Wednesday, July 23, 2008

Discover HongKong

Lembaran 1

Sengaja kami memilih Cathay Pacific kali ini untuk ke Indonesia supaya bisa sekalian jalan-jalan di HongKong, dengan memperpanjang waktu transit yang tadinya hanya 3 jam menjadi 2 hari 2 malam di HongKong. Toh harga tiketnya tetap sama.

Hari masih pagi saat kami mendarat di HongKong. Matahari bersinar cerah. Padahal saat di pesawat dalam perjalanan ke HongKong kami sempat kuatir juga dengan cuaca nanti, karena tertera jelas di koran yang disajikan di pesawat bahwa cuaca di HongKong dua hari belakangan itu adalah hujan.. hujan.. dan hujan.
Memang terasa banget pengaruh hujan beberapa hari sebelumnya pada hari pertama kami menginjakkan kaki di kota itu, suhu udara yang hangat dan lembab langsung terasa menggantung di udara. Sumuh!!

Dari airport dengan menggunakan airport express service, metro super cepat yang menghubungkan airport ke beberapa stasiun MTR, seharga HK$90 per orang, single trip, kami bertolak ke stasiun Kowloon dan kemudian melanjutkan dengan metro kota menuju ke stasiun Olympic (HK$4/orang, single trip), daerah di mana terdapat hotel tempat kami menginap selama di HongKong.
Asyik juga naik MTR ini, cepat, murah, tepat waktu, tenang, bebas asap rokok dan bersih banget. Hanya saja tidak ada pemandangan landscape yang bisa dinikmati, paling kegiatan orang-orang di sekeliling yang bisa diamati.
Lebih banyak info tentang MTR ini bisa diklik di sini.
Satu hal yang sangat saya rasakan berbeda di sini, adalah masyarakat di sini menghargai ketenangan di kendaraan. Di luar, di jalan, di restaurant, di toko, dengan gampang kita dengar cara berbicara masyarakat yang cenderung bersuara keras. Namun saat duduk di metro atau di kendaraan umum lain mereka cenderung diam atau berbicara dengan nada yang rendah.

Setelah tertidur selama beberapa jam, siang itu mulai kami merambah HongKong dengan jiwa yang masih separuh mengapung di awang-awang akibat jetlag. Dua-duanya sih sudah kompromi terlebih dahulu untuk tidak melakukan perjalanan yang berat hari itu, paling hanya makan siang dan keliling-keliling sebentar melihat kota. Tapi yaa... kompromi tinggal kompromi, kalau kaki sudah diajak melangkah di jalan ya lupa waktu juga. Apalagi jika perut sudah penuh diisi nasi bebek. Wahhh.. jiwa terpanggil kembali terkumpul semuanya dalam raga!!!

Saat makan siang di hari pertama itu juga rasanya aneh banget. Kebetulan saat berjalan dari hotel menuju ke stasiun metro kami melewati sebuah rumah makan kecil tapi dengan sajian yang langsung bikin rongga mulut ini basah... Doh... gantungan bebek panggangnya itu dan irisan-irisan daging asapnya... waaahhhh....
Langsung saja tanpa ba bi bu kami masuk dan duduk di antara orang-orang yang ramai yang sedang makan di dalam. Sudah duduk manis, baru sadar... hehehe.. kenapa cuma saya satu-satunya wanita dalam rumah makan itu? Bodo ah.. hidangan sudah tersedia.. sikat saja. Malah ada bapak-bapak yang duduk di samping saya mengajarkan tata cara kebiasaan makan di sana, walaupun dengan bahasa Tarzan.

Yup, mandarin saya kacau sekali, hanya beberapa kata yang saya mengerti dan lebih sedikit lagi yang bisa saya ucapkan dengan benar.
Hahaha... Inilah nasib kebanyakan orang Indonesia keturunan Cina. Mandarinnya kocar-kacir!!!
Selalu tatapan aneh mendarat ke wajah saya, saat saya menjawab pertanyaan atau bertanya dalam bahasa Inggris.
Walaupun begitu bahasa Indonesia sendiri juga terdengar sayup-sayup di sudut-sudut jalan, di mall, di stasiun, di pasar, di lokasi pariwisata, di kuil, di bus..

Habis makan mulai acara jalan-jalan tidak jelas, alias suka-suka hati saja mau pilih arah mana. Jadilah ikut metro ke HongKong, jalan-jalan sebentar di mall, cuci mata doank, kijken kijken niet kopen. 'gak tau kenapa, semangat belanja saya kok tidak ada ya??? Padahal diskon di mana-mana. Tampilan-tampilan di etalase pun tidak kalah menarik. Tapi kok saya tidak tergugah ya? Sampai-sampai Reinier sempat nyeletuk, kamu kok tidak shopping?
Asyik juga duduk-duduk di pojokan Starbucks di sebuah mall, melepas dahaga sambil mengamati pengunjung mall. Mereka, perempuan, mulai dari gadis muda sampai ibu-ibu, kebanyakan bergaya modis banget. Beraksi lincah dengan sepatu hak tinggi dengan ujung hak yang lancip... Duh... baru membayangkan saya berjalan dengan sepatu hak tinggi dengan ujung setajam itu saja sudah mengkerut meringis duluan. 'gak kuku!!

Sore balik ke Kowloon dengan ferry dan menyusuri jalan-jalan di sana sambil berjalan kaki kembali ke distrik Olympic. Gilaaa.. ternyata jauh juga!!! Tapi asyiknya dengan berjalan kaki begini ada banyak hal yang bisa kami lihat dari kehidupan di HongKong.
Melewati daerah shopping center, menyeberangi Kowloon park, sampai pada jalan dimana orang-orang menjual sayur. Tiba di Jade market di Kansu street, kembali hanya untuk cuci mata tanpa membeli apa-apa. Bagus-bagus sih tapi bukan style-nya kami berdua.
Oh ya, jika ingin mencari jade yang kwalitas bagus sih langsung saja ke toko-toko khusus yang menjual jade yang sudah pasti harganya juga aduhai menguras kantong.

Di daerah shopping center, kami lebih "dicuekin" oleh pedagang-pedagang Cina. Dengan kata lain mereka tidak membebani kami dengan rayuannya untuk membeli barang. Justru para pedagang India di sana yang agak agressif. Kami harus mengatakan tidak berulang kali untuk menolak tawaran mereka.

Berjalan menyusuri pertokoan di HongKong mengingatkan saya pada Bali. Kalau di Bali bau dupa, di sini bau hio. Hihihi.. apa sih bedanya antara bau dupa dengan bau hio??
Ternyata hampir di depan semua toko juga ada kotak persembahyangan kecil.
Bicara soal dupa, ada juga jalan di mana orang menjual segala sesuatu yang berhubungan dengan acara untuk orang-orang yang sudah meninggal. Berjenis-jenis uang kertas, yang sudah dilipat atau yang masih lembaran licin, dupa-dupa, sampai rumah-rumah kecil yang mewah menyerupai rumah boneka yang lengkap dengan perangkat isinya, bahkan boat!!!! Emangnya di dunia sana boat juga dibutuhkan ya?? Hmm

Satu hal yang saya sayangkan adalah penggunaan ac di toko-toko dengan pintu yang tetap terbuka. Sama halnya dengan penggunaan heating di musim dingin di beberapa toko-toko dengan pintu-pintu toko yang dibiarkan terbuka di Eropa sini.
Sayang pemborosan energinya.
Satu hal lagi, jangan kaget pada "hujan" tetesan air AC saat berjalan kaki di HongKong.

Ujung hari pertama itu kami habiskan di Sai Yeung Choi street, jalan yang penuh dengan toko-toko elektronika. Mulai dari toko kamera sampai toko komputer. Ngiler banget liat produk-produk yang ada di sana. Doohh.. tuh Asus EEE PC 900 dilirik-lirik terus deh.

Jam 8 malam, saya benar-benar nyerah. Kaki-kaki ini sudah pegal, kaku dan berat banget. Astaga, kompromi yang tadinya hanya melakukan perjalanan ringan-ringan saja, ternyata mungkin ada sekitar 6km jalan kaki keliling-keliling. Balik ke kamar hotel, dan saya bahkan benar-benar tidak sanggup untuk keluar makan lagi. Untung juga ada banyak rumah makan kecil dekat-dekat situ, sehingga nasi bebek bungkus pun tidak menjadi masalah.

Malam itu kami tertidur dibawah siraman lampu-lampu kota. Skyline yang terukir dari balik jendela kamar kami di lantai 13. Buset deh baru kali itu saya nginap di kamar setinggi itu.

Pagi selanjutnya, dengan tubuh yang lebih segar, kami isi acara pertama dengan dim sum breakfast, yum cha. Keterlaluan sekali jika singgah di HongKong tanpa mencicipi dim sum.
Dan tidak lebih dari 300meter dari hotel terletak sebuah restaurant dim sum yang penuh dengan pengunjung lokal. Nyari tempat duduk di dalam saja susah. Tapi, dim sum-nya memang lezat dan semua pesanan yang kami santap sepuas kami itu hanya kami bayar seharga HK$80.
(HK$1, kira-kira 8 EURcent, kira-kira Rp 1200).

Acara kedua, dengan metro menuju ke stasiun Tung Chung di pulau Lantau, untuk terus lanjut dengan cable car menuju ke biara Po Lin dimana terletak Tian Tan Buddha, patung Buddha raksasa dari perunggu.
Sayangnya, cable car pada saat itu sedang tidak dibuka untuk umum karena sedang dalam proses maintenance. Ya sudah, lanjut terus ke Po Lin dengan bus.
Pemandangan sepanjang perjalanan yang berkelok-kelok di pulau Lantau ini jauh berbeda dengan pemandangan di kota. Bukit-bukit yang hijau, pantai pasir dengan air yang biru segar, rumah-rumah yang tidak saling tumpah ruah namun juga dengan halaman yang lega. Udara pun terasa lebih segar.

Tidak banyak waktu yang kami habiskan di biara Po Lin. Hanya mendaki 268 anak tangga menuju ke patung Buddha, mengelilingi patung tersebut, turun kembali, singgah sebentar di kuil Po Lin, duduk-duduk sejenak di halamannya yang sejuk dan kembali ke pelabuhan dengan taxi, gara-gara malas menunggu bus jurusan pelabuhan yang tidak jelas kapan tibanya.

Dengan ferry kami menyeberang kembali ke HongKong. Perjalanan yang juga menyenangkan karena dengan ferry ini kami melihat sisi lain dari pulau HongKong dan juga pulau-pulau kecil lainnya yang kami lewati.

Selanjutnya? Isenk saja kami naik ke salah satu tram yang entah ke mana tujuannya. Pokoknya ikut saja sampai titik terakhir dan kembali ke titik semula dengan tram berikutnya.
Dengan cara ini lebih banyak sisi kota HongKong yang bisa kami lihat.
Mulai dari sisi modern sampai pada beberapa sudut yang terlihat antik dengan bangunan kuno yang masih dipertahankan. Tidak hanya bagian yang cantik memikat, tapi juga sudut-sudut yang rada kumuh dari kota.
Tiba di jalan tempat toko-toko bahan kering, mulai dari ebi sampai sirip hiu raksasa bisa dilihat. Dan yang bikin kami ngakak, mereka bahkan menjemur teripang di atas atap halte bus dan halte tram!!!
Acara yang murah meriah. Bayangkan saja kami menghabiskan hanya HK$4 per orang pulang pergi, sekitar 1 jam duduk di tram.

Senja yang romantis di Victoria harbour? Sudah pasti tidak terlewatkan!! Walaupun dengan cara yang sederhana, hanya membaur dengan orang-orang di pelabuhan. Bersama menikmati sepoinya angin senja, bias-bias sunset yang masih tertinggal di langit dan lampu-lampu kota yang mulai menyala ramai.

Dan malamnya di The Victoria Peak untuk menikmati pesta lampu skyline HongKong dari puncak tertinggi di pulau tersebut, 554m dari permukaan air laut.
Saya sempat malas juga pas begitu melihat antrian panjang pengunjung yang menunggu giliran menuju the Peak dengan menggunakan tram yang sudah berusia 120 tahun. Bah, 8 menit ke puncak dengan menumpang tram itu tapi lebih dari 45 menit di barisan antrian menuju ke loket karcis. Untung saja antrian panjang tersebut bergerak tidak lelet, sehingga tidak sampai bete berdiri menunggu.

Turun dari tram antik itu, ada rasa kecewa yang menyergap di hati. The Peak yang tersaji di depan kami sangat bertolak belakang dengan the Peak yang kami bayangkan.
The Peak dalam sangkaan kami adalah tempat yang lebih natural. Bukan berjalan dalam mall yang megah, menaiki escalator yang bertingkat-tingkat dan tiba di teras, di puncak mall tersebut.
Setidaknya keindahan kota dan pelabuhan di malam hari yang tersaji di depan kami menghibur sedikit kekecewaan kami.

Teler, kecapekan, saat kembali ke hotel. Kadang tubuh dan perasaan tidak sejalan, perasaan boleh tetap muda, tapi stamina tubuh toh tidak lagi seperti saat 10 tahun yang lalu.

Minggu pagi-pagi, dalam perjalanan ke stasiun metro untuk kembali ke airport, kami melihat pemandangan khas minggu pagi di kota ini, orang-orang tua yang sedang melakukan aktifitas kebugaran pagi, chi kung. Baik di depan rumah/tokonya, di tengah trotoar jalan, di lorong penyeberangan, dan di tempat-tempat terbuka lainnya.

Tidak terasa 2 hari 2 malam di HongKong sudah berlalu. Masih belum puas rasanya kami merambah kota ini. Jika ada kesempatan, suatu saat kami akan mengunjungimu lagi, HongKong. Masih ada banyak tempat yang ingin kami kunjungi di sana.

24 comments:

Zilko said...

huaaa jadi pengen ke Hong Kong lagi. Dulu belum sempat keliling2 banyak disana, cuma sehari sih, hehe

Btw, bener ga sih kalo masuk Hong Kong gak perlu visa? hehehe... :) (dulu pernah kesana tp berhubung paspor jg masih ikut ortu jadi ga merhatiin deh, hehehe)

nie said...

welcome back!!!!! Hehehehe....
Wah kamu seneng ke HK yah, Sin... Aku malah ga terlalu suka, terlalu sumpek di sana kebanyakan orang! tapi fotonya bagus2!!! :)
Waktunya istirahat nihhhh

Anonymous said...

wuaaah dah lama ga ke sana.... baru tau ada biara po lin loh..jadi pengen pegi :)
hayooo ditunggu cerita2nya soal balik kampung :)

Anonymous said...

jjl terus nih, gak percaya klo liat fotoo2 mu hongkong kliatan sepi, nyaman.....pdhl sebetulnya....

padet banget acara jjl nya di hongkong

Leniawati said...

welkom terug sin:)

Waah fotonya ok2 nih, kebetulan tahun depan kita juga pulang naik cathay dan nginep 3 malam, udah ngiler pengen cepet kesana.
Sharingnya berguna nih:)

yenni 'yendoel' said...

weleh.. si sientje udah nongol lagi! seperti biasa dg cerita super komplit. tapi kok gak terpotret hongkong yang ruaaame banget? di kepalaku hongkong itu hectic. tapi kamu jeli menemukan sisi2 indahnya yah! =)

Anonymous said...

Makan yamcha dikota pusat yamcha emang berasanya gimanaaaa gitu, lebi semriwing deh, itu somay en swikau jadi lebi yahuddd rasanya, hehehehehe...bener ga ci? ^^

Emang direstaurant bebek itu yg makan cuma kaum pria doang ya? Ato mungkin cuma pria nya aja yg makan bebek asap dengan barbar :P

Anonymous said...

Ternyata sudah back ...jalan-jalan di Hongkong asyik juga.. Banyak makanan enak lagi..

retnanda said...

akhirnya.....
balik juga dikau...
waduh since
lama lama itu foto ntar ada yang mau lho.. dijadiin postcard..
asli.. cool...
btw... komentarin dong pics ku yang di..
http://retnanda.blogspot.com/2008/06/snap-shoot-in-heart-of-sudirman.html

bukan apa apa sih.. cuma pengin komentar profesional fotografer..
hehehe....
txs

SinceYen said...

> Zilko,
Iya, 'gak perlu visa Ko kalo ke Hongkong. Untuk WNI masa berlaku visa free periode tuh 30 hari. Ntar kalo mo lanjut ke Cina daratan baru deh butuh visa.
(Cek di sini: http://www.immd.gov.hk/ehtml/hkvisas_4.htm#general)

> Nie en Yendoel,
Rame, terlalu banyak orang? Iya lah, penduduk HongKong sendiri udah jutaan plus turisnya.
Yaaa... mirip Jakarta lah tapi lebih bersih dan tertib. Dan enaknya tuh kita bisa melenggang dengan nyaman dan transportasi ke mana aja 'gak jadi masalah.

HongKong itu bisa aku bilang salah satu surga untuk fotografer, ada banyak sisi yg indah untuk dishoot. Pokoknya belon puas dah di sana. :)

> Fun,
Hayoo kapan bawa trip ke HongKong? :)

> Kenny
HongKong padet kaya Jakarta Ken. tapi lebih nyaman lah.Acaranya juga padet karna waktunya terbatas banget.

> Leni,
Ikuuuuttt!!! 3 hari 'gak cukup Len. :)

> Reth,
'gak tau Reth, udah masuk, udah duduk plus lapar, cuek aja dah. Pokoknya enak dan kenyang dah :D
Dimsumnya hmmmm....

> Dyah
Kalo pemakan segala sih surga makanan enak dah.

> Ceniel
Mudah2an aja ada yg tertarik buat beli ya mbak :)

Komentarku? Doh, bikin ge-er abis nih :) Tapi makasih banget udah "diperhitungkan".

Anonymous said...

kok nggak ada foto bebek yg digantung ? :D bisa2 slurrrpppp ..ngiler :D

bayanganku HK itu yg seperti no 4 :)

Anonymous said...

komentarku di atas itu kok bisa jadi "me" ... terlalu membayangkan bebek gantung nih :D

Anonymous said...

ughhhh, bebek ke HK trakhir april'97.....huuuhuhuuu mau lagi ke sana.

since, tgl 1-5 agt yayang dan bebek dolanan ke holan.
since dimana yah? kalo bisa ketemu, sms ke +65 96902494, ok?

Marlina said...

Enaknya ya, mudik singgah di HK dulu. Aku juga pengen! hehe..

Since mandarinmu patah2 ya? hihi..tapi mungkin msh mendingan drpd aku.

Orang di HK gimana kalo liat org asing/bule, Sin? Gak kayak di indo kan? kalo di indo kan suka jadi tontonan gratis tuh ;)

amethys said...

aseek since.....waktu mudik th 2007 aku ke HK 3 hari..tapi no idea kemana saja aku perginya....pokoknya naek ferry dan ferry....trus ke victoria peak juga....trus ke gedung tertingginya HK.....but no idea blas ga kaya dikau yg cas cis cus crita jalan2 nya juga
dan buatku Canada jauh lebih murah dari Hk....

Dyah Astiek said...

since lu tanggung jawab donk..gw ngiler2 liat makanmu ..sluurrpp..org ga doyan bebek juga tp baca ceritamu jd pingin...dasar celamitan....apalagi dimsumnya mau doooonnkkkk......

asik ceritanya ga rasa tau2 dah diujung postingan...

Hiu said...

hwaa liburan terus mbak... selamat datang di ID... eh emang nyampenya kapan kalo 2 hari lagi berarti hari ini dong...

Toni Blog said...

kapan ya giliranku :)

vivi said...

huaaaaaaaaaaaa bagus-bagus banget potonye eh apa bener ke hk nda perlu visa hanya paspor aja sin ?

Theresia Maria said...

poto2nya baguuuusss....

Anonymous said...

wekkekekke sama. pake sepatu tinggi mah jalan2x bikin kram betis, lecet jempol.

eh kebanyakan suku china di jawa gak bisa bhs mandarin ya hehhe kalo di riau, bisa semua

Anonymous said...

wah, potonya keren banget. bener banget komen kenny, hongkong dari poin of view sience berbeda banget yah... hebat!! hongkong jadi keliatan lebih cantik kerna ga banyak orang berseliweran...

Anonymous said...

aku kayaknya wajib kesana ya? belum pernah lho..kita nih penggemar dimsum yg sampe dibela2in nyetok dimsum sampai freezer penuh, berhasil beli frozen hakkau dan shumai lewat 'orang dalem'. sayang nggak dapet ceker krn biasanya fresh. itu the bestnya! aku kalo ke HK kalap kali ya...tiap pagi nge-dimsum melulu.....

Xty said...

Hk is the best city/country in the world to me! Kalo pengen idup di Asia, maunya aku di Hk aja hehheeh apa aja ada :D