Kami berdua telah merencanakan sebuah short holiday sebelum masa sekolahku dimulai, sejak beberapa minggu yang lalu. Ke mana? Saya ingin mengunjungi kembali Sacre Coeur church, dan Reinier ingin melihat dekorasi ruangan-ruangan dalam istana Versailles. Klop, Paris adalah jawabannya.
Perjalanan kami dimulai Jumat pagi minggu lalu. Matahari yang bersinar cerah membuat semangat liburan makin mengebu-gebu. Sengaja kami tidak mengambil rute terpendek menuju Paris. Kami berusaha memilih jalan-jalan "kecil" (warnanya kuning di peta) untuk mendapatkan pemandangan yang lebih indah dan lebih "local color", daripada lewat bypass (walaupun kadang-kadang kami harus memilih bypass juga). Dari Eindhoven, kami menyeberangi Belgia menuju Perancis.
Tak lama setelah masuk wilayah Belgia, kami sudah berada di daerah berbukit-bukit. Pemandangan yang sangat berbeda dari daratan Belanda yang begitu datar. Beberapa lokasi mengingatkan saya pada Bedugul di Bali dan juga Tomohon di Sulut. Hmmm... jadi rindu tanah air.
Saat melewati Durbuy, Belgia, kami sempat berhenti sejenak untuk melihat kastilnya. Sebuah kastil tua dari sebelum 1628, yang kemudian dibangun kembali oleh keluarga Ursel pada tahun 1880. Sayangnya kastil tersebut ditutup, sehingga kami hanya melihat dari luar saja. Tempat ini penuh juga dengan turis, diantaranya yang paling jelas diidentifikasi adalah Taiwan dan Jepang


kastil Durbuy, Belgia


Durbuy's tourism area


Reinier dengan peta saat saya sibuk dengan kamera

Kami juga berhenti beberapa kali, untuk makan siang dan coffee break. Bukan di restoran atau di cafe, melainkan piknik dengan bekal yang sudah kami siapkan dari rumah. Ada begitu banyak tempat piknik yang indah sepanjang perjalanan.

coffee break, picnic, somewhere between Halma and Deverdisse, Belgia.
Menikmati secangkir kopi sambil merasakan hangatnya sinar mentari di kulit, harum segar pepohonan hutan, gemericik air sungai yang mengalir, senyum orang yang dicintai... Indah sekali... Saya sungguh berterima-kasih pada Tuhan.

Bohan, Belgia

Sekitar pukul 8 malam saat kami tiba di Paris. Hal yang masih terasa agak "lain" bagi saya adalah jam 8 malam di sini masih seterang jam 5 sore di Indonesia. Saya belum 100% terbiasa

Hotel de la Terrasse, kami memilih hotel ini karena disamping lokasinya yang dekat dengan gereja Sacre Ceour, harganya juga relatif lebih murah (ternyata harga di website lebih mahal dari harga di meja resepsionisnya
) dan kondisi kamar yang bersih dan manis yang terpampang di website tersebut.Namun, pada kenyataannya kondisi kamar tersebut sungguh jaaaauuuuh berbeda dari foto yang kami lihat di website. Sepertinya foto-foto tersebut diambil sekitar 20 tahun yang lalu
Begitu masuk ke kamar... saya hanya bisa melongo dan kemudian tertawa. Saya tidak mengerti apa yang kira-kira ada di benak orang yang mendekorasi kamar tersebut. Semua serba pink!!!! Dinding berwarna pink, bed cover pink, gorden pink, karpetnya merah tua, sampai tissiu dan toilet papernya pun PINK!!!!!
Maboook sudah!!!!! Untung saya tidak mengenakan t-shirt pink, kalau tidak saya sudah merasa seperti bunglon di kamar itu. Ya sudahlah... hanya 2 malam...Setelah makan malam yang murah meriah tapi enak di chinese food depot di dekat hotel, kami menghabiskan beberapa jam berjalan-jalan di daerah selatan Montmartre (bukit di mana gereja Sacre Ceour berada), sekaligus mengambil beberapa foto gereja Sacre Ceour yang berselimutkan cahaya lampu.

Sacre Ceour di malam hari, Paris



1 comment:
wooooww ....asyiik dong tinggal dikamar serba pinky...so jadi mevrouw pinky dong,...hi..hiii.
Post a Comment