

Pffeeuuuhhh... liburan yang menyenangkan, tapi juga melelahkan. Bagaimana tidak? Liburan kemarin memang agak lain dari biasanya. Kegiatan liburan kemarin sengaja saya fokuskan pada hobi Reinier,
motor-riding, yang tidak pernah dia lakukan lagi sejak kami menikah. Dulu, sebelum menikah, dia sering melakukan trip-trip panjang dengan teman-temannya, ke Scotland atau ke Switzerland. Saya tahu, diam-diam dia pasti menyimpan kerinduan untuk mengembara dengan motor lagi. Makanya, liburan kali ini special buat dia, setidaknya itu adalah harapan saya.
Awalnya, saat saya mengusulkan untuk melakukan motor trip ke Inggris beberapa bulan yang lalu, dia sungguh meragukan kemampuan saya bertahan dalam menjelajah jarak di atas motor selama seminggu. Dia tidak ingin saya menyusahkan diri saya sendiri hanya untuk menyenangkan dia.
Hohoho.. itu bukan aku, sayang. Kamu kenal aku, kan? Sampai gemas rasanya setiap kali harus meyakinkannya.
Rute perjalanan dan tempat tujuan.Akhirnya, berangkat juga kami ke negeri Lima Sekawan itu. Sabtu pagi kami berangkat dari Eindhoven menuju Calais di Perancis (±300 km). Dari sana kami menyeberang dengan ferry selama ±1,5 jam menuju Dover di Inggris.
Setibanya di Dover, kami terus melanjutkan perjalanan kami menyusuri pantai selatan ke arah barat dan bermalam di sebuah kota kecil, Dymchurch.
Padang Brassica napus dan pantai di Lepe
Rute trip ini terkombinasi antara rute di daerah perbukitan dan juga rute sepanjang pantai selatan Inggris. Kadang kami melewati hutan, lahan pertanian dan padang rumput yang dipenuhi dengan biri-biri, kerbau, sapi dan kuda. Tidak ketinggalan juga ladang
Brassica napus (Koolzaad, bunga yang menghasilkan minyak) yang berwarna kuning menyegarkan. Ada saatnya kami bermotor menyusuri kota-kota tepi pantai dan
boulevard Worthing-Brighton, dan juga menyinggahi kota yang lebih besar, seperti Winchester.
Kami mengendarai motor (maksud saya, Reinier yang mengendarai motor dan saya hanya duduk manis di belakangnya

) melewati desa demi desa, menyusuri jalan-jalan kecil yang kadang landai, terjal dan berliku. Jalan tol hanya dipilih jika alasannya cukup kuat. Pernah, saking
kampungnya itu jalan, kami harus berhenti untuk rombongan ayam yang menyeberang. (Ck..ck..ck.. ayam dengan pengendara kendaraan, ternyata ayam yang mendapat
voorrang, prioritas!!!). Jadi geli sendiri, terbayang di kepala saya, waahh.. kalau di tanah air sudah jadi ayam penyet tuh!!

Rye, kota tua yang menarik dan puing Corfe Castle.
Tidak hanya melulu duduk di atas sadel motor, kami juga mengunjungi
Stonehenge, cuci mata di toko-toko fosil di
Lyme Regis, dan berkeliling di kota tua yang menarik, yang pernah didiami oleh penulis-penulis Inggris,
Rye. Saya suka berkeliling di toko barang antik di Rye. Bukan, saya bukan pemburu atau pengoleksi barang antik. Hanya saja, berada dalam toko-toko ini seperti berada kembali di jaman dulu. Koleksi mereka banyak sekali, mirip sebuah museum.
Berkeliling di desa model
Corfe Castle, berjalan di sepanjang tebing
Durdle Door, menyusuri pantai
Dymchurch saat sunset.
Gereja di Petworth dan Stonehenge.
Hari terakhir sebelum menyeberang balik ke Calais, Perancis, kami sempat mengunjungi
Canterbury. Awalnya ingin mengunjungi
Katedral di sana. Tiket untuk masuk ke kompleks Katedral itu 6£ per orang, kira-kira 9€ per orang, 18€ berdua. Wah.. sayang duitnya. Kalau waktunya cukup untuk mengeksplorasi seluruh sudut Katedral sih tak mengapa, hanya saja kami tidak memiliki waktu yang banyak. Boro-boro melihat isi Katedral, mungkin baru setengah berkeliling halamannya kami sudah harus kembali menuju ke pelabuhan di Dover.
Sebenarnya, saya masih ingin mengunjungi beberapa kastil, bangunan dan gereja tua. Tapi kegiatan itu akan menghabiskan banyak waktu, sementara saya ingin waktu yang ada dalam liburan itu lebih terpakai untuk hobinya Reinier. Ya sudahlah, lain kali, kalau masih berjodoh.
Setiap harinya kami menempuh sekitar 150-200km, kecuali hari pergi dan hari pulang yang masing-masing sekitar 350km. Total jarak tempuh selama perjalanan ini sekitar 1750km. Buhhh... sama sekali tidak terasa!!!
Bed and Breakfast.
Karena kami memiliki rencana yang fleksibel dan sama sekali tidak mengikat diri dengan jadwal yang ketat, melainkan hanya menikmati waktu yang kami miliki dengan bebas, kami sama sekali tidak membuat bookingan hotel di manapun. Di mana kami tiba dan ingin beristirahat, di sanalah kami mencari tempat untuk menginap.
Bed and Breakfast (semacam
guest house) adalah incaran yang ideal. Lebih murah jika dibandingkan dengan harga kamar di hotel, dengan fasilitas yang sekomplit kamar hotel. Bahkan beberapa kamar juga dilengkapi dengan
bathtub, yang tidak pernah kami gunakan. Boro-boro, begitu mencium bau bantal langsung tanpa basa-basi gedubraak.. meluncur ke dunia mimpi.
Bed and Breakfast (B&B) terdapat hampir di semua kota yang kami singgahi. Kadang kami dengan mudah menemukan B&B saat memutuskan sudah waktunya untuk beristirahat. Tapi ada kalanya juga kami harus mencari-cari lebih dulu. Yang pasti kami sama sekali tidak memiliki keluhan terhadap semua B&B yang pernah kami tempati.
Ada yang sebuah kejutan kecil bagi saya. Ternyata di Inggris, kamar mandi dan toiletnya juga berkarpet!!!

Setidaknya 3 dari 6 B&B yang kami tempati melengkapi kamar mandi dan toiletnya dengan karpet tebal selayaknya karpet di kamar tidur.
Makanan dan cuaca.
English breakfast, sudah tentu tidak ketinggalan. Sarapan pagi yang sungguh berat. Dua telur ceplok setengah matang atau orak-arik, sosis, bacon, tomat, irisan jamur, kacang dengan saus tomat dan beberapa potong toast. Buh.. dengan sarapan seperti ini kami sering membiarkan waktu makan siang berlalu begitu saja hingga saatnya untuk
coffee time.
Coffee time bagi kami artinya piknik, berhenti sebentar di tempat yang berpemandangan indah dan tenang, keluarkan perabotan masak-memasak (kompor gas kecil dengan panci mungilnya), seduh kopi, dan... hmmm....
Fish and chips? Sekali saya mencobanya. Tidak, saya tidak menyukai
fish and chips di Inggris. Rasanya yang tidak "menggigit", di samping itu,
Junk food yang hanya memelarkan tubuh.
Yang menarik perhatian saya adalah
Chinese food bisa kami temui hampir di setiap kota kecil. Semuanya dalam bentuk
take away service, bukan restoran. Ada bagusnya juga, tidak perlu menginvestasikan kursi dan meja, dan tidak membutuhkan tempat yang luas dan tidak perlu banyak tenaga kerja.
Kami sempat membeli makanan ini di sana dan menikmatinya di pantai,
dinner on the beach judulnya. Duduk di atas kerikil pantai, mendengar gemerisik ombak, diterangi cahaya sunset dan merasakan semilir angin yang mulai dingin. Asyik dan jauh lebih murah ketimbang makan di restoran.
Dari ramalan cuaca di televisi, kami menyiapkan diri untuk menghadapi hari-hari basah. Pada kenyataannya, sama sekali tidak buruk. Mendung dan sinar matahari silih berganti menghiasi hari-hari kami. Hanya sehari kami sempat disiram gerimis tipis selama hanya beberapa menit. Hujan hanya pada malam hari saat kami sudah terlelap. Hari pertama dalam perjalanan ke Calais, saya hampir beku di atas motor, namun malah pada beberapa hari terakhir saya tidak mengenakan sweater dibalik jaket motor saya karena kepanasan.
Durdle Door dan tebing Beachy Head.Ah.. puji Tuhan, perjalanan liburan ini berlangsung aman dan nyaman. Well.. kadang timbul juga masalah kecil, namun semuanya bisa diatasi. Bukan
adventure jika tanpa masalah, kan?
Sebuah pengalaman baru bagi saya. Menyenangkan!
Masih ada satu masalah... selalu menjadi masalah di ujung liburan, bersih-bersih dan tumpukan PR!! Buuuhh..

Foto-foto yang lain bisa di klik di
sini.