergumpal2 mengingatkan awan di sini , tapi agak lebih kecil gumpalannya
ngebayangin perasaan since menapak tilas masa kecil
jadi ikut terharu deh
Soal mikrolet, sama kayak di Balikpapan, lbh banyak mikroletnya drpd penumpang. Isinya paling 1-2 orang aja. Menuh-menuhin jalanan! Trus pake musik keras2 juga, bikin sakit kepala aja..
Tempat sampah juga gitu...sampe numpuk gak diangkut juga, heran deh...
sama kek yanti baru ngeh klo lu orang ambon sin..ceritanya dah berapa lama niy ga pulkam? keknya lama banget ya kok smp terkaget2 liat keadaan sana...
duh makannanya bener2 jd pengin nyobain...alamak jauh bener harus ke ambon ya *ngiler2 dah*
hi since...
baru mampir sini lagi since..kapan ya..
lagi ribet ..
but.. kapan aku bisa diving ya?
mimpi sptnya....
jauh dari jangkauanku ...
mudah mudah an sebelum 50 thn sempet diving..
hahaha.. doa in ya...
In Ambonstad heb ik 3 jaar gewoond
op Batugajah.
Van 1948 tot 1951.
Was op de Urimessingschool.
Vic Koopmans
Post a Comment