Mbak Pipin. Saya mengenalnya saat di kelas seleksi, awal inburgerings cursus dulu. Saat itu, beberapa kali mbak Pipin mengeluh soal keram dan nyeri pada perutnya. Kami berpikir, itu hanya keram dan nyeri perut bulanan biasa yang agak parah, apalagi mbak Pipin juga sempat bercerita tentang masalah dengan myoma.
Mbak Pipin pun sempat dirawat di rumah sakit, tak lama setelah kelas seleksi berakhir, karena kondisinya keram perutnya yang semakin memburuk, bahkan mbak Pipin sempat muntah lebih dari 15 kali dalam sehari yang membuat kondisi tubuhnya semakin melemah.
Mbak Pipin sempat bercerita saat di rumah sakit, dia sempat diperiksa oleh delapan dokter kandungan yang berbeda. DELAPAN DOKTER???!!!
Namun sekitar 2 minggu kemudian, pendarahan yang dialami mbak Pipin tidak berhenti, dan keram serta nyeri pada perutnya pun tetap dideritanya. Kondisinya kembali menjadi lemah. Mbak Pipin pun kembali ke rumah sakit. Tak lama setelah berada di rumah sakit, kondisi mbak Pipin drastis memburuk yang membuat dokter yang menangani mbak Pipin memutuskan untuk melakukan pembedahan endoscope untuk melihat apa yang terjadi di dalam rongga perutnya.
Dan, yang terjadi kemudian membuat dokter segera keputusan untuk melakukan pembedahan "besar" dengan tim dokter yang komplit saat itu juga. Mereka menemukan bahwa rongga perut mbak Pipin saat itu sudah tergenang darah. Dan mereka juga menemukan penyebab pendarahan hebat tersebut adalah akibat sobeknya/pecah rahim mbak Pipin. Untuk menyelamatkan nyawanya, rahim mbak Pipin harus diangkat saat itu juga. Dan operasi itu meninggalkan bekas goresan sepanjang 30cm di kulit perutnya.
Dokter yang menangani kasus ini mengemukakan "teori" penyebab pecahnya rahim mbak Pipin ada hubungan dengan myoma yang dideritanya. Dan kasus ini merupakan kasus yang pertama bagi mereka.
Apapun itu, kehilangan rahim bagi seorang wanita merupakan hal yang sangat berat.
Saya tidak akan mengatakan bahwa saya mampu merasakan perasaan mbak Pipin. Hanya dia sendiri yang tahu persis bagaimana perasaannya. Saya hanya tahu bagaimana perasaan saya menyangkut hal ini.
Saya bersyukur bahwa mbak Pipin seorang perempuan yang tegar dan tetap berpikir positif. Tetap yakin bahwa Tuhan punya rencana dalam hidupnya. Dan tetap mensyukuri akan hal-hal yang baik disekitarnya.
"Puji Tuhan semua memberi dukungan dan aku masih diberi kesempatan untuk hidup. It's really amazing that I got all the blessing."
Mbak Pipin sekarang masih dalam masa penyembuhan. Semoga ketelatenan dan kehangatan keluarga calon suaminya merawatnya, apalagi orang tua mbak Pipin sudah di sini, support dari teman-temannya dan doa dari teman-teman semua, membantu cepatnya proses pemulihan kesehatan mbak Pipin.
Mbak Pipin sekarang masih dalam masa penyembuhan. Semoga ketelatenan dan kehangatan keluarga calon suaminya merawatnya, apalagi orang tua mbak Pipin sudah di sini, support dari teman-temannya dan doa dari teman-teman semua, membantu cepatnya proses pemulihan kesehatan mbak Pipin.
Hidup memang penuh warna. Alangkah indahnya hidup jika kita mampu mensyukuri setiap warna yang ada....




4 comments:
wuih, merinding waktu baca rongga perutnya mbak Pipin tergenang darah :(
btw, mbak Pipin-nya udah punya anak blom mbak?
semoga cepat sembuh ya mbak Pipin, rahim, payudara, bagian plg penting yg membedakan wanita dan pria, tp kalo hrs direlakan demi nyawa, jd hrs dilepas :(
beterschap untuk mbak Pipin
++retno
hadduh... ngeri aku mbak... duh, tabah ya teman mbak since ini.. mudah2 an mentalnya kuat dan menjadi lebih sabar. juga keluarganya yach.. untugn mereka datang yach, sakit di negeri orang itu melas banget lo..
wah, merinding aku baca ceritanya... bisa sedemikian parah ya akibatnya?
buat mbak pipin (wah, namanya sama) hidup terus berlanjut, semoga terus tabah dan tegar menghadapinya...
waduh ... mbak pipin ... semoga tabah ya.
aku juga pernah ada myoma, ketauannya justru pas lagi hamil 8 7 bulan anak pertama.
Alhamdulillah tidak terlalu mengganggu. Dan setahub setelah melahirkan anak ke 2, baru aku buang myom-nya.
Post a Comment