Saturday, November 26, 2005

November's snow

Snowstorm

Salju sudah turun sejak kemarin pagi. Bahkan beberapa tempat juga dilanda badai. Salju seperti ini di bulan November adalah hal yang sangat langkah yang terjadi di Belanda. Menurut berita yang saya baca dari nu dan telegraaf tadi pagi, salju menyebabkan macet sepanjang 90km antara Amsterdam-Den Bosch, dan total macet di Belanda 802km. Wow!!

Saya sendiri? Salju itu indah selama saya tidak perlu bersepeda dan selama saya belum kedinginan Teethy Wajar bukan?


Saturday morning, snow from behind our window.

Tadi siang kami menyempatkan diri berkeliling sebentar untuk "menikmati" salju di sekeliling kami. Kami memilih tempat yang saya sukai, yang juga tidak begitu jauh dari rumah, Ekkersrijt. Reinier sempat bermain bola salju dan membuat boneka salju mini. Saya sendiri lebih memilih bermain dengan kamera saya. Boro-boro bermain dengan salju, tangan saya sudah kedinginan duluan sebelum menyentuh salju.


Saturday afternoon, walking awhile at Ekkersrijt (fishing pond).


Reinier is busy with his sneeuw popje.


Smile under the falling snow. Brrrr... cold...


Het sneeuwt: Falling snow.

Friday, November 25, 2005

Catatan yang masih tersisa dari Pico

Ke mana ya waktu milik saya akhir-akhir ini? Rasanya jam demi jam, hari demi hari, berlalu begitu cepat sementara belum banyak yang saya selesaikan. Saya jadi teringat saat kecil dulu, saya sering mendengar ucapan orang-orang tua yang ada di sekitar saya, mama, tante, tetangga, teman mama, selalu mengatakan, "aah... rasanya semakin hari, waktu semakin cepat saja berlalu."
O-ow...Shocked Apakah ini tandanya saya semakin tua?? Well.. whatever!! Menjadi tua adalah bagian dari proses hidup kan? Pekerjaan akan terus ada selama hidup masih dijalani. Dan waktu yang bergeser akan terus menciptakan pekerjaan dan masalah baru.
Waah.. harus lebih giat dan cekatan nih.. kalau tidak mau makin tinggi tumpukan pekerjaannya.

Dan karena tumpukan pekerjaan itu, urusan blog jadi terlantar. Apa boleh buat. Alhasilnya, babak terakhir dari catatan perjalanan ke Azores baru kali ini diluncurkan, setelah tertunda sebentar karena cerita aanrijding minggu kemarin.
Mudah-mudahan belum basi ya Big Smile

Catatan Perjalanan 4.

Berbekal mobil sewaan dan selembar peta, kami isi hari terakhir sebelum meninggalkan Pico, dengan tour keliling pulau itu.

Kami mengambil rute awal menyeberangi daerah pegunungan, dari Madalena (di sebelah barat laut Pico) menuju Lajes do Pico (di bagian selatan Pico) dan kemudian menyusuri jalan sepanjang pantai di sisi timur dan utara pulau ini.


Pico island.

Pulau yang unik, karena disamping vulkano-nya (mount Pico), pulau ini sendiri terbentuk dari pecahan gunung api. Bisa dilihat dengan jelas, batu-batu yang terdapat di pulau ini adalah batu-batu yang berasal dari perut gunung api. Batu-batu ini disusun dengan rapi sebagai pagar, yang menghiasi wajah permukaan pulau ini, bahkan juga rumah tempat tinggal penduduk setempat.


Volcano stones and sign "board"

Curah hujan yang tinggi membuat pulau ini sangat hijau. Perjalanan kami sendiri seharian itu diwarnai dengan gonta-ganti antara hujan dan cerahnya mentari.


Views around the mountain. Some areas are foggy.

Tidak ada pedesaan yang kami temui selama perjalanan sepanjang daerah pegunungan. Yang ada hanya lahan pertanian dan area peternakan. Lebih banyak sapi yang kami lihat dari pada penduduk setempat yang kami jumpai selama perjalanan di dataran tinggi ini.
Yang uniknya lagi, baru kali ini saya melihat sapi yang keriting.


Pretty Curly

Kami juga melewati beberapa danau/telaga. Kehidupan yang saya lihat di sekeliling danau-danau ini adalah itik yang banyak sekali. Lucu juga memperhatikan tingkah laku itik-itik ini. Ternyata ada superior itik jantan juga (jangan tanya bagaimana saya tahu itu itik jantan ya), yang tidak mengijinkan itik lain mendekati itik betinanya (sekali lagi please, jangan tanya bagaimana saya tahu itu itik betina).


A lake somewhere around volcano and the "locals", uncle Donald's family; ducks.

Hanya memakan waktu sekitar tiga jam untuk menyelusuri jalan sepanjang daerah pegunungan ini, kami tiba di Lajes do Pico. Di kota kecil ini terdapat Museu dos Baleiros, museum tentang Perburuan Paus. Sebuah museum yang kecil tapi cukup lengkap dan menarik.
Mulai dari perahu sampai peralatan berburu dan peralatan untuk "mengelolah" hasil buruan, sampai perkakas-perkakas untuk membuat peralatan pembunuh pun komplit.
Wih... saya merinding juga melihat peralatan-peralatan pembunuh ini Bug Eyed
Pernak-pernik kecil "karya seni" dari tulang cetacean, bahkan sampai fetus/embrio dari perut hasil buruannya juga ada!!!
Sayang, pengunjung tidak diijinkan untuk memotret di dalam museum.


Ribeiras and Lajes do Pico



Sepanjang jalan, baik di gunung ataupun di sepanjang pantai, selain susunan batu hitam vulkanis, bunga tidak pernah sepi dari penglihatan kami. Bermacam-macam bunga, tumbuh liar di permukaan pulau ini. Wah, penggemar bunga dan penggemar berat cetacean pasti betah di sini.


island of flowers

Hari sudah sore saat kami kembali ke Joe's place. Saatnya siap-siap untuk makan malam dan mengepak perabot-perabot kami. Kegiatan yang tidak saya sukai dari rangkaian kegiatan sebuah perjalanan.


Praça do rossio (Rossio square), Lisbon.

Tiba sudah kami di ujung perjalanan kami kali ini. Keesokan paginya dengan menggunakan ferry kami menyeberang ke pulau Faial dan kemudian terbang ke Lisbon. Kami menginap semalam di Lisbon, Portugis, sebelum melanjutkan penerbangan ke Brussel di pagi berikutnya. Sudah pasti malam itu kami isi dengan berjalan-jalan sebentar di Lisbon. Sayang, tidak banyak waktu yang kami miliki di sana, padahal ada banyak sekali tempat-tempat yang menarik untuk dikunjungi.
Next time, who knows..

Tuesday, November 15, 2005

Aanrijding

Inilah wajah sepedaku setelah dicium mobil kemarin No

Kejadiannya kemarin sore saat dalam perjalanan pulang dari Centrum sekitar pukul setengah enam. Saya mengayuh sepeda mengejar lampu hijau yang sedang menyala. Saat berada tak jauh dari lokasi penyeberangan saya melihat mobil yang sedang belok ke kanan memotong jalan di permukaan saya. Dan saya juga melihat mobil itu rem, melambat saat berada tak jauh dari posisi saya. Yang terpikirkan di benak saya adalah si pengemudinya sudah melihat saya dan sedang dalam proses untuk berhenti dan memberikan kesempatan bagi saya untuk terus melanjutkan perjalanan saya (karena saya berada pada posisi prioritas).

Ternyata dugaan saya salah!!!! Mobil itu tidak berhenti, hanya melambat, dan terus melanjutkan perjalanannya. Bisa ditebak kan apa yang terjadi kemudian? Ya, tepat. Tabrakan!!!
Astaga!!!! Dan kemudian semuanya seperti sebuah adegan gerakan lambat bagi saya, saat mulai terseret mobil sampai oleng terjatuh dan berakhir di atas aspal dan tertimpah sepeda saya, kemudian mencoba berdiri dan ditolong oleh seorang wanita setengah baya untuk bangun berdiri dan dua orang wanita yang lebih muda membantu mengangkat sepeda saya dan menyandarkannya di tiang traffic light. Rupanya mereka berasal dari mobil di belakang mobil yang menabrak saya. Wah.. terharu juga saya ditolong seperti itu oleh orang-orang yang tidak saya kenal.

Setelah tersadar dari shock sesaat, saya mulai memeriksa sekujur tubuh saya, kalau-kalau ada cidera yang saya alami. Puji Tuhan!!!! Tidak ada rasa sakit serius yang saya temukan pada tubuh saya. Hanya beberapa lecet kecil dan memar di lengan dan lutut saya dan rasa ngilu pada otot bagian atas perut saya (mungkin karena terhantam setang kemudi sepeda) dan otot pada lengan dan bahu saya (saya duga karena terhantam aspal saat jatuh).

Untung juga bapak yang menabrak saya adalah seorang yang bertanggung jawab. Dia segera menelpon polisi untuk melaporkan kejadian tabrakan ini dan melakukan semua prosedur yang dibutuhkan sampai pada pengisian formulir kerusakan untuk asuransi. Seandainya bapak ini tidak bertanggung jawab... wah... tentunya saya yang kalang kabut sendiri dan sudah pasti bingung apa yang harus saya lakukan? Saat sadar 100% pun mungkin saya masih bingung menentukan langkah-langkah yang harus saya lakukan (maklum saja, saya belum berpengalaman dalam hal kecelakaan lalu lintas seperti ini, baik di Indonesia ataupun di sini). Apalagi dengan kondisi yang masih shock... pasti saat itu yang hanya bisa saya lakukan adalah menelpon Reinier.

Ujung dari peristiwa ini, daripada harus mencari dan membahas salah dan benar, lebih baik saya memetik nilai dari pelajaran yang "mahal" ini. Walaupun saya berada pada posisi prioritas di jalan pada saat itu, sebaiknya saya lebih berhati-hati lagi. Dan saya harus yakin bahwa semua perabot pada sepeda saya bekerja dengan baik, karena kata bapak itu lampu sepeda saya tidak menyala, itu sebabnya dia tidak melihat kedatangan saya. Padahal menurut saya, saya sudah menyalakan lampu sepeda saya, hanya saja saya tidak menaruh perhatian jika lampu saya bekerja atau tidak.
Apakah itu benar atau tidak, bahwa dia tidak melihat kedatangan saya karena lampu saya tidak bekerja, atau bahwa dia sebenarnya tidak memperhatikan kedatangan saya karena sebuah kealpaan bukan hal untuk diperdebatkan lagi sekarang. Pokoknya harus lebih hati-hati lagi!!!!

Saya bersyukur bahwa semua berakhir dengan baik. Saya bersyukur bahwa Reinier dapat segera menemani saya saat itu setelah menerima telpon dari saya. Saya bersyukur bahwa saya tidak berakhir di kolong mobil, atau di rumah sakit. Saya bersyukur bahwa secara fisik saya tidak mengalami hal yang serius. Saya bersyukur bahwa saya masih menikmati makan malam yang hangat di rumah kami dengan orang yang saya kasihi malam ini. Saya bersyukur bahwa saya... Saya juga bersyukur untuk pelajaran dari kecelakaan ini.

Hanya ada seper sekian detik untuk benar-benar ditabrak daripada hanya sekedar "diserempet".

Ada perbedaan yang besar antara aman dan celaka, tapi hanya ada yang perbedaan yang sangat tipis antara kecelakaan kecil dan kecelakaan serius.

Semoga teman-teman juga dapat memetik pelajaran dari peristiwa kecelakaan saya ini.
Dobel berhati-hati adalah jauh lebih baik untuk nilai sebuah keselamatan.

Friday, November 11, 2005

Pico: Whale "hunting"

Catatan Perjalanan 3.

Love You A Ton

Azores pernah menjadi salah satu central perburuan paus hingga pada tahun 1980-an. Saat ini Azores masih menjadi salah satu daerah "perburuan" utama, tapi bukan lagi untuk membunuh, melainkan untuk menyaksikan hewan yang berukuran raksasa ini dari jarak yang relatif dekat.

Tugas para vigia (petugas pengamat paus) masih tetap sama, terus mengarahkan binocular mereka sepanjang horinsontal dari pos-pos mereka di darat, mencari jejak paus di permukaan laut dan mengarahkan perahu-perahu menuju tempat dimana paus muncul di permukaan melalui radio. Hanya saja tujuan penumpang perahu yang mereka bimbing yang berubah, posisi para pembunuh paus digantikan oleh para pemburu gambar dan penonton cetacean.

Jadi, tidak setiap hari ada tour untuk whale watching. Tour hanya berlangsung jika para pengelola tour ini menerima kabar positif dari para vigia tentang posisi/daerah kemunculan paus. Jika kabar dari vigia negatif, artinya tidak ada tour.
Dan tentu saja juga dengan pertimbangan ekonomis, berapa jumlah peserta pada hari tersebut. Jika jumlahnya tidak bisa bikin profit, sudah tentu juga, tidak ada tour.

Alhasilnya kami harus benar-benar fleksibel, karena kami tidak memiliki rencana pasti apa yang akan kami lakukan pada keesokan hari, mungkin 2 kali penyelaman, mungkin whale watching kemudian menyelam atau mungkin menyelam dulu kemudian whale watching. Apa yang akan dilakukan pada hari itu hanya baru diketahui setelah jam 9 pagi pada hari tersebut.


1. The boat from Pico sport; 2. I feel like an humback whale with this poncho and the bouyancy jacket; 3. When the sea is calm and no so many people on boat, we can a little bit naugthy to feel free without bouyancy jacket and poncho.

Dua kali kami ikut serta dalam Whale Watching Tour ini.
Kali pertama, ada 12 peserta. Penuh dan sesak perahunya. Apalagi semua orang yang ada di perahu diwajibkan mengenakan jaket pengapung. Dan jika laut sedang tidak bersahabat alias bergelombang, peserta juga diwajibkan mengenakan poncho pelastik supaya tidak basah, karena kadang-kadang bukan hanya percikan air yang kami terima saat gelombang menghantam perahu, melainkan benar-benar siraman gelombang. Basah kuyup dengan air laut yang dingin ditambah terpaan angin yang juga dingin, tanpa poncho beku sudah kami di perahu.

Tapi kok ya, saya merasa seperti humback whale dengan perabotan pengapung dan pancho ini. Jadi tidak bebas bergerak. Tapi sudahlah dari pada mengigil beku kan? Lagian kalau ada kecelakaan atau jatuh ke laut, setidaknya jaket pengapung ini bisa menyelamatkan jiwa saya. Seberapa mampu sih manusia bertahan tanpa kelelep di air sedingin itu?

Sayangnya dalam trip pertama kami belum beruntung. Setelah 3 jam berkeliling, tidak satupun paus yang kami temukan. Padahal menurut boatman-nya, mereka menerima kabar dari vigia tentang keberadaan paus di daerah tersebut beberapa jam yang lalu.
Kami sempat bertemu dengan rombongan lumba-lumba dari jenis hidung botol (bottlenose dolphins). Sayangnya juga rombongan lumba-lumba ini hanya melintas tanpa ada adegan akrobatik. Dan seperti yang sudah saya duga sebelumnya, semua orang di atas perahu berlomba-lomba mengabadikan lumba-lumba ini lewat kameranya. Bayangkan saja kalau 12 orang di boat, hampir semuanya tumpah ke satu sisi di mana lumba-lumba itu muncul... Doofus wah... malas sudah ikut-ikutan berdesak-desakkan di sana.


Cetacean *)

Saat persiapan awal sebelum menuju ke perahu, saya sempat melihat beberapa orang menyiapkan peralatan mereka untuk snorkling dengan rombongan lumba-lumba ini. Tapi rupanya mereka semua sudah cukup kedinginan untuk meloncat ke laut.

Peraturan dari pemerintah Portugal yang mengatur sampai batas mana manusia bisa berinteraksi dengan cetacea. Seperti misalnya, penyelaman dengan scuba di sekitar cetacea tidak diijinkan (Untuk penyelaman di sekitar paus dibutuhkan sekitar 3 bulan untuk mengurus ijinnya). Snorkling hanya diijinkan di sekitar lumba-lumba. Tidak ada snorkling di sekitar paus.
Jarak antara boat dengan rombongan cetacea tidak boleh kurang dari 50 meter, dll.


Scenery along whale watching trip. Looks like "terasering" padi field in Bali, doesn't it?

Walaupun bisa dikatakan trip ini "tidak berhasil" dan beberapa orang tampak kecewa, saya sendiri asik-asik saja. Toch tidak pernah ada garansi untuk bisa melihat hewan-hewan yang bebas lepas di alamnya. Lagi pula saya menikmati kesempatan untuk melihat sisi lain dari pulau Pico ini dan pemandangan lainnya yang indah. Horison dengan awan dan matahari, pulau karang di tengah laut... Dan juga saya menikmati berperahu itu sendiri, walaupun harus berakhir dengan sakit pada otot paha dan pantat saya Lol


Who can reject such beauty? Standing rock, a cape of Pico island and beauty from water, sun and sky.

Pada trip kedua kami lebih beruntung, hanya ada 6 peserta sehingga tentu saja ruang gerak menjadi lebih luas dan leluasa dan toleransi antar peserta lebih pekat. Kondisi laut juga lebih tenang dan... kali ini kami melihat serombongan paus. Sperm whale.
Sudah sering saya melihat paus di laut-laut Indonesia selama bekerja di kapal. Bahkan saya juga pernah melihat paus di dalam teluk Ambon saat sedang berada di atas ferry menuju ke kampus. Tapi baru kali ini saya melihat paus sekaligus dalam jumlah yang besar. Wow!



Saya mencoba untuk membuat foto ekornya saat paus tersebut mulai menyelam, seperti yang ada pada foto-foto di postcard. Tapi saya selalu terlalu cepat atau telat!!!! Pouty aaaahhhh!!! Sebeeel!!!! Hasilnya dapat satu, tapi "out of focus". Sama aja bo'ong kan? Crying 2
Kami semua menunggu-nunggu adegan meloncat dari paus-paus ini. Tapi sayang rupanya belum jam-nya untuk aerobik.

Dalam perjalanan balik kami tidak menemukan satu lumba-lumba pun. Hmmm sepertinya mereka mengatur giliran pemunculan deh. Well, setidaknya trip kali ini tidak "gagal" kan?


Madalena town

*) Gambar cetacean diambil dari acsonline dan mzoo.

Sunday, November 06, 2005

Diving around Pico

Catatan perjalanan 2

Saat melihat posisi Azores di atlas, pulau-pulau kecil di tengah samudra Atlantik, yang terbayang di benak saya adalah pengalaman penyelaman yang memukau, yang sudah pasti berbeda dengan pengalaman menyelam perairan tropis.

Namun kenyataan yang kami temui pada dunia dalam air sana tidak seperti apa yang saya bayangkan. Dunia bawah lautnya lebih di dominasi oleh batu-batu besar dari perut gunung api. Landscape dalam airnya hampir "seragam", di sini batu, di sana batu Smile
Kebanyakan lokasi penyelamannya cenderung datar, berpasir dengan bongkahan-bongkahan batu besar di sekitarnya. Namun ada juga lokasi yang bergoa-goa. Dan landscape yang menurut saya paling menarik adalah di sekitar "standing rock", sebuah batu yang besar dan mencuat dari dasar laut, berada tak jauh dari pelabuhan di Madalena. Lorong-lorong antara batu dan alur-alur yang tercipta pada dinding batu membuat tempat ini lain dari tetangga-tetangganya.


Underwater landschape around Pico; rocks, cave and rocks alley at Standing Rock.

Menurut saya, ikan-ikan di sekitar Standing Rock ini juga lebih bervariasi dari tetangga-tetangganya.
Tidak banyak species biota laut yang kami temui di sini. Ikan, kepiting, dan kawan-kawannya. Bahkan dalam 9 kali penyelaman ini, saya hanya menemukan satu ekor teripang!!! Nudibranch? Sebelumnya saya sempat melihat beberapa foto nudibranch yang ada di sekitar Azores di internet, namun saat kami menyelam di sana, tidak satupun yang tampak!!! Pouty
Saya tidak tahu, mungkin kami memilih musim yang salah untuk menyelam di sini? Thinking
Sementara beberapa species sangat berlimpah keberadaannya. Tidak satu kali penyelaman pun tanpa mereka. Seperti scorpion fish dan fire worm di foto bawah ini. Kalau boleh menggunakan sedikit gaya hiperbola, maka saya akan mengatakan hampir setiap jingkal jari saya ada mereka. Sementara kepiting ini juga berada hampir di setiap sisi batu yang agak gelap dan terlindungi.


Scorpion fish, fire worm and crab, they are so famous in underwater there, hundreds!!

Kami melakukan penyelaman hanya di sekitar pulau Pico. Beberapa lokasi kami capai dengan menggunakan mobil, beberapa dengan menggunakan boat. Laut pun tidak bisa ditebak. Kadang tenang seperti kaca, tetapi lebih sering dengan gelombang yang bisa bikin mabok dan hantaman gelombang yang keras di tepi pantai, yang rata-rata berdinding karang.
Visibility sangat tergantung pada kondisi air. Jika sedang tenang bisa crystal visibility (jarak pandang yang sangat jelas dan jauh sekali). Namun jika air sedang "goyang", visibility-nya "hanya" berkisar 15-20 meter.


Reinier in action under water and schooling fish.

Kadang-kadang jika laut sedang tidak bersahabat, kami menyelam di area sekitar pelabuhan yang terlindung. Awalnya, saat diberitahu kalau kami akan menyelam di area pelabuhan di Rebeiras, salah satu desa di pesisir tenggara Pico, yang terpikirkan oleh saya adalah, "Astaga.. daerah rawan "ranjau" deh!!!" Bug Eyed Maklum saja, kesimpulan dibuat berdasarkan pengalaman di negeri sendiri Blushy hehehe... Tapi ternyata saya salah!!!! Pelabuhannya bersih sekali!!! Pokoknya tidak ada sedikit keraguan pun untuk terjun ke air.


They were always around us underwater.

Satu-satunya karang yang saya temui dalam 9 kali penyelaman ini adalah sebuah polip tunggal setinggi kira-kira setengah centimeter. Menurut dive guide kami, koral bisa kami temui pada kedalaman yang lebih dari 30m. Tipikal koral air dingin, yang hidup pada kisaran suhu 4°-13°C pada kedalaman sekitar 40 meter sampai lebih dari 1000 meter!!!! Wow!!!

Sebenarnya menarik juga, tapi saya lebih memilih untuk menghabiskan waktu selama penyelaman pada daerah yang tidak lebih dari 20m. Ada beberapa alasan untuk tinggal pada daerah yang "dangkal" ini.
Pertama, karena saya hanya membawa wetsuit saya yang 7mm, cukup untuk "bertahan" pada temperatur air minimal 17°C. Setidaknya 17° bagi saya sudah cukup bloody cold Shivering Sementara kalau Reinier dengan wetsuit setebal 7mm, dia masih mampu bertahan di temperatur sedingin 14°C. Waahhh.... 'gak janji deh, bisa jadi es batu saya di 14°C.

Alasan kedua adalah jika saya turun lebih dalam maka waktu penyelaman saya akan menjadi semakin pendek dan resiko saya harus melakukan decompression stop menjadi lebih besar. Brrr... 'gak janji deh jika harus melewatkan "waktu tambahan" untuk deco stop dalam temperatur air yang bikin gigi gemeletuk.
Lebih mengasikkan bagi saya untuk mencari-cari "korban" bagi kamera saya tanpa harus terlalu kuatir akan melewati batas waktu penyelaman tanpa decompressi.


Moray eel, they are so common around Pico's water. In the holes, in between rocks or just swimming freely around, try to catch their prey.

Temperatur air laut sendiri di sekitar Pico saat itu berkisar 19°C. Rasa dingin yang menyengat hanya terasa pada menit-menit awal, sebelum tubuh beradaptasi dengan suhu air di sekitar. Saya tidak bermasalah dengan temperatur air ini, dan sejujurnya saya bahkan menikmati saat-saat berada di dalam air.

Tapi yang paling tidak saya sukai adalah saat setiap kali hendak melakukan penyelaman kedua (kami melakukan 2 kali penyelaman setiap harinya). Saat harus kembali memakai swimsuit dan wetsuit yang basah dan dingin. Brrr... belum juga terjun ke laut, saya sudah menggigil duluan. Ditambah lagi jika sedang hujan dan berangin... Waaah... maka lengkaplah penderitaankuShiver

Namun demikian, jika masih ada kesempatan, ada keinginan saya untuk kembali ke Azores suatu saat nanti saat musim panas. Penasaran sih dengan kondisi biota lautnya, antara apa yang saya temui langsung dengan apa yang saya lihat lewat foto-foto di website.
Dingin sih kalah sama rasa penasaran yang ada Smile

Tuesday, November 01, 2005

Azores; Pico, Madalena.

Yuupiiii... Akhirnya ada waktu untuk menulis lagi Spaz
Setumpuk PR, perjalanan saat liburan musim gugur, ujian sekolah dan tugas lainnya sungguh merupakan paduan yang sempurna untuk menghabiskan waktu. Liburan sih menyenangkan, tapi... urusan PR dan ujian plus tugas ekstra itu lho...
Pfeeeeuuuhhh...Phew setidaknya bisa lega untuk sementara waktu sebelum tugas-tugas berikutnya.


Catatan Perjalanan 1

Azores, kepulauan hasil letusan gunung api di samudra Atlantik di sebelah barat Portugis, menjadi pilihan kami untuk melewati liburan musim gugur yang lalu. Untuk diving dan whale watching Roll
Dari 9 pulau yang terdapat di kepulauan ini, Pico adalah tujuan kami. Alasannya sederhana, karena Pico Sport Lda, dive center dan juga Whale wacthing base yang kami hubungi berlokasi di pulau Pico.



Perjalanan menuju Pico cukup melelahkan, terutama karena kami harus transit di beberapa tempat; Lisbon, Ponta Delgada dan Terceira, sebelum tiba di Pico, akibat perubahan jadwal penerbangan dari jadwal semula. Tapi tak mengapa, karena kami jadi memiliki kesempatan untuk melihat dan menikmati keindahan pulau-pulau lain, Sao Miguel dan Terceira, walaupun hanya dari ketinggian. Sete Cidades di Sao Miguel ini misalnya.


Lagoons of tears, Sao Miguel.

Sete Cidades (tujuh negeri) atau dikenal juga sebagai lagoons of tears ini memiliki legenda kisah cinta terlarang dari dua anak manusia, yang terpisahkan karena status. Cinta seorang putri raja dengan seorang pemuda pengembala. Danau ini terbentuk oleh air mata mereka yang terus mengalir saat mengucapkan kata-kata perpisahan Crying 2 Danau yang biru, berasal dari air mata sang putri yang bermata biru dan danau yang hijau berasal dari air mata si pengembala yang bermata hijau.

Ah ya, ada juga hal yang menarik bagi saya selama perjalanan menuju Pico ini. Mulai dari Lisbon, kami selalu sepesawat dengan team sepak bola yang berbeda-beda setiap kali transit. Mouth At Side Pertandingan antar pulau???

Hari sudah sore saat tiba di Pico. Airportnya kecil, mengingatkan saya pada airport di Labuanbajo. Kami dijemput oleh Frank, pemilik Pico Sport dan diantar ke Joe's Place, tempat dimana kami menginap di Madalena. Dalam perjalanan ke Madalena, laju mobil menjadi semakin tidak mulus, dan berakhir dengan "g'lutuk..g'lutuk... g'lutuk.. mobilnya meluncur terpincang-pincang. Ternyata bannya kempes. Astaga bannya juga ternyata botak habis boo!!!! ShockedBenar-benar gundul!!! Bingung juga sih, kok bisa ya ban itu bertahan sekian lama? Ponder Bosnya kan gede boanget!!! Itu ban seharusnya sudah lama pensiun, atau bahkan sudah bisa digantung di dinding museum. Wah.. benar-benar deh.
Sungguh tidak bijaksana Annoyed And Disappointed Apalagi dengan kondisi Pico yang agak berbukit-bukit, beberapa jalan dengan kinderkopjes dan dengan curah hujan yang tinggi.

Ya, curah hujan di sini tinggi sekali. Ada istilah "four season of the day" (tanpa salju tentunya) untuk cuaca di Azores. Cuaca di sini tidak bisa ditebak dan cepat sekali berubah-rubah. Tingkat kelembaban pun tinggi sekali di sini. Baju yang basah butuh setidaknya 2 hari untuk kering, itupun dengan meninggalkan bau yang tidak enak Sickened


Madalena town

Madalena sendiri adalah sebuah kota kecil, dan tempat kami menginap tidak jauh dari "pusat kota" dan Pico Sport base (kira-kira 800 m). Namun 400 meter menuju Joe's Place adalah jalan mendaki. Lumayan juga berjalan kaki setiap hari bolak-balik antara penginapan dan pusat kota/Pico sport base, apalagi tanjakan menuju Joe's Place. Angkutan umum? Ada. Bis, tapi antar kota/desa. Taksi juga ada, bisa dihitung pakai jari. Sewa mobil? Bisa, tapi tekor juga kan kalau hanya untuk naik turun 2 kali dalam sehari. Wah... jadi berandai-andai... andaikan saja ada ojek di sini...


Madalena town

Ada beberapa hal unik yang kami temui di Pico ini. Misalnya, mobil yang tidak pernah dikunci saat diparkirShocked Waahh... kalau di sini sudah "terbang" itu mobil. Pernah juga kami masuk ke toko yang dibiarkan terbuka tanpa ada yang menunggu. Demikian juga dengan internet cafe-nya. Bahkan beberapa kali kami "break" untuk makan siang dan membiarkan peralatan selam kami tergeletak begitu saja di dermaga tanpa ada yang mengawasi. Wow!!! Saya angkat topi untuk kenyataan ini. Way To Go

Dan, restaurant di sini sepertinya hanya beroperasi saat musim panas. beberapa restauran yang kami kunjungi tutup melulu. Yang ada hanya snack bar yang kebanyakan hanya menyajikan sup, sandwich dan sebangsanya. Ada 2 snack bar yang cukup memadai dengan hidangan yang lebih bervariasi yang kami temui. Yang terbesar, Warung Tenda (saya lupa nama aslinya), di depan dermaga dan snack bar favorite kami "Golfinho" (yang pada kenyataannya lebih dari sekedar sebuah snack bar. Golfinho lebih merupakan sebuah restoran kecil).


Golfinho, our favourite restaurant.

Bisa dikatakan kami selalu makan malam di Golfinho. Wine yang mereka sajikan benar-benar yummy!!! Wine khas Azores. Dan, kami juga menyukai atmosfir di Golfinho, gezellig.
Menu khas Portugal yang saya sukai adalah Francesinha, sandwich isi komplit dengan saus berbahan dasar tomat dan bier. Awalnya sih sekedar coba-coba, ternyata enak juga, sampai lupa bikin fotonya.


Fishing

Gambar di atas saya ambil saat sedang berada di dermaga. Memancing merupakan juga sebuah rekreasi bagi penduduk di sini. Mengamati kegiatan para pemancing ini seru juga. Mereka tidak perlu menunggu lama hingga ikan terjerat kailnya. Hanya butuh beberapa sekitar 10 - 20 detik setiap kalinya. Seru kan?? Bayangkan saja, dalam setengah jam memancing sudah bisa pesta. Walaupun ikan yang diperoleh adalah ikan-ikan yang berukuran kecil. Kayaknya enak juga tuh digoreng kering Yowza hmmm...

Ah ya, kalau di Belanda saya tidak "aneh" mendengar beberapa kata yang sering kita pergunakan di Indonesia yang dipergunakan juga dalam bahasa Belanda. (350 tahun bukan waktu yang pendek untuk saling "berbagi" bahasa, bukan?).
Dan, walaupun saya tahu beberapa kata dalam bahasa Indonesia juga berasal dari bahasa Portugis, toch tetap rasanya aneh mendengar kata-kata tersebut dipergunakan di sana.
Atau, justru saya sendiri yang aneh ya?? Hmm hahaha...

Beberapa kata tersebut misalnya; meja (mesa), bendera (bandeira), jendela (janela), kemeja (kamisa), keju (queijo), mentega (mantaiga), gereja (igreja), dan yang pernah saya dengar di Ambon; topi/capeu (chapéu), kursi/kadera (cadeira).