Thursday, June 23, 2005

Tugas, Weekend, Baton

Buuuhh.. sepertinya tumpukan tugas-tugas yang mesti saya kerjakan tidak ada habis-habisnya, seolah-olah waktu yang saya miliki setiap harinya kurang. Yah... sangat mudah mencari alasan dan menyalahkan sesuatu di sekeliling jika apa yang diinginkan tidak sejalan dengan yang direncanakan. Padahal saya sudah diberkati dengan 24 jam saban harinya. Dasar, sayanya sendiri yang tidak berhasil mengolah waktu yang saya miliki dengan efisien dan maksimal. Hasilnya, ya.. hasil pekerjaan jadi tidak memuaskan dan masih dikejar-kejar "dead-line" (yang terpaksa mesti dibuat) dari tugas lainnya Annoyed And Disappointed

Well... sebelum otak semakin keriting, mending istirahat sebentar dulu ah sambil nulis di sini.

Hari Minggu kemarin, kami menyempatkan diri mengunjungi "Pasar Malam Besar" di Den Haag. Kebetulan kami berdua juga hendak ke kedutaan hari Senin, so sekalian saja kami nginap di de Kieviet, Wassenaar.

Karena saat tiba di area pasar malam sudah sekitar jam makan siang, langsung saja kami meluncur ke tenda makanan. Kami sungguh memanjakan diri kami, khususnya lidah kami kali ini Goofy Mulai dengan sate kambing, nasi padang, es kelapa muda dan es cendol. Bahkan sebelum kembali ke hotel, kami masih menyempatkan diri kembali ke tenda ini untuk es campur dan tidak lupa martabak telur dan empek-empek kapal selam.

Menyusuri counter demi counter, melihat benda-benda pajangan yang dijual, pengunjung yang beragam, serasa sedang berjalan dalam pasar seni di Sukawati, Bali.
Dan karena kebetulan hari Minggu itu hari terakhir untuk pasar malam, banyak barang yang dijual dengan harga miring. Lumayan, dapat sandal manis, belinya dari pedagang dari Pontianak.
Kami juga sempat mencicipi kopi Luwak. Tidak tahu itu benar-benar kopi "hasilnya" luwak Brows atau hanya sekedar mereknya saja.


counter Kopi Luwak

Kami hanya sebentar di sana, cuaca yang panas, tenda yang tertutup, pengunjung yang ramai, lampu-lampu, benar-benar kombinasi yang sempurna untuk menciptakan sebuah "sauna". Terutama, cuaca seperti itu sungguh sayang jika hanya dilewatkan di dalam tenda.

Dari pasar malam, untuk mengisi waktu, kami kemudian ke Scheveningen, pengen melihat laut. Dan sudah pasti dengan cuaca yang sepanas itu, pantai penuh pengunjung. Kalau sekedar pengunjung sih oke-oke saja, tapi musik yang diputar kencang itu lho, ugh... not for us.


Scheveningen


Bukan cuma manusia yang menikmati pantai (18.29)

Akhirnya kami kembali ke hotel, ngopi dan beradem-adem ria. Malamnya kami kembali lagi ke pantai. Dooh.. ceritanya benar-benar kangen pantai yang sepi nih, terlalu termanja sih dengan pantai-pantai di Ambon, Lombok dan Komodo selama di Indonesia.


Depan, laut, horizon dan sunset (21.32)

Duduk di atas pasir pantai, semilir angin menyentuh kulit, memandang laut lepas dalam cahaya sunset... seperti berada di rumah lagi...
Bedanya, dengan temaram seperti ini kalau di Indonesia masih sekitar jam 18-an, di sini malah sudah hampir tengah malam.


Belakang, bulan dengan dam (22.19)

Besoknya setelah selesai urusan di kedutaan, kami berkeliling sebentar dengan sepeda (sepedanya nyewa di de Kieviet), sebelum balik ke Eindhoven. Tadinya kami ingin bersepeda ke sandbanks, berhubung puanaaasss banget, kami akhirnya memutuskan untuk bersepeda di sekitar Wassenaar saja. Wassenaar sendiri adalah "desa elit" di pinggiran The Haque. Hijau, rindang, indah dan penuh dengan villa yang eksklusif.


Salah satu rute hijau buat bersepeda.

Sayang, sudut datangnya sinar dan cahaya yang terlalu kuat tidak mengijinkan saya bermain dengan kamera mungil saya.
Setelah 12-an km bersepeda, kami singgah sebentar di centrum-nya Wassenaar untuk istirahat dan melepaskan dahaga, sebelum kembali ke hotel menjemput mobil kami.


BATON

Apa itu Baton? Saya sendiri kurang jelas. Yang pasti saya ketiban baton dari Pipin di Vechta. Untung Baton, Pin. Jadi 'gak benjol Smile

Well..
Isi file lagu di komputer? Tidak banyak-banyak amat. Lumayan lah buat pengisi sepi.
CD yang terakhir di beli.. sudah beberapa bulan yang lalu... Ponder hmmm... kalau tidak salah The Best Inspirational Moment.

Lima lagu yang berkesan dan saya suka...

My confession, Josh Groban.
It's kind of song for healing soul, saat saya butuh di tune-up.

When I need you, Leo Sayer (or others).
Ini lagu kami. Lagu yang sangat pas menceritakan bagaimana perasaan kami dulu, saat kangen melanda.
Bahkan di hari pernikahan kami, bos sekaligus juga teman saya, Ben, memberikan sebuah hadiah yang sangat indah pada kami, menyanyikan lagu ini sambil memetik gitarnya.
Sekarang, walaupun kami sudah menikah, ini tetap lagu kami, mengingatkan kami pada saat-saat kami begitu jauh satu sama lainnya.

Nile, Kitaro.
Rasanya seperti mengembara dalam irama..

Saat Kau Tak Di Sini, Jikustik.
Tidak tahu kenapa, suka saja mendengar lagu ini.

If Tomorrow Never Comes, Ronan Keating.
Saya suka sekali kata-kata dalam lagu itu.

Sekarang, batok eh baton-nya saya oper ke Hani, Itha, Nikeyudi dan Ely. Tangkap ya...
Wah... keasikan nulis... jadi lupa lagi sama tumpukan tugasku... Duh Kabur dulu aahhh....

3 comments:

Anonymous said...

mmmhhh...asyik liburannya, lumayan ngobatin kangen masakan indonesia ya....eh, bos su dpt pengganti blum?; ujiannya kumaha, sukses tokh

Hani said...

pengen plecing??? ngidaaaa yaaa??? hahahaha???

bulan purnamanya ciamik euy!!!

jangan lempar aku baton. sumpah aku ndak ngerti. kasih tau dulu baru lempar2an ok dear...hehehe

met wiken ya, salam buat suamimu tersayang

Anonymous said...

weits nginep di wassenaar, liat rumah2 org kaya jd ngayal pingin rumah gede gak mbak ;)

iya, aku juga kangen pantai yg sepi, juga pohon kelapa. duh bangka :(
di sini kayaknya pantai rame bgt, trus suka gak kuat liat org2 pake bikini ato bertelanjang ria, duh, jd ngeliatin org, bukan ngeliat lautnya :p

selamat belajar lagi ya!!

++retno