Thursday, May 28, 2009

Melintas Alsace

Baca Alzak

Catatan perjalanan 1.

Motorcyle Empat hari selama weekend panjang hemelvaart (hari raya kenaikan Yesus ke Surga) ini kami isi dengan motor trip lagi dan rute yang kami pilih kali ini, adalah melalui jalan tol menyeberangi Ardennen-Belgia dan daerah Jerman menuju daerah Perancis timur laut, kemudian menyeberang ke Schwarzwald (Black Forest) di Jerman, menyerempet sedikit daerah Zwitserland, balik ke daerah pegunungan Schwarzwald dan lewat jalan tol kembali langsung ke Belanda.

Jam sudah menunjukkan pukul 8.00 malam sementara kami masih sekitar 200km dari 500km target tujuan kami Rabu malam. Ternyata sudah 4 jam kami berada dalam perjalanan. Kami memutuskan untuk mencari penginapan di kota terdekat saja, tidak perlu tergesa-gesa untuk harus memenuhi target tujuan kami dan kemudian kelelahan di ujung hari. Ini kan liburan, besok pagi perjalanan dilanjutkan lagi dengan sedikit mengubah rencana. Ah, ini gara-gara macet panjang di daerah Maastricht-Belanda Selatan.

Kamis, jam sembilan pagi kami sudah duduk rapi di jok motor siap untuk melanjutkan perjalanan kami lagi. Melewati perbatasan Jerman, masuk wilayah Perancis dan segera melewati tol yang harus dibayar. Keluar pintu tol, singgah sebentar di sudut tempat untuk beristirahat yang disediakan.

Langsung bergegas menuju ke toilet, tapi begitu pintunya saya dorong, uuughhh yach.. batal masuk, kembali lagi ke parkiran motor dan segera dengan tampang manis berkata, "kita cari hutan saja yaa".
Ya, bagaimanapun hutan jauh lebih bersih dan segar!! Hysterical

Dan sejenak kami berhenti di hutan terdekat yang kami temui untuk pipis dan sekalian ngopi.

Tidak lama di jalan tol, segera kami memilih jalan di daerah pedesaan, menyusuri hutan dan perkebunan serta daerah peternakan penduduk. Merambah daerah yang berbukit-bukit, dan melalui kelok-kelok jalan di lembah sepanjang kaki bukit.

Warna-warna dinding rumah selama dalam perjalanan hari ini sangat menarik, beragam warna-warna ceria. Bentuk rumahnya juga sangat beragam, termasuk bagaimana pemilik rumah tersebut merawat rumahnya. Ada rumah yang kelihatan "mengkilat", namun ada juga yang dekil banget, hingga rasanya hanya perlu sentuhan telunjuk untuk meruntuhkan daun jendelanya.

Singgah sebentar di puncak Rocher de Dabo (nama lainnya, Dagsburg) untuk menikmati pemandangan yang terhampar di lembah bawah sana.

Sapinya, unik banget, baru kali ini saya melihat sapi yang bergaris begini.

Berhubung, hari itu adalah hari raya, kami tidak menemukan satu bakeri pun yang buka. Tapi tidak masalah, bahan pengisi perut selalu lengkap dalam daftar bawaan kami. Begitu menemukan sudut piknik yang asik, segera kami membongkar peralatan memasak kami yang simpel dan praktis untu memanaskan air, dan... tararam... dua ABCmie cup segera terhidang untuk makan siang. Enak juga untuk menghangatkan perut.

Perjalanan setelah makan siang dihiasi dengan hujan, dari gerimis tipis sampai hujan deras. Kami sih tetap kering terlindung dalam setelan motor dan helm. Masalahnya adalah setelan motor kami bukan jas hujan yang akan terus kering tanpa terpengaruh basahnya air hujan. Perlahan tapi pasti basah itu akan merembet sampai di bagian dalam, dan itu yang kami hindari. Sebelnya, saban kali hujan posisi kami jauh dari tempat yang bisa dijadikan tempat berteduh, cafe misalnya. Untung saja suhu udara tidak dingin, sehingga walaupun jari-jari saya sudah basah semua, saya tidak sampai menggigil kedinginan.

Walaupun begitu, saat kami memutuskan untuk berteduh pada sebuah kafe yang kami temui, secangkir cokelat hangat terasa super nikmat, mengalir dan menghangatkan tubuh ini dari dalam. Saat saya menengok ke kiri dan kanan, ternyata kafe tersebut hanya penuh dengan para pengendara motor dan sepeda gunung yang berteduh dan melepaskan penat.

Menjelang malam kami menemukan sebuah bed and breakfast di Kaysersberg, kota kecil yang indah di Perancis timur laut, daerah Alsace, dekat pada perbatasan dengan Jerman. Daerah Alsace, dalam bahasa Perancis atau Elsass, dalam bahasa Jerman, dalam sejarahnya sering berpindah tangan antara Perancis dan Jerman.
Kaysersberg merupakan satu dari daerah perkebunan anggur terbaik di Alsace, dan produksi wine tetap menjadi salah satu sektor penting ekonomi kota itu.

Setelah melepaskan penat sejenak, kami berencana untuk keluar mencari makan malam dan sekedar menikmati suasana kota. Namun apa daya, begitu siap untuk keluar, kami dikejutkan oleh cahaya menyilaukan dari luar jendela kamar dan disusul suara guruh yang menggelegar..

Lihat ke luar.. ups.. awan tebal tanda-tanda hujan gede menderu laju memenuhi langit desa. Astaga, malas berbasah-basah, batal deh acara keluar.

Terus gimana acara makan malamnya? Ah tenang saja, persediaan masih banyak, maka menu kami malam itu adalah pasta bolognese instant. Tinggal masukkan dalam air mendidih, dan diaduk selama 8 menit di atas api. Untung kamar kami juga dilengkapi dengan dapur mini dimana kami bisa memasak yang ringan-ringan.

Acara kami selanjutnya malam itu hanya berdiam di kamar karena di luar sedang berlangsung badai ringan.

Jumat pagi, setelah sarapan, sudah tentu acara jalan-jalan mengelilingi kota kecil indah itu. Mumpung masih pagi, turis-turis yang berseliwer pun belum banyak-banyak amat. Dan kami berdecak melihat keindahan kota itu. Rasanya seperti berjalan dalam cerita-cerita romantis abad lampau. Kesan manis, hangat dan romantis melekat kental sekali.

Ah, seolah berada di desa Belle, Beauty and the Beast.

Dan baru sebentar kami barjalan santai, di sekeliling kami mulai muncul para turis, dan tanpa harus menunggu terlalu lama, pusat kota kecil itu sudah ramai. Wah, kalau siang pasti lebih ramai lagi.

Sekitar 2 jam kami habiskan menelusuri Kaysersberg. Belum puas rasanya, namun kami harus melanjutkan lagi perjalanan kami.

Ketika kami kembali ke kamar kami, oleh pemiliknya kami ditawarkan untuk menikmati buah kersen, cherry, langsung petik sendiri dari kebunnya. Hahaha...tanpa basa basi segera kami serbu buah-buah kersen yang merah merekah tergantung menggoda pada cabang-cabang pohon. Coba satu manis... hmmm.. satu lagi... satu lagi... dan satu lagi... dan satu lagi... dan satu lagi... ups.. jangan kalap oi!!! Smiles

Perjalanan lanjut lagi, mengarah ke Schwarzwald.




(Bersambung....)

Tuesday, May 19, 2009

Mimic Brownies

Pada suatu siang yang lowong, gerimis memunculkan niat yang menggebu-gebu untuk membuat kue. Apa hubungannya?
Mumpung ada resep yang baru didapat, Bolu Gula Jawa. Coba saja ahh..

Cek bahan-bahan, gula Jawa, sesuai namanya, telur, terigu, mentega, bumbu spekoek, hazelnut... pfeeeuuh... lengkap, tidak perlu harus nyetor muka di supermarket.

Timbang sana, timbang sini, aduk-duk-duk-duk... siap, masukkan ke oven.
Dan... tarar.. am... (bunyi musik yang keputus) Eyes Poppin
Lho.. lho... ada yang 'gak beres nih. Kok bolunya 'gak ngembang ya??? Astaga... di mana yang salah ya?? Hmm

Tapi... penampakan tetap keren abis, rasanya... hmm.. biar bantet tapi 'gak alot, malah teksturnya nyaris mirip brownies. Nyaris lho ya.
Kalo misalnya 'gak ada pengumuman ini bolu gagal, pasti dikira emang bentuk dan tekstur kuenya demikian.
Haha.. biar gagal, pede aja lagi.
Ya sudahlah, jadi brownies gula jawa saja Cool

Wednesday, May 06, 2009

Gogos *)

*) Gogos merupakan salah satu jajanan khas Ambon. Mirip lemper, tapi lebih ramping dan panjang, dan tidak berisikan daging ayam. Pulut santen berisikan ikan dan dibungkus dengan daun pisang yang kemudian dibakar sejenak.

Seumur-umur saya belum pernah membuat gogos. Biasanya bila lidah sedang ingin mencicipi gogos, tinggal beli. Jajanan ini gampang ditemui di Ambon. Semenjak pindah dari Ambon, saya tidak pernah lagi mencicipi gogos ini. Paling juga dicicipi saat pulang berlibur di Ambon. Sampai minggu kemarin, tiba-tiba saja saya kangen sekali dengan gogos ini. Gila, di Belanda lagi, mau cari gogos di mana?

Ya sudahlah, demi lidah, otak pun diperas mereka-reka rumusan isi resep gogos.
Tengok laci persediaan barang, ah.. masih ada so'un, masih ada santen kalengan, tinggal beli mackarel asap di supermarket. Ah... tak ada kenari, tak apalah tak pake kenari. Jangan lupa, singgah di supermarket asia untuk beli beras pulut dan daun pisang beku. Daun pisang di sini import bow!!

Semua bahan sudah terkumpul, mulai deh bereksperimen di dapur. Olah bumbu, bikin Laksa Garu. Laksa/so'un yang ditumis dengan ulekan bawang merah, bawang putih, cabe dan terasi, dengan suwiran mackarel asap dan santen.
Tanak beras pulut dengan santen hingga matang.
Potong-potong daun pisang hingga pada ukuran yang diinginkan, siapkan potongan-potongan tusuk gigi untuk mengancing bungkusan gogos.
Bungkus gulungan pulut dengan laksa garu di tengahnya, dan bakar hingga harum.

Hmmmm... biarpun bentuknya masih penyet, tapi rasanya sangat tidak mengecewakan!!! Beneran Gogos!!! Muji diri sendiri!! Beneran, puas banget!! Hasil rekaan resep yang jitu!! Cool

Mami, anakmu sudah bisa bikin gogos nih!!!! Thumbs Up

Friday, April 17, 2009

Masih Ingat?

Tom and Jerry, Scooby Doo atau keluarga Walt Disney seperti Donald duck sudah pasti dikenal dan terus dikenang sepanjang masa sebagai film kartun yang kita sukai semasa kecil dulu.

Tapi masih ada yang ingat film-film kartoon di bawah ini?
Saya masih ingat bagaimana dulu saya cepat-cepat membereskan pe-er dan menyelesaikan makan malam (berhubung posisi saya berada dalam WIT) supaya bisa segera duduk manis dan menyaksikan serial favorit ini.

Kum-Kum, cerita tentang anak dari jaman prasejarah, setengah dari serial ini saya saksikan dalam tv hitam-putih. Masih di TK deh, kalau 'gak salah.

Jodie and Fodderwing, saya selalu terpaku pada keindahan gambar yang disajikan. Kilatan butir-butir air, tirai-tirai cahaya ...

Remi, cerita petualangan seorang anak yang sebatang kara dengan kera dan anjing-anjingnya.

Apalagi ya? Ah lupa, setidaknya yang tidak pernah terlupakan ya tiga seri di atas itu.
Masih 'gak ya serial film karton di tv sekarang sekeren film-film di atas itu?

Tuesday, April 07, 2009

Saat kangen melanda...

Kangen sate lilit dan urap-urap yang disantap dengan nasi hangat.
Maka, singsingkan lengan baju, dan bertempurlah di dapur, sambil bagi-bagi tugas.

Dan.... tararam...

Sate lilit ayam, urap-urap yang pedesnya mantap dan nasi hangat... muuuuaaaaahhhh...

Resep sate lilitnya kami contek dari sini.

Thursday, April 02, 2009

Penari


Dan lentik jemari daun pun mengayun gemulai
menyambut hangat sang mentari
Menari....

Thursday, March 26, 2009

Ternyata...Masih Dingin..

Berhubung udara yang cerah selama seminggu penuh, kami jadinya terkena lentekriebels juga, alias kegatelan untuk segera menikmati hari-hari cerah ini sepuas-puasnya.
Jadinya, Sabtu siang, begitu selesai urusan ini itu, segera kami meluncur dengan si kuda besi, motoren, dengan tujuan Zuid Limburg!!! Daerah berbukit-bukit di bagian selatan Belanda.

Ternyata, sejam duduk di atas motor sih masih aman-aman saja, selama matahari bersinar cerah. Tapi setelah satu jam, dan matahari mulai bermain petak umpet, mulai deh kerasa dinginnya. Padahal itu sudah termasuk sweater dan double jaket motor (jaket motor yang bagian dalamnya diberi pelapis extra, untuk daerah dingin).

Dan kalau sudah dingin, apa yang terjadi? Lapar!!! Maka so pasti singgahlah kami di sebuah kedai kentang goreng di daerah Belgia. Belgische friet dengan mayo-nya memang tidak ada tandingannya!!! Apalagi disantap dalam kondisi lapar dan dingin Teethy

Dan saya benar-benar gemetar kedinginan saat tiba di penginapan di Valkenburg sore itu.
Buh.. ternyata suhu udara lebih dingin dari yang saya perkirakan!! Shiver

Malamnya, kami melangkah ke centrum, pusat kota, yang jaraknya hanya kurang dari 10 menit jalan kaki santai dari penginapan, untuk mencari pengisi perut.

Wah.. centrumnya ramai dan gezellig sekali, terutama di daerah restaurantnya. Ada bermacam-macam pilihan di sana. Bingung juga mau pilih yang mana. Akhirnya bukannya memilih berdasarkan menu yang ada, kami malah memilih sebuah restaurant yang dilengkapi dengan perapian yang terlihat begitu romantis dan hangat. Untung makanannya juga tidak begitu mengecewakan.

Dan penginapan tempat kami menginap adalah sebuah villa yang dibangun sejak 1850. Sudah tentu interiornya juga terlihat antik dan juga pojok-pojok ruangan yang dipenuhi oleh benda-benda yang kira-kira seusia dengan rumah tersebut.
Perhatikan saja kursi di ruang makan di atas. Jika saya dapat menggambarkan suasana vila tersebut dengan dua kata, saya akan menyebutnya oldies romantis.

Selesai sarapan, berhubung cuaca minggu pagi yang kelabu, kami memutuskan untuk menghabiskan waktu sebentar berjalan-jalan seputaran di Valkenburg sebelum kembali ke rumah.
Valkenburg, atau bahasa setempatnya Valkeberg, dulunya adalah sebuah kota pertahanan, kota benteng. Dengan mudah kenyataan sejarah itu bisa dilihat dari penampakan kota kecil tersebut. Sisa-sisa dinding-dinding kota yang masih berdiri, reruntuhan kastil, dan meriam-meriam kuno yang tersebar di mana-mana.

Ada banyak kegiatan yang bisa dilakukan di Valkenburg, mengunjungi reruntuhan kastil, menyusuri lorong-lorong bawah tanah bekas daerah pertambangan, bersepeda menikmati keindahan bukit-bukit hijau Belanda, yang terakhir ini dijamin pasti bikin ngos-ngosan, atau sekedar berjalan kaki menikmati daerah centrum, menelusuri sungai atau alam pegunungan di sekitarnya.

Awas, jangan tertipu penampilan bangunan di atas ini. Kelihatannya saja mirip gereja, namun pada kenyataannya adalah restaurant Mediterranean. Mungkin dulunya memang adalah sebuah gereja.

Hahaha... seandainya patung itu adalah manusia asli.... suit... suit... pasti banyak pengemudi dan pejalan kaki yang celaka saat melewati rumah itu!!

Menjelang siang, awan kelabu tebal perlahan-lahan tergeser dan langit biru serta cerahnya mentari perlahan-lahan menguasai langit. Hmmm... tergoda lagi untuk berkeliling dengan motor. Sayang banget kalau langsung pulang.
Ya sudah kami putuskan untuk berkeliling sebentar lagi, menelusuri daerah pertanian sampai ke perbatasan 3 negara.
Hasilnya? Seperti gambar-gambar di bawah ini.


Walaupun menyenangkan, tapi kesimpulan yang jelas, masih terlalu dingin bulan segini duduk di atas motor untuk perjalanan yang jauh. Brrrr...

Wednesday, March 11, 2009

Melodi memori

Ada yang masih ingat lagu ini?

Dulu... duluuu banget, sudahlah tak usah menyebut jumlah tahunnya, jadi syok ingat umur lagi. Pokoknya duluuuuu banget, ada masa saya sangat menyukai lagu ini. Saat masih berseragam putih abu-abu.

Lagu nostalgia jadinya.
Tapi sama sekali tidak ada urusannya dengan pacaran, cinta pertama dan sebangsanya. Suka saja.
Setiap kali dengar lagu ini pikiran jadi terbang, mengembara. Bermain dengan ilusi di benak.
Hutan yang sejuk, warna daun, harumnya hutan, warna senja, hujan rintik-rintik...
Ujung-ujungnya malah ketiduran Hysterical



WARNING: (Berhubung komentar teman-teman yang mengira judul postingan ini adalah judul lagu yang saya maksud).
Judul postingan ini bukan judul lagu yang saya maksud. Judul postingan ini tentang lagu itu. Kalau penasaran, klik saja tombol play di sudut atas kiri tuh.
Ya tepat!!! Bukit Berbunga judul lagunya, yang nyanyi Uci Bing Slamet.

Tuesday, March 03, 2009

Sex on the grass

Ketika jari-jari kehangatan perlahan-lahan menyusup, menyentuh, dan menguak selimut musim dingin, ritme alam tergelitik, terbangun..

Gairah mengusik instink.

Ketika alam berbisik, memanggil untuk mempertahankan speciesnya..
Di situlah mereka menjawab, bergumul, menyatukan benih-benihnya..


Spring is in the air..
Masa bercinta telah tiba.

Monday, February 23, 2009

Tragedi Kura-kura

Adikku, yang tinggalnya dari Denpasar harus ditempuh dengan naik mobil terus naik pesawat yang pakai acara transitnya juga, dan kemudian harus naik mobil lagi, memelihara dua ekor kura-kura sejak beberapa tahun yang lalu. Saat kura-kura itu masih sebesar koin Rp 100 hingga kira-kira sudah selebar permukaan kaleng minuman ringan.

Beberapa saat yang lalu, pada suatu malam, salah satu dari kura-kura ini terlepas dari kandang dan kolamnya. Maka merambahlah kura-kura ini dalam dunia baru di hadapannya.
Keesokkan pagi, sudah tentu, terjadi huru-hara di rumah adikku, semua berusaha mencari kura-kura itu. Hasilnya, nihil.

Tak tahunya, ada dua anak tetangga usia taman-kanak-kanak menemukan kura-kura ini di halaman rumah mereka. Ya namanya juga anak-anak, pikir mereka menemukan kura-kura mungil seperti menemukan kupu-kupu atau jangkrik di halaman rumah. Tidak terpikirkan bahwa itu mungkin adalah hewan peliharaan orang lain.
Beda kalau menemukan anjing misalnya, langsung terpikir anjingnya siapa nih?
Eh... ntar dulu... itu pikiran orang dewasa.
Mungkin kalau pikiran anak-anak, "eh anjingnya lucu, aku mau punya anjing ini, mama".
Kali ya???

Balik lagi ke urusan si kura-kura tadi.
Maka bermain-mainlah kedua anak itu sepanjang siang dan sore dengan kura-kura temuan mereka itu. Hingga menjelang malam, sebelum kedua anak ini harus masuk ke dalam rumah dan tidak boleh bermain di halaman lagi, kedua anak-anak itu melepaskan kura-kura tersebut di halaman mereka. "Nah, kura-kura, kamu pulang ke rumahmu juga ya. Besok kita main bersama lagi."

Nah, si kura-kura itu bebas lagi untuk melanjutkan pengembaraannya di dunia yang luas ini.

Hari berikutnya, pagi-pagi, terjadi kegemparan di rumah seorang dokter, tetangga kedua anak-anak tadi. Mereka menemukan seekor kura-kura di teras rumah.
Bukannya berpikir, "Eehhh ada kura-kura di teras", atau, "Kura-kuranya siapa ya yang terlepas?" Tapi malah berpikir:
"Astaga!!!! Ini artinya jelek!!! Pasti black magic!!! Pasti ada yang berniat jahat pada kita dan mengirimkan guna-guna dalam bentuk kura-kura ini pada kita!!!"
Alamak!!! Yang bener saja seh bu dokter!!! Secara bu dokter gitu lho, yang pola pikirnya, mestinya, rada lebih ngembang. Tapi, ya itu yang pikiran mereka pada saat itu!!! Tanpa diselidiki dengan logis, langsung saja ambil kesimpulan black magic. Ampun deh!!! Doofus

Dan apa yang terjadi??? Sempat lho pakai acara sembayangan segala yang dipimpin oleh seorang pemimpin agama pula dan kemudian.... kura-kura itu pun dibakar!!! DIBAKAR!!!! Perturbed
Yep, kura-kura tak bersalah itu pun dibakar sampai hangus dan dibuang!!!
Ya kalau dimakan namanya sate bulus donk. Tapi.. kalo disate'in juga paling seupil doank dagingnya tuh. Hussss!!!

Demikianlah ujung pengembaraan kura-kura yang berakhir tragis.

Kemudian, siang itu ada dua anak yang sibuk mencari teman baru mereka di halaman rumahnya. Begitu mereka dengar bu dokter membakar seekor kura-kura, proteslah kedua anak itu. "Itu pasti kura-kura kami! Kami kehilangan kura-kura kami. Kura-kura yang kami temukan kemarin di halaman rumah kami!!!"

Kira-kira, gimana ya reaksi keluarga bu dokter itu kalau dia tahu itu kura-kura milik adikku yang kabur dari kandangnya?
Kira-kira ada rasa malu pada dirinya sendiri 'gak sih kalau menyadari kura-kura itu bukan jelmaan guna-guna?
Atau sama sekali 'gak punya perasaan apa-apa?
Apa bu dokter itu punya banyak musuh ya, sampai segitu paranoidnya?

Kalau misalnya yang ditemukan di teras rumahnya tuh anjing, apa dibakar juga ya?Thinking
Mending dibikin erwe tuh, bu.

Aiiiih... kura-kura yang malang....

Turtle Turtle Turtle Turtle Turtle